Belakangan, Banyak Pastor Ingkar

Belakangan, Banyak Pastor Ingkar. Masalah selibat imam Kristen merupakan isu yang menyebabkan publikasi sebuah dokumen Vatikan tertunda. Dokumen itu memungkinkan kelompok-kelompok Anglikan masuk dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik Roma.

Congregation of the Doctrine of Faith (Kongregasi Ajaran Iman) bermaksud mempublikasi konstitusi apostolik itu – sebuah dokumen untuk menetapkan atau mengesahkan undang-undang – demikian siaran pers Vatikan 20 Oktober lalu.

Namun, William Kardinal Levada, prefek kongregasi itu, mengatakan waktu itu bahwa sejumlah isu masih perlu dijelaskan sebelum dipublikasi. Menurut pertimbangannya, dokumen itu akan dipublikasi beberapa pekan mendatang.

Uskup Agung Augustine Di Noia, mantan Wakil Sekretaris CDF dan kini menjadi Sekretaris Kongregasi Ibadat Ilahi, mengatakan kepada UCA News setelah siaran pers itu bahwa “sejumlah persoalan kanonik masih perlu diselesaikan” sebelum dokumen itu dipublikasi.

Kini menjadi jelas bahwa salah satu masalah itu adalah selibat. Dalam situasi yang baru dengan dibentuknya “personal ordinates” yang sama seperti keuskupan, imam-imam Anglikan yang menikah dapat menjadi imam Katolik yang menikah.

Ada lebih dari 100 mantan “imam” Anglikan yang menikah di Gereja Katolik di Wales dan Inggris yang berfungsi sebagai imam Katolik.

Tetapi pertanyaan muncul, apa yang akan terjadi setelah “fase transisi,” setelah umat Anglikan disatukan ke dalam Gereja Katolik. Dapatkah para seminaris atau para pemuda dalam struktur kanonik yang baru menjadi imam-imam Katolik tanpa harus selibat? Dengan kata lain, dapatkah mereka menjadi imam yang menikah dalam Gereja Katolik?

Dalam siaran pers 20 Oktober, Kardinal Levada tampaknya tetap membiarkan kemungkinan ini terbuka. Dia bahkan mengusulkan agar masalah itu diselesaikan berdasarkan “kasus demi kasus.”

Sejak itu, beberapa uskup – mencakup beberapa yang berbicara dengan UCA News – mengungkapkan keprihatinan menyangkut hal ini. Mereka percaya, ini juga akan secepatnya membuka pintu bagi Gereja ritus Latin untuk memiliki imam yang menikah.

Kini tampak bahwa Paus Benediktus XVI juga tidak senang dengan kemungkinan ini, demikian berita 29 Oktober dalam harian berbahasa Italia, “Il Giornale.”

Sebuah berita berujudul (Imam Menikah: Paus Tidak Menyukai Kesepakatan dengan Anglikan itu -- Married priests: The Pope does not like the agreement with the Anglicans) yang menjadi headline di harian itu menyatakan, teks konstitusi apostolik itu akan diperiksa oleh Dewan Kepausan untuk Interpretasi Teks Legislatif. Hasilnya, tampaknya para seminaris dari “personal ordinariates” akan diharuskan menerima selibat, seperti seminaris ritus Latin jika mereka ingin menjadi imam Katolik Roma.

Pembahasan-pembahasan untuk ketetapan baru dari Paus bagi umat Anglikan untuk bersatu dengan Gereja Katolik telah berlangsung sedikitnya 18 bulan sebelum siaran pers itu diadakan.

Namun, CDF tidak berkonsultasi dengan satu konferensi waligereja yang terkait, walaupun anggota tiga konferensi yang berbeda -- Inggris dan Wales , serta Australia dan Amerika Serikat- dimintai pendapat, “namun hanya dalam kapasitas personal.”

Menjelang siaran pers 20 Oktober, Kardinal Levada terbang ke Inggris untuk berbicara dengan para uskup Katolik Inggris dan Wales tentang isi konstitusi apostolik itu. Dia juga berbicara dengan pemimpin utama Anglikan, Uskup Agung Williams dari Canterbury .

Kini menjadi nyata bahwa banyak orang di Vatikan dan -- menurut “Il Giornale” -- juga Paus Benediktus, lebih senang bahwa berita itu tidak dipublikasi sampai konstitusi apostolik itu diselesaikan.

Dokumen itu akan diterbitkan bersama dengan sebuah dokumen lain yang membeberkan aturan praktis implementasi konstitusi itu.

Sementara itu, teolog pembangkang asal Swiss, Pastor Hans Kung, menyerang Paus atas keputusannya berkenaan dengan umat Anglikan.

Dalam suatu artikel yang diterbitkan di harian Inggris “The Guardian” dan di harian Italia “La Repubblica,” Kung menuduh bahwa “tindakan Roma jelas merupakan suatu perubahan dramatis.”

Dia mengatakan, Roma menyimpang dari “strategi ekumene yang terbukti baik berupa dialog langsung dan pemahaman yang jujur” dan mengarahkan gereja ke “suatu bujukan yang tidak ekumenis terhadap para imam Anglikan, bahkan melonggarkan aturan selibat abad pertengahan untuk menarik mereka kembali ke Gereja Katolik Roma.”

Vatikan menjawab dengan halaman depan bagian editorial dalam hariannya “L’Osservatore Romano,” yang menyesali “kebohongan-kebohongan” dalam artikel tulisan Hans Kung dan menuduhnya memutarbalikkan dan salah menafsirkan tindakan Paus yang ingin “mengatur kembali persatuan yang diinginkan Kristus” sambil “mengakui perjalanan ekumene yang lama dan membosankan.”

Editorial Vatikan itu mengutuk artikel itu sebagai “suatu serangan membabi-buta terhadap Gereja Roma dan komitmen ekumene Gereja Roma yang tak teragu.”

Klarifikasi

Beberapa saat lalu, Vatikan meminta para seminaris dari komunitas-komunitas Anglikan yang bergabung dengan Gereja Katolik berdasarkan ketentuan baru dari Paus, akan dituntut mengikuti aturan selibat, kata pemimpin kantor doktrinal Vatikan.

Namun, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Kantor Pers Takhta Suci pada 31 Oktober, William Kardinal Levada, prefek Kongregasi Ajaran Iman, tetap membuka kemungkinan bahwa bisa saja ada kekecualian menyangkut ketentuan ini.

"Menyangkut para seminaris masa depan, masih murni spekulatif apakah ada kasus-kasus di mana dispensasi dari selibat bisa diajukan,” kata Kardinal itu.

Sebagaimana diketahui, larangan para pastor untuk berhubungan seks tidak terlepas dari ajaran agama Katolik, di mana pernikahan dianggap menghalangi hubungan pastor dengan Tuhan. Selain itu kekhawatiran akan nepotisme dan warisan jabatan di gereja, berabad-abad lamanya merupakan alasan penting memberlakukan selibat.

Selibat bukanlah doktrin kuno, baru pada abad pertengahan diberlakukan, kata wartawan sekaligus ahli gereja Adam Szostkiewics. Ia meramalkan, turunnya minat untuk menjadi pastor akan memancing perdebatan.

Belakangan, banyak pastor mengingkari hal itu. Kasus ini terjadi di Polandia di mana banyak pastor justru menikah. Seorang pastur bernama Jozef Strezynski (58 tahun) memutuskan keluar dari gereja karena berjumpa dengan seorang perempuan yang menarik hatinya. Ia memutuskan keluar setelah mengabdi di gereja selama 16 tahun.

"Sebagai pastor muda saya tadinya bahagia, namun lama-lama saya dilanda kesepian," ujar Strezynski. Sekarang, Strezynski sudah punya dua anak. [ hidayatullah.com ]



My be this artikel's that you need...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar