Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

Inilah Sahadat Yang Menguncangkan Dunia

Inilah Sahadat Yang Menguncangkan Dunia - Tidak ada yang menampik jika Amerika Serikat dikatakan poros dunia saat ini. Bila negara itu bergolak di pelbagai bidang, ekonomi misalnya, hampir sejagat ikut merasakan dampaknya. Tak terkecuali soal perkembangan Islam yang pengaruhnya menampar bagian benua lain.

Pesohor di banyak bidang ramai-ramai meyakini agama dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Situs neswone.com pernah melansir mereka yang tertarik pada Islam dari berbagai kalangan mulai olahragawan, hingga model, penyanyi, dan politisi, hampir semua didominasi kulit hitam.


http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2013/02/21/154609/540x270/sejagat-tersentak-saat-mereka-bersyahadat.jpg

Muhammad Ali, mantan petinju juara dunia kelas berat tiga kali berturut turut ini lahir dengan nama asli Cassius Marcellus Clay Jr. di Kota Louisville, Negara Bagian Kentucky pada 17 Januari 1942. Dia tersohor dengan pukulan mematikan dan hampir seluruh kemenangannya berakhir dengan kalah telak di pihak lawan. Pukulan tanpa bayangannya mematikan, Ali menjadi pujaan rakyat Amerika pada zamannya. Namun dunia sempat tersentak saat dia menyatakan diri masuk Islam hampir empat dekade lalu dan ketaatannya pada agama dia membawa pengaruh luar biasa seperti dilansir situs time.com. Selentingan mengatakan lantaran Ali menjadi muslim banyak penggemarnya menaruh perhatian pada ajaran samawi itu. Beberapa bahkan mengikuti jejak idolanya berpindah keyakinan.

Putri Ali, Laila pun mengikuti jejak ayahnya baik dalam memilih karir maupun keyakinan. Berdua bapak dan anak itu juga sering mengerjakan salat bersama di pelbagai kesempatan seperti dilansir situs islamicproverb.net.

Masih dari dunia olahraga, kali ini tercatat dua pemain basket memeluk Islam yakni Karim Abdul Jabar dan Hakim Olajuwon. Jika Olajuwon memang muslim sejak lahir. Keluarganya penganut Islam taat asal Nigeria yang pindah ke Amerika pada 1968. Sementara Jabar terlahir dengan nama Ferdinand Lesi Alcindor Jr. dari keluarga penganut Katolik Roma taat. Kepindahannya cukup membuat seluruh keluarga terkejut, namun akhirnya mereka mendukung.

Jumlah pemain bola muslim sejagat bahkan saban tahun bertambah. Tak tanggung-tanggung mereka menjadi andalan, macam Mesut Ozil membela Real Madrid. Hal ini memaksa beberapa klub besar memberikan kebijakan khusus bagi pemainnya, dalam latihan maupun pertandingan besar sehingga mereka bisa menjalankan ibadahnya dengan khusyuk.

Jumlah penyanyi rap tersohor berdarah Afro-Amerika memeluk Islam juga semakin banyak. Sebut saja Snoop Dogg, Busta Rhymes, Mos Def, hingga Ice Cube. Di jajaran penyanyi pop nama legendaris Michael Jackson disebut-sebut berpindah keyakinan ke agama Muhammad namun ini masih menjadi perdebatan. Lain halnya dengan sangkakak Jermaine Jackson, dia menyatakan menjadi muslim setelah menikah dengan Halima Rashid, pengusaha perempuan asal Afghanistan pada awal 2000-an, seperti dikutip majalah Rolling Stone.

Angka ini belum ditambah dengan mereka yang menaruh empati penuh pada Islam. Diva musik pop sejagat Madonna pernah mengatakan sudah saatnya Gedung Putih dipimpin oleh orang muslim meski akhirnya dia salah kaprah menyebut Presiden Barack Hussein Obama penganut Islam. Penyanyi rap perempuan fenomenal Eve dan Erykah Badu keduanya mengaku telah mendalami Islam namun belum menemukan pembimbing yang tepat untuk menuntun mereka berpindah keyakinan. Badu bahkan telah membuat tato nama Allah di bahu kanan-kiri bagian depan. ( merdeka.com )



READ MORE - Inilah Sahadat Yang Menguncangkan Dunia

Satu Lagi Musuh Besar Islam Jadi Mualaf

Satu Lagi Musuh Besar Islam Jadi Mualaf – Ahad, 13 Januari 2013, setelah kampanye, yang dipimpin oleh Partai Rakyat Swiss, untuk melarang pembangunan menara tempat adzan di masjid – masjid, muncul kabar yang mengejutkan. Salah seorang pemimpin partai tersebut mengumumkan masuk Islam.

Opini publik Swiss bersama dengan jutaan orang di dunia ini dikejutkan dengan seorang pemimpin politik, Daniel Streich, yang memimpin kampanye terakhir terhadap laragan membangun menara masjid di Swiss selama beberapa tahun terakhir, mengumumkan keislamannya di salah satu media Swiss. Ia menegaskan bahwa ia mengalami perubahan yang drastis setelah mengetahui nilai – nilai dan prinsip – prinsip Islam.

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos3/daniel-sreich.jpg&h=235&w=355&zc=1
......sesungguhnya Swiss membutuhkan pembangunan masjid dan menara lebih untuk merangkul anak – anak bangsa dari kaum Muslimin...
Perubahan Terjadi Setelah Mengenal Islam

Pemimpin politik itu mengatakan bahwa ia terpaksa untuk mengkaji dan mendalami prinsip – prinsip Islam dalam upaya kampanye anti Islam. Ia terkejut mendapati hal – hal yang tidak pernah terlintas dalam benaknya, di mana jawaban atas pertanyaan yang ia terus bertanya dalam dirinya selama beberapa tahun lamanya yang ia tidak dapatkan di agama Kristen.
Stretch mengkritik permusuhan yang tumbuh anti Islam dan muslimin di Swiss. “sesungguhnya Swiss membutuhkan pembangunan masjid dan menara lebih untuk merangkul anak – anak bangsa dari kaum Muslimin" ujar Daniel.

“Aku terdesak untuk menulis banyak makalah menerangkan tentang pentingnya masjid di Swiss dan bahaya dalama upaya pelarangan membangun menara di negri ini” tambah pemimpin partai rakyat Swiss itu.

Karena sikapnya yang baru itu, mantan pelatih militer selama 30 tahun itu mengundurkan diri dari Partai Rakyat Swiss. Sekjen Institut Budaya Islam Swiss, Dr Mohammed Karmov, menganggam keislaman Strech memberikan bagi kemaslahatan Islam di Swiss.
.....Posisi ini mengingatkan kita kepada kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ketika ia pergi untuk membunuh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah memberikan hidayah kepadanya dan melapangkan dadanya untuk iman. Dan ini menunjukkan bahwa hidayah itu berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Dan untuk kaum muslimin jangan berputus asa untuk berdakwah kepada non muslim.......
Daniel Islam Seperti Islamnya Umar

Dalam peranna, seorang dai, Nazim Al-Misbah, mengomentari kabar keislaman Strech seraya berkata “itulah keutamaan yang Allah berikan kepada siapa yang Ia kehendaki”.ia menambahkan bahwa keislaman orang yang memerangi Islam itu adalah sebuah kemenangan dari Allah.

Misbah menambahkan “Posisi ini mengingatkan kita kepada kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ketika ia pergi untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah memberikan hidayah kepadanya dan melapangkan dadanya untuk iman. Dan ini menunjukkan bahwa hidayah itu berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Dan untuk kaum muslimin jangan berputus asa untuk berdakwah kepada non muslim” ujarnya.( voa-islam.com )
 


READ MORE - Satu Lagi Musuh Besar Islam Jadi Mualaf

Matahari, Menggiring Ahli Fisika Ini Menuju Islam

Matahari, Menggiring Ahli Fisika Ini Menuju Islam - Demitri Bolykov, seorang ahli fisika yang sangat menggandrungi kajian serta riset-riset ilmiah, mengatakan bahwa pintu masuk ke Islamannya adalah fisika. Sungguh suatu yang sangat ilmiah, bagaimanakah fisika bisa mendorong Demitri Bolyakov masuk Islam?

Demitri mengatakan bahwa ia tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof. Nicolai Kosinikov, salah seorang pakar dalam bidang fisika.

Mereka sedang dalam penelitian terhadap sebuah sampel yang diuji di laboratorium untuk mempelajari sebuah teori moderen yang menjelaskan tentang perputaran bumi dan porosnya. Mereka berhasil menetapkan teori tersebut.


http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/demitri-bolykov-_120811160918-186.jpg


Akan tetapi Demitri mengetahui bahwasanya diriwayatkan dalam sebuah hadis dari nabi saw yang diketahui umat Islam, bahkan termasuk inti akidah mereka yang menguatkan keharusan teori tersebut ada, sesuai dengan hasil yang dicapainya. Demitri merasa yakin bahwa pengetahuan seperti ini, yang umurnya lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai sumber satu-satunya yang mungkin hanyalah pencipta alam semesta ini.

Teori yang dikemukan oleh Prof. Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menafsirkan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sampel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan , ditempatkan pada badan bermagnit yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.

Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”. Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya.

Pada tingkat realita di alam ini, daya matahari merupakan “kekuatan penggerak” yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya insensitas daya matahari. Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung.

Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40 km dalam setahun.

Bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak. Ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa “gerak” perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketika itu matahari akan terbit (keluar) dari Barat.

Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian.

Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam.

Ia mendapati informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huarirah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima tobatnya.'' ( jurnalhajiumroh.com )


Blog : Rantau Pincono
Post : Matahari, Menggiring Ahli Fisika Ini Menuju Islam


READ MORE - Matahari, Menggiring Ahli Fisika Ini Menuju Islam

Inilah Alasan WNA Lebih Senang Mengucap Dua Kalimat Syahadat di Indonesia

Inilah Alasan WNA Lebih Senang Mengucap Dua Kalimat Syahadat di Indonesia - Sebagai negara yang mayoritas warganya Islam, tentu memberikan kredit tersendiri bagi Indonesia. Terlebih lagi, keberagamannya dengan agama-agama lain, seperti Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan Konghucu mendapatkan pengakuan dunia.


http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/sejumla-warga-memberikan-ucapan-selamat-kepada-kepala-suku-asmat-_120219122029-612.jpg
Sejumla warga memberikan ucapan selamat kepada Kepala Suku Asmat, Umar Abdul Kayimter (kiri), yang telah menjadi mualaf di Masjid Darussalam, Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, Ahad (19/2).


Kenyataan itulah yang dijadikan dasar para warga negara asing (WNA) untuk memutuskan mengucap dua kalimat syahadat alias memeluk Islam di Indonesia. Kepala Pembinaan Mualaf Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Anwar Sudjana pun mengungkapkan alasan tersebut.

"Ajaran Islam di Indonesia lebih toleran, inklusif, tidak terlalu keras, dibandingkan penganut ajaran agama Islam di luar Indonesia," ungkapnya

Ia menjelaskan, pada tahun ini saja sudah tercatat sebanyak 193 orang yang mengkuatkan hatinya untuk memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad tersebut. Jika diuraikan hanya pada Juni ini, sudah ada 33 orang.

Dengan rincian, sebanyak 22 orang berasal dari dalam negeri alias warga negara Indonesia (WNI). Sementara 11 orang merupakan warga negara asing (WNA). "Yang menjadi mualaf di Masjid Sunda Kelapa terbanyak berasal dari Inggris, Amerika, Australia, Jepang, Cina," ujar Anwar.

Blog : Rantau Pincono
Post : Alasan WNA Mengucap Dua Kalimat Syahadat di Indonesia


READ MORE - Inilah Alasan WNA Lebih Senang Mengucap Dua Kalimat Syahadat di Indonesia

Alhamdulillah, Mualaf di Indonesia Alami Peningkatan

Alhamdulillah, Mualaf di Indonesia Alami Peningkatan -- Tren positif diperlihatkan mereka yang ingin mengucap dua kalimat syahadat alias mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta. Para pemeluk agama Islam yang baru ini, setiap tahunnya terus mengalami peningkatan.

Sekadar catatan, pada tahun ini saja sudah tercatat sebanyak 193 orang yang mengkuatkan hatinya untuk memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad tersebut. Jika diuraikan hanya pada Juni ini, sudah ada 33 orang.


http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/sejumla-warga-memberikan-ucapan-selamat-kepada-kepala-suku-asmat-_120219122029-612.jpg


Dengan rincian sebanyak 22 orang berasal dari dalam negeri alias warga negara Indonesia (WNI). Sementara 11 orang merupakan warga negara asing (WNA).

Menurut Kepala Bagian Pembinaan Mualaf Masjid Sunda Kelapa (MASK), Anwar Sudjana, sebelumnya dalam sebulan, yang memeluk Islam hanya mencapai angka 10 sampai 15 orang. "Tapi saat ini mualaf yang terdaftar bisa mencapai angka 40 orang dalam sebulan," katanya kepada Republikaonline, Kamis (12/7).

Ia menjelaskan, pada mulanya proses mengislamkan para mualaf, pihaknya hanya sebatas pembacaan dua kalimat syahadat. Selain itu juga disertai pemberian sertifikat saja. Mualaf tidak mendapatkan pembinaan setelah menjadi seorang mualaf.

Mualaf, lanjut Anwar, dibebaskan begitu saja mempelajari agama Islam. "Namun sejak tahun 1983 para mualaf di Masjid Sunda Kelapa telah diberikan pembinaan sebelum menjadi mualaf atau setelah menjadi mualaf," tandasnya. ( republika.co.id )


Blog : Rantau Pincono
Post : Alhamdulillah, Mualaf di Indonesia Alami Peningkatan


READ MORE - Alhamdulillah, Mualaf di Indonesia Alami Peningkatan

Misteri Kesaksian Haji Irene Handono

Misteri Kesaksian Haji Irene Handono - Irene Handono Menyaksikan ‘Film’ Dirinya Saat Masih Non-Muslim - ‘Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas.’

Ketika menjadi mualaf pada 1983 lalu, mantan biarawati Irene Handono, menyimpan perasaan bahwa Allah tidak adil terhadap dirinya. Ia terus bertanya dan berusaha mencari jawaban mengapa ia dilahirkan sebagai non-Muslim. ‘’Kenapa saya tidak dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat. Apa alasan Allah menjadikan saya sebagai mantan kafir,’‘ kata pemilik nama asli Han Hoo Lie ini.


http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/05/irene-handoko-ok.jpg

Hingga 1991, pertanyaan itu belum juga terjawab. Jawaban akan kegelisihan hatinya baru muncul ketika menunaikan ibadah haji pada 1992. Wanita berdarah Cina ini berangkat haji bersama 400 orang jamaah reguler lainnya yang tergabung dalam kloter 18 dari Embarkasi Surabaya.

Di Tanah Haram, jawaban dari Allah itu didapatkannya. ‘’Ternyata Allah sayang kepada saya. Allah memilih saya menjadi salah satu hamba pilihan,’‘ ujar Irene saat ditemui di kediamannya, di Bekasi, beberapa waktu lalu. Ketika berada di Tanah Haram, Irene kerap mengalami peristiwa yang dinilainya luar biasa. Ia berkisah, ketika berada di depan Ka’bah, dirinya mengambil tempat garis lurus sejajar dengan letak Hajar Aswad. Ia sempat menggigit lidahnya untuk membuktikan jika dirinya tidak sedang bermimpi.

Pendiri Irene Center ini menuturkan, selama melakukan ibadah di Masjidil Haram, ia kerap diperlihatkan gambaran seperti sebuah film ten – tang kronologi hidupnya dari kecil hingga dewasa. Bungsu dari lima bersaudara ini tak kuasa membendung tangis. Ia bersedih melihat gambaran tentang dirinya ketika masih menjadi non-muslim. ‘’Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas,’‘ ungkapnya.

Saat diperlihatkan Allah tentang jalan hidupnya di masa lalu, putri pengusaha ini pun ber – sujud dan melakukan muhasabah. Dari instro – peksinya, Irene mengikrarkan diri ingin me – wadahi para mualaf agar terus eksis di jalan Allah. Menurutnya, selama ini, tak sedikit mualaf yang dibiarkan dan tidak dibimbing hing – ga keimanan dan keislamannya tetap dangkal. Bahkan ada yang kembali menjadi murtad.

Di Tanah Suci, mantan mahasiswi Institut Ilmu Filsafat Theologi ini juga mengalami peristiwa luar biasa. Menurutnya, dari Muzdalifah menuju Mina, kelompoknya terpecah menjadi dua. Ada yang naik bus, ada yang harus jalan kaki. Ia pun mengalah memberi kesempatan pada jamaah tua untuk naik bus. Akhirnya ia berjalan kaki bersama rombongan yang dipimpin seorang ustadz dari kloternya. Namun tiba-tiba, jalan yang dilewatinya dipenuhi lautan manusia. Ia pun terpisah dari kelompoknya. Di tengah kebingung – annya, ia mencoba mencari jalan sendiri menuju pemondokannya di Mina sambil terus berdoa, dan bertawakal.

Untuk menutupi rasa haus dan lapar, wanita kelahiran Surabaya 30 Juni 1954 ini hanya meminum air zamzam yang ternyata mampu membuatnya sangat kenyang. Di tengah upayanya dan terus berdoa, tiba-tiba ia merasa ada yang menuntunnya menuju sebuah masjid. Setelah menunaikan shalat di masjid tersebut, ia pun bertekad akan melanjutkan pencariannya. Namun begitu keluar dari masjid, di pintu gerbang ia melihat pemimpin rombongannya. Ia pun akhirnya menuju pemondokan dan ternyata rombongan yang menggunakan bus belum tiba. ‘’Ini sungguh di luar nalar, tapi itulah kenyataannya. Saat kelompok yang menggunakan bus tiba, justru banyak yang sakit,’‘ ujarnya.

Air matanya kembali berurai ketika esok harinya, ia menggunakan bus dan melewati jalur yang ditempuh ketika ia tersesat. Ternyata selama ketika tersesat, ia mengitari Kota Mina. ‘’Tapi ketika saya berjalan kaki cuma setengah jam. Bayangkan mengitari sebuah kota hanya setengah jam, Masya Allah,’‘ ujarnya. Wanita yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini mengaku, ada banyak hal ghaib yang sulit dianalisisnya selama di Tanah Suci. Hal itu membuatnya kembali merenung dan menyimpulkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala hal ( jurnalhaji.com )


READ MORE - Misteri Kesaksian Haji Irene Handono

Antara Mekkah dan London

Antara Mekkah dan London --"Mekkah" sudah berada di tengah kota London, karena umat Islam melaksanakan Shalat Jumat di sebuah jalan di London akibat masjid sudah tidak dapat menampung mereka, demikian laporan harian terkemuka di London "The Daily Mail", akhir pekan.


http://www.hidayatullah.com/berita/gal777670162.jpg

Dalam artikel bertajuk "The Mecca of the city: In a London street, the faithful find a way to pray as their mosque overflows", harian itu melaporkan banyak orang yang merasa terkejut ketika datang ke daerah itu pada hari Jumat.

Mereka melihat banyak orang berdoa bersama di luar dan hal itu bukanlah pemandangan sehari-hari di Inggris. Dalam bayangan gedung pencakar langit dan ruang kaca serta baja di Mile Square, London, ratusan umat Muslim berlutut di jalanan melaksanakan Shalat Jumat.

Selama satu jam di jantung distrik keuangan kota London, kegiatan itu menjadi sangat populer. Jamaah memenuhi jalan-jalan di sekitar masjid komunitas kecil.

Para pekerja di kota dengan setelan jas, berbaur dengan umat Muslim dari komunitas lokal Bangladesh yang tumpah sampai ke jalan-jalan di samping Bentley dan daerah perparkiran mobil.

Masjid Brune Street, di Spitalfields, London Timur, merupakan masjid terdekat untuk Shalat Jumat bagi pekerja di City dan juga banyak yang datang dari Brick Lane dan Whitechapel.

Para pekerja profesional mengisi jalan di bawah gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Mereka melakukan Shalat Jumat dan bersujud menghadap ke Mekkah.

Ruangan masjid yang hanya dapat menampung 100 orang pada hari Jumat, sekitar 300 umat Muslim yang bekerja di sekitar gedung bermunculan berbaur bersama penduduk setempat yang juga ingin menjalani Shalat Jumat, sehingga meluber.

Salah seorang pekerja yang mengenakan jas, setelah melaksanakan Shalat Jumat menyebutkan bahwa mereka yang ingin melakukan Shalat Jumat pada setiap tahun terus berkembang.

"Itu tumbuh dan berkembang dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.

Awalnya, hanya dimulai dalam satu ruangan di masjid, tapi sekarang orang-orang datang dari seluruh penjuru kota, karena tidak tersedia tempat bagi mereka di dalam gedung untuk melaksanakan Shalat Jumat.

"Semua laki-laki di City melaksanakan Shalat Jumat. Sangat menyenangkan berada di luar pada hari seperti hari ini, tapi tidak begitu menyenangkan saat hujan," ujarnya.

"Banyak orang yang merasa terkejut ketika datang ke daerah itu pada hari Jumat, karena ada banyak orang berdoa bersama di luar, sedang melaksanakan shalat tepat di tengah Kota," katanya, dimuat Antara.* ( hidayatullah.com )


READ MORE - Antara Mekkah dan London

Kini jilbab merupakan bagian dari komunitas di Britania Raya

Kini jilbab merupakan bagian dari komunitas di Britania Raya - Temanku Anisa asal Barbados yang juga muallaf mengundangku kerumahnya di Tooting, untuk acara perpisahan. Keluarga ini akan berhijrah ke Kairo, ingin mencicipi kehidupan dengan nuansa 'Islami' katanya.


http://hidayatullah.com/berita/gal453054978.jpg

http://hidayatullah.com/berita/gal30492330.jpg

Aku dikenalkan dengan teman-temannya yang multi bangsa dan warna. Ada yang tulen Inggris, wanita Aljazair berkebangsaan Prancis, Jamaika, Ethiopia dan Nigeria. Unik sekali.

Aku tertarik dengan penampilan Joana Rowntree, Muslimah Inggris asli yang mengenakan busana Muslim penuh. Mirip abaya, longgar, berwarna abu-abu dengan jilbab berwarna biru muda. Aku menyapa dan memperkenalkan diri.

Joanna, perempuan Inggris berusia sekitar (26 tahun), baru saja memeluk agama Islam sekitar 3 tahun. Joanna berprofesi sebagai Medical Reseach bekerja di Guy Hospital, London Bridge.

Ia mengalami perjalan spiritual yang panjang. Alkisah, usai sekolah SMU di Inggris, ia tidak langsung ke universitas tapi memutuskan untuk melanglang buana. Dia percaya bahwa merantau bisa memperluas cakrawala. “Travel can broaden your mind,” ujarnya.

Iapun mendaftarkan diri untuk jadi volonteer dengan British Council. Mengajar bahasa Inggris adalah satu satunya cara untuk keluar negeri, kenangnya bercerita ketika awal masuk Islam.

"Saya ingin cari pengalaman dengan merantau", tambahnya. Joanna akhirnya memilih ke Serawak, Malaysia.

"Tempatnya jauh sekali, di sebuah desa di pedalaman pulau Borneo," papar Joanna sambil mengawasi anaknya yang berambut pirang.

"Malay people are very kind and gentle. Orang Melayu baik-baik dan lemah lembut, saya betah di sana. Sampai-sampai saya tinggal disana kurang lebih 10 bulan, " tambahnya.

Lalu apa yang membuatnya masuk Islam?

Suatu hari, saat istirahat, murid-murid selalu mendatanginya. Biasanya, mereka selalu datang menyampaikan salam. Suatu hari, rupanya mereka menyodorkan buku kecil dan tipis.

"Miss..miss kenal dengan nabi Muhammad, Rasul kami? " tanya salah satu mereka, mereka berdesakan dan masing-masing ingin dapat perhatian.

"Siapa tuh Muhammad...saya tidak tahu," dengan sabar Joanna menjawab pertanyaan mereka.

"Ini miss.. baca buku ini...di sini ada sejarah tentang nabi kami, Muhammad," ujar mereka menghadiahi buku kecil tentang Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه Ùˆ سلم) pada Joanna.

Karena menggunakan bahasa Melayu, rupanya Joanna kurang memahami. Ia akhirnya menolak dengan lembut agar anak-anak tidak tersinggung.

"....tapi miss, Anda kan guru bahasa Inggris Anda mesti belajar bahasa kami, bahasa Melayu. Ini hadiah dari kami dan bacalah." Akhirnya buku itu diterima oleh Joanna sambil tercenung berfikir betapa baiknya mereka ini.

Joanna sangat menghargai pemberian itu, seakan ia diberi perhatian khusus oleh anak-anak, dia sangat terharu.

Sejak itulah Joanna tertarik dengan agama Islam. Ia menyempatkan diri ke toko buku saat Joana berada di Kuala Lumpur. Pesan anak-anak itu cukup membekas di hatinya.

Ternyata banyak sekali buku-buku tentang Islam yang berbahasa Inggris. Joanna membeli kamus Inggris Melayu yang kecil. Pikirnya pasti anak anak akan senang kalau mereka tahu bahwa ia belajar bahasa Melayu. Sejak itulah Joanna mulai tertarik mengenal Islam hingga mengucapkan dua kalimah syahadat.

Di mana-mana

Lain lagi cerita Nini, wanita asal Indonesia yang juga residen (pemukim yang bersuamikan Inggris) ini mempunyai cerita unik. Karyawati di sebuah Department Store ini cukup lama tinggal di sini, 10 tahun lebih. Dulunya ia seorang penari. Ramah dan lincah. Temannya di mana-mana. Setelah gabung dengan sebuah pengajian student Indonesia di kota London ia menemukan sesuatu, mengaku merasa bahagia berada di lingkungan yang nyaman serta banyak mendapatkan masukan.

Suatu hari terjadi perubahan cukup drastis. Nina berkeinginan mengenakan jilbab. Tapi ia hanya memakainya dari rumah ketempat pengajian, lalu ke supermarket atau ke station. Namun sampai di tempat bekerja ia lepas. Ada selaksa perasaan berdosa, namun Nina tengah memupuk keberaniannya.

Setiap ia datang ke pengajian, sering sang kain berbentuk segitiga itu melorot dan jatuh kepundaknya.

Suatu hari, saya menegurnya, “Mana penitinya Nin,” aku menolongnya untuk menjepitnya.

“Wow, kok malah jadi cantik sih, liat tuh di kaca, kecantikanmu malah menyeruak, “ ujarku meyakinkan. Memang betul, ia tanpak lebih cantik dan anggun. Ia tersenyum malu campur bangga.

“Jika belum berani full time, cobalah part-time dulu, biasakan dulu, supaya kita bisa PD (percaya diri) dan orang-orang di sekitar kita tidak kaget,” begitu nasehatku.

Suatu hari, ia melakukan pengamatan. Diam-diam ia mencari tahu berapa banyak jumlah Muslimah di tempatnya bekerja. Ia kaget, ternyata jumlahnya cukup banyak. Akhirnya, setiap ke kepengajian, ia sibuk membahas dan bercerita tentang jilbabnya. Nini akhirnya mulai terobsesi dengan jilbab. Ia bahkan meminta saran kapan ia bisa memulai mengenakannya ke tempat bekerja.

"Saya tunggu waktu, support aku deh," tambahnya. "Aku takut dipecat teh,"ujarnya nampak was-was. Dan saya menenangkannya dengan menjelaskan bahwa keyakinan dilindungi undang-undang. Layaknya orang-orang Yahudi di tempat ini, yang juga memakai sesuatu di kepalanya.

Suatu ketia, Nini mengambil 'day off', Nina mengajak teman-temannya untuk minum kopi. Tentu dia mengenakan jilbab. Pada saat hendak pulang, tiba-tiba dia membelok ke tempat ia bekerja untuk sekedar menyampai kan hello kepada teman kerjanya. Rupanya dia lupa kalau mengenakan jilbab. Tentu saja semua temannya terkejut. Kebetulan sang supervisor yang Muslim sedang berada di situ.

"Ooh..I didn't know you wear hijab, Nin," tegurnya. Ia jadi tersipu malu sambil mengatakan bahwa ia mengenakan jilbab.

"Why dont you wear it to work, " tantangnya.

"Really? Can I wear hijab to work?," seolah tak percaya mendengar tawaran yang dinilai sangat exciting itu.

"Well of course you can..I will talk to my manager and I am sure you have the right in this country," jawabnya meyakinkan.

Tak terbayang rasa gembira di hati Nini hari itu. Ia mendapat support penuh dari sang supervisor. Ia pulang dengan langkah yang, duh rasanya ringan sekali. Ingin sekali ia berteriak ke langit. Kini Nini mengenakan jilbab yang warnanya disesuaikan dengan seragam kerja.

Menariknya, konon langkahnya itu kemudian banyak diikuti oleh beberapa muslimah yang selama ini bersembunyi dari persembunyiannya.

Dan seperti biasanya, teman dan sahabat yang biasa pergi ke disko atau berkumpul untuk bersenang senang, mereka satu-persatu menjauhi Nini.

Diludahi

Suatu hari, seorang wanita namanya Jannifer, panggil saja sister Jane, seorang muallaf yang kukenal di depan Kedutaan Perancis, saat berdemo tentang hijab. Diam-diam, kami menjadi sahabat.

Suatu hari, melalui saluran telpon, ia bercerita tentang keyakinannya.

"Karena saya sudah bersyahadat yang artinya kesaksian dan pengakuan saya terhadap adanya Allah yang Esa serta kesaksikan saya bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, maka ini adalah sebuah komitmen dan janji saya. Artinya saya tidak bisa hanya mengambil setengah-setengah. Saya harus ambil seutuhnya, termasuk mengenakan hijab tentunya," ujarnya.

Saat mengawali masuk Islam, Jennifer tidak tahu bagaimana caranya mengenakan jilbab. Ia membeli dua helai kerudung lalu disampirkan dikepala.

Dengan mengenakan jilbab, ia mengaku lebih tenang di jalanan, tanpa menarik perhatian kaum lelaki yang selalu berfikir kalau perempuan adalah objek seks.

“Saya marasa bebas dari tekanan untuk kompetisi kecantikan. Sayapun bisa jadi lebih nampak sederhana," paparnya.

Meski demikian, ada juga yang menatap dengan pandangan bermacam- macam, tapi Jane tidak peduli.

"Tatkala saya mengenakan jilbab saya merasakan kehangatan pada jiwa dan hati saya. Ada rasa aman dan tenang, walaupun saya merasakan bahwa saya masih belum mampu memenuhi perintahNya, saya takut bahwa saya belum bisa meraih ridhoNya," ujar Jennifer.

Saya, Joanna, Nini dan Jane dan para muslimah di Inggris (dan di Negara-negara Eropa lainnya) memang sangat beruntung, secara umum penduduknya cukup demokratis melindungi pilihan kita menggunakan jilbab.

Jilbab datang dan menghampiri perempuan Inggris memang tidak seketika alias sekonyong-konyong. Meski ada tertentu beberapa muslimah tiba-tiba ingin mengenakan jilbab, namun umumnya pengaruh teman.

Meski demikian, hanya menyampirkan sehelai kain di kepala kita, di negeri ini harus memerlukan “jihad” tersendiri.

Saat terjadi insiden besar di UK, 7 Juli (kasus bom di Kereta api bawah tanah) misalnya, memaksa para Muslimah ekstra hati-hati. Tak sedikit di antara Muslimah yang menjadi sasaran public. Di jalanan Muslimah dimaki, diludahi atau diteriaki ‘Hei teroris’ atau perlakuan yang tidak nyaman lain. Namun bagi mereka yang kenal situasi negeri itu akan paham. Bahkan anak saya bisa bilang, “Just ignore them mum, they are just so ignorant.” (Mereka itu tidak tahu apa-apa, jadi cuekin saja).

Menurut data, populasi Muslim di Inggris saat ini sekitar 2,8 juta (4,6 persen total penduduk). Inggris memiliki komunitas Muslim terbesar ketiga di benua Eropa, setelah Jerman dan Prancis. Kaum Muslim bisa ditemui di mana saja, termasuk jamaah sholat Jumat meluber di jalanan.

Dan jilbab, kini merupakan bagian dari komunitas di Britania Raya sebagai negara yang beragam; baik kebangsaan, etnis dan agama serta warna. Anda bisa melihat jilbab di mana saja, mengalir. Kecuali di Bromley, terutama di desa saya di Pettswood.

Kadang saya berfikir, “Ah jangan-jangan cuma saya sendiri berjilbab, yang kebetulan penduduknya 98.5% adalah putih/Inggris.” Hanya saja, saya merasa, orang-orang di sekitar saya tidak merasa terancam dengan keberadaanku.

Meski minoritas, saya tetap membaur, bukan mengucilkan diri dengan orang-orang di sekitar, sembari menunjukan akhlak islami kita.

Doa saya dari Anda, semoga, saya dan Muslimah lain di UK tetap istiqomah menegakkan peritah menurut aurat seperti dalam surat al-Ahzab: 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. 33:59].*/ Al Syahidah, Bromley, 5 Februari 2012 ( hidayatullah.com )


READ MORE - Kini jilbab merupakan bagian dari komunitas di Britania Raya

Alhamdulillah ... Allahu Akbar ... Kepala Suku Asmat Masuk Islam

Alhamdulillah ... Allahu Akbar ... Kepala Suku Asmat Masuk Islam - Kabar gembira datang dari pulau paling timur Indonesia, Papua. Di tengah memanasnya suhu politik Papua akibat ulah segelintir orang OPM, ternyata dakwah Islam terus menggeliat di bumi Nuu Waar.

Adalah Ketua Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Ustadz Fadzlan Garamatan yang menyampaikan kabar bahagia itu. Kepada Suara Islam Online, Rabu (28/12/2011), Ustadz Fadzlan mengabarkan bahwa tanggal 17 Januari 2012 nanti seorang kepala suku besar Asmat akan masuk Islam. Alhamdulillah, Allahu Akbar.

"Di Nuu Waar, kalau sudah masuk Islam itu baru merdeka yang sesungguhnya", kata lelaki kelahiran Patipi, Fak-Fak, 17 Mei 1969 itu.


http://suara-islam.com/images/berita/Fadzlan-AFKN-.JPG


Tentu masuknya kepala suku itu akan diikuti oleh warganya. Berapa jumlah mereka?. "Tim kami masih menginvetarisir. Insya Allah nanti akan kami kabarkan", katanya.

Ketika Suara Islam Online menyinggung soal ketakutan kalangan Kristen dengan menuduh AFKN dan Ustadz Fadzlan melakukan Islamisasi di Papua, putra dari pasangan Machmud Ibnu Abu Bakar Ibnu Husein Ibnu Suar Al-Garamatan dan Siti Rukiah binti Ismail Ibnu Muhammad Iribaram menanggapi dingin saja.

"Kalau soal itu biasa saja. Di Al-Qur'an bahkan sudah dikabarkan sejak lima belas abad lalu permusuhan mereka terhadap Islam. Mereka itu ribut dan takut karena tidak punya hidayah", kata da'i yang mulai berdakwah sejak tahun 1985 itu.

Kalangan Kristen, lanjut Ustadz Fadzlan, mestinya tidak perlu iri terhadap perkembangan Islam. "Mereka punya helikopter. Missionaris mereka terbang ke sana-kemari. Masak kita yang hanya punya kapal kecil aja ditakuti", sambungnya.

Seperti diketahui Tabloid Kristen Reformata pada edisi Desember 2011, memuat berita dengan judul "Misi Terselubung Islamisasi Papua". Mereka menuding aktivitas AFKN adalah dalam rangka mengIslamisasi Papua.

Tentu tudingan ini tidaklah berdasar. Sebab catatan sejarah menunjukkan Islam lebih dahulu masuk ke Papua dibandingkan Kristen. “Islam adalah agama pertama yang masuk Papua. Kalau mau jujur, justru orang Islamlah yang berjasa mengantarkan orang Kristen ke Papua. Sultan Tidore yang mengantar Pendeta Otto Gensller ke Irian tanggal 5 Februari tahun 1885", tandas Ustadz Fadzlan.

Ustadz Fadzlan dan kebanyakan muslim Papua, lebih senang menyebut wilayah mereka sebagai Nuu Waar. Nuu Waar adalah nama pertama untuk Papua, sebelum berubah menjadi Irian Jaya, dan Papua saat ini. Dalam bahasa Papua, Nuu Waar berarti cahaya yang menyimpan rahasia alam. Saat ini, menurut Uatdz Fadzlan, di bumi Nuu Waar jumlah umat Islam bisa lebih banyak dari pada Kristen. ( suara-islam.com )


READ MORE - Alhamdulillah ... Allahu Akbar ... Kepala Suku Asmat Masuk Islam

Karena Saya Tak Percaya Tuhan Bisa Mati

Karena Saya Tak Percaya Tuhan Bisa Mati - Anthony Vatswaf Galvin Green mengubah namanya menjadi Abdur Raheem Green setelah memeluk Islam. Sejak kecil, lelaki kelahiran Dar As-Salam, Tanzania ini, sering mempertanyakan konsep ajaran Katolik yang menurutnya banyak yang tak masuk akal, hingga ia menemukan cahaya Islam.

Ibu Green yang asli Polandia dan penganut Katolik Roma yang taat, membesarkan Green dan anak-anaknya yang lain dengan didikan ala Katolik. Green bahkan sempat disekolahkan di sebuah keuskupan Katolik Roma di Yorkshire di utara Inggris.

Hal pertama yang mengusik pikirannya tentang ajaran Katolik adalah ketika ia mendengar ibunya berdoa dan menyebut "Bunda Maria, ibu dari Tuhan Yesus". Green merasa aneh dengan doa itu, bagaimana bisa Tuhan punya ibu? Karena Yesus yang ia kenal selama dalam konsep ajaran Katolik adalah Tuhan, bukan nabi seperti dalam ajaran Islam.

"Saya duduk dan memikirkan tentang ibu dari tuhan itu. Jika Bunda Maria adalah ibu dari tuhan (Yesus), ia pastilah lebih juga tuhan yang lebih baik dari tuhan itu sendiri. Itulah pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya," tutur Green mengenang pengalaman masa kecilnya.

Saat masuk sekolah di keuskupan, Green mulai lebih banyak memikirkan banyak hal, mempelajarinya dan melakukan riset terhadap ajaran Katolik yang dianutnya. Salah satunya tentang "kewajiban" pengakuan dosa yang ditetapkan oleh para pendeta di keuskupannya. Green masih ingat, seluruh siswa diwajibkan paling tidak sekali setahun untuk melakukan pengakuan dosa.

"Para pendeta selalu mengatakan, 'kalian harus mengakui semua dosa kalian, jika tidak mengakui semua dosa, pengakuan di akhir nanti tak ada gunanya dan tak satu pun dosa kalian yang akan diampuni'," ujar Green menirukan ucapan para pendeta di sekolahnya dulu.

Buat Green, doktrin pengakuan dosa adalah doktrin aneh dan tidak lebih dari konspirasi besar untuk mengendalikan orang lain. "Mengapa? Mengapa saya harus mengakui dosa-dosa saya pada para pendeta itu? Tidak bisakah saya meminta pada Tuhan saja untuk mengampuni saya? Apalagi menurut Alkitab Yesus berkata, berdoalah pada Bapak (Tuhan Yesus) untuk meminta ampunan atas dosa-dosa kita. Jika demikian, mengapa saya harus datang pada seorang pendeta untuk meminta pengampunan dosa?" papar Green.

Green merasa ada persoalan besar dalam doktrin Katolik, doktrin inkarnasi dimana tuhan bisa menjelma menjadi manusia.

Mencari Jawaban

Ketika usia 11 tahun, ayah Green mendapat pekerjaan sebagai Manajer Umum di Bank Barclays di Kairo. Sejak itu, sampai 10 tahun kemudian, Mesir menjadi tempat Green menghabiskan liburan sekolah, karena Green tetap bersekolah di Inggris.

Green selalu menikmati liburannya di Mesir, dan ketika ia kembali ke Inggris, banyak pertanyaan yang menghantui pikirannya. Doktrin ehidupan Barat yang ia kenal selama ini, selalu mengukur kebahagiaan hidup dengan kecukupan dan terpenuhi kebutuhan materi. Membandingkannya dengan kehidupan masyarakat Muslim di Mesir, Green jadi bertanya-tanya, mengapa ia harus tinggal di sini (Inggris)? Apa tujuan hidupnya? Untuk alasan apa manusia ada? Apa arti semua ini? apa artinya cinta? hidup itu untuk apa?

Green merenungi semua pertanyaan dalam benaknya. Bukan, hidupnya bukan hanya untuk sekolah, lulus ujian dengan nilai bagus, lalu kuliah, dapat gelar sarjana, kemudian dapat pekerjaan yang bisa memberikannya banyak uang. Lalu menikah, punya anak, mengirim mereka ke sekolah terbaik, dan seterusnya ...


http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/green.jpg

"Tidak, saya tidak percaya hidup hanya untuk melakukan itu semua," tukas Green.

Green termotivasi untuk mencari jawaban sesungguhnya. Ia pun mulai mencari tahu tentang ajaran agama lain, yang ia pikir bisa memberikan pandangan dan pemahaman padanya tentang apa hidup itu dan apa tujuan hidup sebenarnya.

Sebuah peristiwa penting pun terjadi. Selama 10 tahun bolak-balik berlibur di Mesir, Green hanya mengenal satu orang yang mau ngobrol dengannya secara terbuka tentang Islam. Suatu hari Green terlibat perbincangan dengan orang itu, dan ia seperti merasa tinju seorang Mike Tyson mendarat di mukanya.

Dalam perbicangan selama 40 menit, orang itu akhirnya bertanya pada Green, "Kamu percaya Yesus itu Tuhan?" Green menjawab, "Ya." Lalu orang itu bertanya lagi, "Dan kamu percaya Yesus mati di salib?". Green menjawab, "Ya."

"Jadi kamu percaya Tuhan itu mati," tanya orang itu lagi.

Pertanyaan itu seakan menampar muka Green, dan ia tiba-tiba menyadari bahwa fakta itu sangat bodoh dan tidak masuk akal, bagaimana Tuhan bisa mati, mana mungkin manusia bisa membunuh Tuhan. Mendadak Green tersadar bahwa selama ini ajaran Katolik telah mengindoktrinasinya dengan doktrin-doktrin yang membuat hidupnya tak nyaman.

Dalam usia muda, antara 19-20 tahun, Green menjalani kehidupannya sebagai hippis. "Saya berkata pada diri sendiri, lupakan soal agama, soal spiritualitas, lupakan semuanya. Mungkin hidup itu tidak ada maknanya, tak ada yang lebih penting dalam hidup kecuali menjadi orang kaya," ujar Green.

Persoalannya kala itu, Green tidak punya uang banyak. Ia lalu berpikir untuk mendapatkan uang banyak. Ia berpikir tentang negara-negara yang dianggapnya kaya dan mudah untuk mendapatkan uang, mulai dari Inggris, Amerika yang menjadi negeri impian, Jepang si negara kaya dari hasil kemajuan teknologinya, sampai Arab Saudi yang juga salah satu negara kaya.

Di titik Arab Saudi, Green mulai berpikir tentang apa agama yang dianut orang Arab, apa kita suci mereka? Green langsung mengingat Al-Quran dan ia pun pergi ke sebuah toko buku untuk membeli Al-Quran yang dilengkap dengan terjemahannya.

"Saya adalah seorang yang bisa membaca dengan cepat. Saya masih ingat dengan jelas, saat itu saya naik kereta, duduk dekat jendela dan membaca terjemahan Al-Quran. Saya memandang ke luar jendela sejenak, lalu membaca lagi. Saya bisa mengatakan inilah momen ketika saya menyadari dan memercayai bahwa Quran berasal dari Allah Swt," tutur Green.

Tak sekedar membaca, Green ingin mencoba apa yang diajarkan dalam Al-Quran. Pulang ke rumah, Green mencoba menunaikan salat meski ia tak tahu caranya. Ia cuma ingat pernah melihat juru masak keluarganya di Mesir menunaikan salat, dan Green mencoba meniru gerakan salat yang pernah dilihatnya itu.

Menjadi Seorang Muslim

Di hari selanjutnya, Green pergi ke sebuah toko buku yang merupakan bagian dari sebuah bangunan masjid. Ia melihat buku-buku tentang Nabi Muhammad dan buku tentang salat. Ketika melihat buku-buku itu Green berdecak kagum, "Wow, fantastis !"

Seorang lelaki lalu menyapanya, "Maaf, apakah Anda muslim?"

Green lalu menjawab, "Dengar, saya percaya hanya ada satu Tuhan dialah Allah Swt dan saya percaya Muhammad adalah utusan-Nya,"

"Kamu seorang Muslim !" pekik orang tadi

"Terima kasih," jawab Green.

Orang itu lalu berkata lagi, "Ini hampir masuk waktu salat, Kamu mau salat bersama-sama?"

Hari itu hari Jumat, karenanya masjid penuh dengan jamaah yang akan salat Jumat. Green ikut salat meski masih bingung dan gerakannya banyak yang salah. Tapi hari itu menjadi hari bersejarah bagi Green, hanya dalam waktu lima menit, ia mendapatkan banyak saudara baru, yang bersedia mengajarinya tentang Islam. Ya, hari itu juga, Green secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat yang menandai kemuslimannya. ( eramuslim.com )


READ MORE - Karena Saya Tak Percaya Tuhan Bisa Mati

1 Da’i Lawan 20 Pendeta Dihadapan 10.000 Orang, akibatkan 144 Masuk Islam dan 3 Pendeta Jadi Mualaf

1 Da’i Lawan 20 Pendeta Dihadapan 10.000 Orang, akibatkan 144 Masuk Islam dan 3 Pendeta Jadi Mualaf – Kabar gembira datang dari Ethiopia seputar perkembangan dakwah terbaru di sana Allahu Akbar.

Direktur pelaksana Dewan Internasional Untuk Pengenalan Islam (DIUPI), yang merupakan subordinat dari lembaga Islam Internasional, Rabithah Alam Islami, Syaikh Shalih bin Muhammad bin Abdul Wahid memuji kerja keras yang diupayakan kerajaan Arab Saudi di bidang dakwah kepada Allah.

Syaikh Shalih Abdul Wahid dalam keterangan persnya kepada kantor berita Saudi (WAS) melaporkan, buah pertama yang telah dipetik dari proyek ini adalah debat yang diselenggarakan di Ethiopia oleh salah seorang Da’i DIUPI di sana, yaitu Syaikh Qamar Husain, pengarang dua buah buku tentang Islam, Injil dan Taurat. Kedua bukunya itu laku keras, sampai-sampai kebanyakan pendeta di sana tergerak untuk membacanya. Hal itu mendorong mereka untuk meminta bertemu langsung dengan Syaikh Qamar. Jumlah mereka ada 20 orang.

Syaikh Shalih menjelaskan, setelah pertemuan itu, para pendeta itu meminta diadakannya debat terbuka di hadapan publik. Tak ayal, sekitar 10.000 orang yang terdiri dari umat Islam dan umat Nasrani hadir dalam debat terbuka yang bersejarah itu. Debat yang berlangsung selama 6 jam itu terfokus pada tiga tema. Hasilnya sungguh amat mencengangkan sekaligus menggembirakan kubu Islam di mana setelah debat itu usai, 144 orang yang terdiri dari laki-laki dan wanita masuk Islam dalam satu waktu, di antara mereka terdapat 3 orang pendeta.


http://static.arrahmah.net/images/_t/r_w_285/stories/etopp.jpg


Lebih lanjut Syaikh Shalih menambahkan, ketiga pendeta itu merasakan nikmatnya Islam dan setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat mereka bercita-cita untuk melaksanakan ibadah Haji. Cita-cita tersebut diamini oleh pihak DIUPI yang menyatakan kesediaannya menanggung ongkos haji ketiga muallaf tersebut bersama sejumlah Da’i.

Salah satu tema yang sangat menonjol sehingga menggugah hati para muallaf itu untuk masuk Islam dalam debat itu, seperti yang disiratkan Syaikh Shalih adalah apa yang dilakukan sang Da’i, Qamar Husain yang mengajak mereka berdiskusi seputar syubhat yang terdapat dalam kedua buku karyanya tersebut, terlebih karena beliau sudah hafal di luar kepala isi kedua bukunya itu. Ditambah lagi dengan diadakannya dialog bersama para pendeta itu di lokasi kiblat yang penyebutannya terdapat dalam Taurat mereka. Dalam hal ini, Da’i Islam itu membantah pendapat mereka melalui teks-teks Taurat yang menyatakan bahwa Nabi Isa AS menyebutkan agar mereka menghadap kiblat selain Baitul Maqdis sepeninggal beliau.

Informasi yang terdapat dalam teks Taurat tersebut menurut Syaik Qamar, tidak berani diotak-atik oleh para pendeta maupun diinterpretasikan. Karenanya, beliau mengingatkan mereka terkait hal itu dengan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah yang berbunyi (artinya),“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS.al-Baqarah:144)

Syaikh Shalih, direktur pelaksana DIUPI menjelaskan, misi DIUPI adalah memperkenalkan Islam, dengan target memperkenalkan keindahan-keindahan Islam, mempublikasikan gambaran yang benar tentang masyarakat Islam dalam beragam bahasa, membela Islam di seluruh medan kehidupan serta bekerja untuk merealisasikan risalah Islam dalam menyebarkan keamanan, kedamaian, pembangunan peradaban, menjaga hak-hak Islam dan menyebarkan risalah Islam yang abadi ke seluruh dunia.

Ia menyebutkan, DIUP memiliki 10 proyek saat ini, di antaranya Kafalah Du’at (Menanggung biaya hidup para Da’i) dan mereka yang mengenalkan Islam kepada umat manusia. ( Alsofwah )


READ MORE - 1 Da’i Lawan 20 Pendeta Dihadapan 10.000 Orang, akibatkan 144 Masuk Islam dan 3 Pendeta Jadi Mualaf

Setiap Kristen Selalu Mencoba Mempengaruhi Seseorang menjadi Kristen

Setiap Kristen Selalu Mencoba Mempengaruhi Seseorang menjadi Kristen - Saya mencintai Allah karena Ia yang pertama kali mencintai saya - Saya menjadi Muslim sebab ada banyak alasan baik, namun yang terpenting, saya ingin dekat dengan Tuhan dan menerima pengampunan dan penyelamatan abadi, tulis Ismail Abu Adam di akun YouTube miliknya. Padahal jauh sebelum menyatakan itu, Ismail yang awalnya penganut Kristen taat, ingin melakukan misi penginjilan ke komunitas Muslim yang selama ini ia pikir harus diselamatkan.

"Saya lahir besar sebagai Kristen. Tetapi dasar saya adalah Katholik Roma," kata Ismail. "Saya selalu meyakini Yesus adalah Tuhan dan saya berikan hidup saya kepadanya," tuturnya.

Ismail meyakini Yesus adalah penyelamat dan ia juga mempercayai peristiwa kematian, penyaliban hingga kebangkitan Yesus. "Juga konsep dosa asal, seratus persen semua itu saya yakini sebagai kata-kata tuhan," ungkap Ismail.

Sebagai penganut taat, ia pergi ke gereja setiap minggu dan aktif dalam kegiatan peribadatan. Bahkan ia kerap mengkotbahi teman-temanya dan mengajak mereka yang berbeda keyakinan untuk mempercayai agama yang ia anut.

Pada awal usia 20-an, Ismail mulai tertarik melebarkan kotbah ke umat Muslim. "Saya besar, tinggal di Amerika Utara. Di sana saya sangat jarang bertemu Muslim, yang ada hanyalah kaukasia dan kristen, jadi saya ingin menyakskan Kristen bisa disebarkan ke komunitas Muslim," ujarnya.


http://www.suaramedia.com/images/resized/images/stories/2011/1berita/3_islam/ismail-abu-adam_200_200.jpg

Sebelum benar-benar turun ke lapangan dan bersentuhan langsung dengan Muslim, Ismail memutuskan mengawali dari dunia maya. Ia mencoba mencari celah bagaimana Kristen bisa disebarkan lewat media tersebut. (foto: Republika.co.id)


Sebelum benar-benar turun ke lapangan dan bersentuhan langsung dengan Muslim, Ismail memutuskan mengawali dari dunia maya. Ia mencoba mencari celah bagaimana Kristen bisa disebarkan lewat media tersebut.

Ketika menelusuri internet itulah ia menemukan dan menyaksikan video yang ia anggap menarik; debat antara seorang Muslim dan penginjil. Muslim itu dari Afrika Selatan bernama Ahmad Deedat. Lewat debat, Ismael menyadari bila ia sangat paham injil. "Ia selalu menang dan mampu mematahkan serta membuat sanggahan jitu terhadap penginjil dari setiap aspek," tutur Ismael.

"Ia mematahkan argumen bahwa dosa asal itu tidak ada, bahwa Kristen bukan kata-kata Tuhan, serta menunjukkan bahwa Kristen adalah doktrin yang salah karena dibuat oleh intepretasi selip, sudah mengalami fabrikasi, modifikasi ditambah dan juga dikurangi oleh penulisnya," kata Ismail lagi.

Dedat, menurut Ismail, juga menyinggung doktrin trinitas, kebangkitan, penyaliban. "Terasa betul argumen lawan (penginjil-red) sangat lemah dan mudah dipatahkan. Harus saya akui, jujur saya tidak suka Ahmad Deedat saat itu," ungkap Ismail.

Ia bahkan frustasi dengan pembicara dari kubu Kristen. "Ia memegang gelar PhD di bidang teologi Kristen, tapi ia tak bisa mematahkan balik argumen Ahmad Deedat yang hanya bicara sendiri dan hanya didukung oleh Al Qur'an."

Saat itu Ismael berpikir Deedat tentu menggunakan Injil untuk membantah doktrin Kristen. Ia pun tergugah untuk mempelajari Kristen lebih lanjut dengan semangat kelak ia akan membantah argumen-argumen Ahmad Deedat.

Ismael mengaku tipe orang dengan pemikiran skeptis. "Saya sulit percaya dan meyakini sesuatu jadi saya perlu memelajari dan menyelediki sendiri untuk memahami dan meyakini sesuatu," ujarnya.

Saat memutuskan untuk lebih mendalami Kristen ia memilih dari prespektif Islam. "Sebelumnya saya tak pernah melakukan itu, memelajari Kristen dari prespektif selain Kristen dan Deedat benar-benar mengonfrontasi pemahaman saya," ungkap Ismail.

Ismail pun mengkaji Injil dan doktrin Kristen dari Islam. Ia memelajari keabadian, konsep trinitas, penyaliban Yesus, konsep juru selamat hingga kebangkitan, dosa asal. "Apakah benar injil adalah kata-kata tuhan," tuturnya.

Ketika mendalami Al Qur'an Ismail menyadari bahwa argumen Deedat ternyata benar. "Saya tiba-tiba merasa berada di jalan yang salah. Kristen bukanlah kata-kata Tuhan. Ini benar-benar sebuah tamparan keras bagi saya" kata Ismail.

"Saya telah menganut Kristen bertahun-tahun, saya lahir sebagai Kristen dan menjadi seorang Katholik selama 20 tahun, tiba-tiba semua yang saya yakini berbalik dari atas ke bawah. Tentu ini merupakan guncangan besar," tuturnya.

Saat itu belum timbul keinginan Ismail untuk menjadi Muslim. "Yang saya inginkan saat itu mengetahui secara mendasar kebenaran sesungguhnya," ungkapnya.

Islam pun mulai ia pelajari. Dari sana ia memahami Muslim hanya mempercayai satu tuhan dalam konsep bernama tauhid. Monoteisme, itulah kesimpulan yang ia peroleh dari agama Islam. "Mereka memanggil tuhan dengan Allah, mereka percaya Yesus adalah nabi, seorang messiah yang mengabarkan kebenaran saat dibangkitkan lagi, itu juga keyakinan besar yang saya anut," kata Ismail.

Lebih dalam mengkaji, Ismael menemukan konsep pengampunan dan penyelamatan Tuhan. Ia memahami pengampunan dalam Islam diperoleh dengan cara beriman kepada Tuhan, melakukan ajaran-Nya dan berbuat kebaikan sebagai wujud iman.

Ismail juga mengetahui bahwa Muslim mempercayai ada nabi setelah Isa yakni Muhammad. "Mereka meyakini itu sebagai kata-kata Tuhan dan semua ada dalam kitab yakni Al Qur'an," ujarnya. "Ini sesuatu yang baru bagi saya. Saya pernah tahu Islam, tapi tidak mendetail."

Saat itu Ismail mengaku mulai muncul rasa suka terhadap Islam. "Muslim mempercayai keberadaan Yesus. Bagi saya itu adalah sebuah tautan antara Islam dan Kristen dan itu membuat saya merasa nyaman. Saya seperti menemukan batu pijakan," tutur Ismael.

Begitu mengetahui bagaimana Muslim meyakini Tuhannya, bagaimana Nabi diutus membawa pesan, Ismail merasa dilahirkan untuk mempercayai itu. Ia pun memutuskan pergi ke masjid. "Saat itu saya pindah ke kota kecil dan di kota itu ada sebuah masjid. Saya ketuk pintunya dan berkata saya ingin berbicara dengan seseorang tentang Islam," tutur Ismail.

Setelah itu Ismail rutin meyambangi masjid tersebut saban minggu untuk berdiskusi dengan seorang imam di sana. Sang imam memberinya buku-buku bacaan tentang Islam dan juga biografi Rasul Muhammad. saw. "Ia meladeni dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya," kata Ismail.

Hingga suatu hari, sang Imam berkata kepadanya "Saya tidak ingin kamu menjadi Muslim kecuali kamu benar-benar yakin dengan agama ini." Mendengar itu Ismael lagi-lagi mengaku terkejut. "Selama saya menjadi Kristen saya selalu bertemu kotbah dan juga berkotbah untuk mengajak seseorang menjadi Kristen. Setiap Kristen selalu mencoba mempengaruhi seseorang menjadi Kristen," tuturnya. "Hampir tidak mungkin Kristen berkata, 'Saya tidak ingin kamu menjadi Kristen kecuali kamu yakin dan kembalilah kepada saya jika kamu sudah yakin'."

Ismail justru tertantang dengan ucapan sang imam. Apakah ini memang jalan sesungguhnya? "Ini justru menggelitik saya untuk mengetahui apakah Islam itu memang yang benar, yang harus diyakini? Sungguh tak ada yang memaksa saya untuk menjadi Muslim," tuturnya. "Saya melihat dalam Islam terdapat kebenaran dan itu tampak jelas sebagai cara hidup yang diinginkan Tuhan bagi saya," ujarnya.

Ketika Ismail mengingat Injil kembali, justru ia menemukan fakta Yesus yang diyakini sebagai tuhan tak pernah mengklaim dirinya adalah tuhan dan menyeru pengikutnya untuk menyembahnya. Membandingkan lebih jauh lagi, dalam Al Qur'an, Ismail menemukan janji pengampunan Allah akan diberikan bagi orang yang beriman, namun di Injil, kata 'janji' itu tak ada.

"Pengampunan dan penyelamatan diberikan Allah karena Ia mencintaimu, karena engkau bertobat, beriman kepadanya dan melakukan apa yang ia kehendaki. Itu sungguh jelas dan sederhana," kata Ismail. Sementara di Kristen, menurut Ismail, penyelamatan cukup sulit bagi pemeluknya.

"Pertama anda harus meyakini dahulu peristiwa pembunuhan kejam dan penyaliban seseorang yang tak berdosa, di mana darah ditumpahkan demi menyelamatkan dosa anda. Anda diciptakan dengan dosa asal. Tuhan menempatkan diri anda di dunia bersama dosa dalam hati atau jiwa anda. Semua itu justru tidak mencerminkan keadilan Tuhan," paparnya.

Ismail menilai pengampunan dan penyelamatan di Islam lebih masuk akal. "Pengampunan adalah milik Tuhan, pemberian Tuhan karena cinta, karena kita meminta kepada-Nya, karena kita meyakini-Nya," ujarnya. "Memang di Injil juga ada kata-kata yang mengandung kebenaran. Tetapi Islam lebih superior dan secara logika benar. Bagi saya itu sangat mengagumkan," imbuhnya.

Padahal selama ini Ismail selalu membayangkan Islam sebagai agama kekerasan, seperti menganjurkan pembunuhan. "Tapi ketika saya membaca Al Qur'an saya menemukan banyak ketenangan, kalimat mengandung kedamaian, kesunyian dan pencerahan. Karena itulah saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.

Kini Ismael meyakini Allah adalah tuhannya dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya. "Ia adalah raja sekaligus penyelamat saya di dunia dan akhirat. Dengan ini saya pun meyakini Yesus membenarkan ajaran Yesus sebagai seorang Muslim," ujarnya.

Saat ini Ismael mengambil disiplin Kajian Islam di perguruan tinggi. Dalam sepuluh tahun terakhir ia telah bepergian ke enam negara bermayoritas Muslim dan membaca puluhan buku-buku tentang Islam dan Perbandingan Agama. Ia bahkan sudah cukup fasih untuk berbincang dalam Bahasa Arab. Dalam akun YouTube-nya Ismail menulis, "Saya mencintai Allah karena Ia yang pertama kali mencintai saya." ( suaramedia.com )



READ MORE - Setiap Kristen Selalu Mencoba Mempengaruhi Seseorang menjadi Kristen

Kisah Seorang Kepala Gereja Methodis yang Akhirnya Memilih Islam

Kisah Seorang Kepala Gereja Methodis yang Akhirnya Memilih Islam - "Kenangan di awal masa kecil saya adalah mendengar suara lonceng gereja sebagai panggilan misa pada hari Minggu pagi, di sebuah kota kecil dan terpencil tempat saya dibesarkan. Gereja Methodis itu sudah tua, bangunannya terbuat dari kayu, dilengkapi dengan menara yang diatasnya terdapat lonceng gereja. Jaraknya cuma dua blok dari rumah saya. Ketika lonceng gereja berbunyi, kami sekeluarga berangkat ke gereja untuk mengikuti misa setiap hari Minggu pagi," Dr Jerald F. Dirks mengenang kembali masa kecilnya, mengawali kisahnya sebelum menjadi seorang muslim.

Di tahun 1950-an. gereja menjadi pusat kehidupan warga di kota-kota terpencil. Sejak kecil sampai kelas delapan, Dirks rutin mengikuti sekolah Alkitab yang diselenggarakan setiap bulan Juni, selama dua minggu. Ia juga tetap rajin datang ke gereja untuk mengikuti misa setiap Minggu pagi, dilanjutkan dengan sekolah Minggu. Dirks kecil mengumpulkan banyak pin sebagai tanda kerajinannya hadir setiap minggu dan mendapat sejumlah penghargaan karena mampu menghapal isi Alkitab.

Ketika Dirks duduk di bangku SMP, gereja Menthodis di kota tempatnya tinggal ditutup, sehingga ia dan keluarganya pindah ke gereja Methodis di kota lain yang terdekat. Gereja itu lebih besar sedikit dibandingkan gereja di kotanya. Pada masa itulah, Dirks mulai merasa terpanggil untuk menjadi pastor dan mulai memusatkan perhatiannya untuk mengabdi pada gereja.

Dirks yang mulai berangkat remaja aktif dalam organisasi Methodist Youth Fellowship, yang mengantarnya menjadi salah satu pengurus konferensi dan ketua distrik. "Saya juga menjadi 'penceramah' tetap dalam acara tahunan Youth Sunday," kata Dirks.

Aktivitas khutbahnya mulai menarik perhatian masyarakat luas. Dirks memberikan khutbahnya di berbagai tempat, selain di gereja. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi mahasiswa di Harvard College. Tekadnya menjadi pastor sudah bulat. Oleh sebab itu, ia juga mendaftarkan diri ke kursus perbandingan agama yang berlangsung selama dua semester. Pengajar kursus itu adalah Wilfred Cantwell Smith, yang memiliki spesifikasi sebagai pakar Islam.


http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/jerald.jpg
Dr. Jerald F. Dirks, Kepala Gereja Methodis yang Akhirnya Memilih Islam


"Selama kursus, saya tidak terlalu perhatian pada Islam dibandingkan perhatian saya pada agama lain, seperti Hindu dan Budha. Kedua agama yang saya sebut terakhir terlihat lebih mempengaruhi batin dan masih asing buat saya," tutur Dirks.

"Sebaliknya, Islam terlihat mirip dengan agama Kristen yang saya anut. Karenanya, saya tidak terlalu konsentrasi penuh pada Islam. Tapi, saya masih ingat tugas karya tulis tentang konsep wahyu dalam Al-Quran. Untuk memenuhi tuntutan dan standar kursus yang ketat, saya berhasil menemukan sebuah perpustakaan dimana terdapat sekitar 12 buku tentang Islam, yang semuanya ditulis oleh penulis non-Muslim. Saya juga menemukan dua terjemahan berbeda dalam bahasa Inggris tentang arti Al-Quran," sambung Dirks.

Di Harvard ia dijuluki "Hollis Scholar" karena Dirks menjadi salah satu calon mahasiswa teologi yang selalu diperhitungkan di akademinya. Ia lalu menjadi pastor muda di United Methodist Church, dan tak berapa lama kemudian mendapat lisensi sebagai pastor dari gereja tersebut.

Dirks lulus dari Harvard College tahun 1971. Ia lalu mendaftarkan diri ke Harvard Divinity School dan mendapat gelar Master of Divinity pada tahun 1974, setelah sebelumnya ditahbiskan masuk dalam jajaran kepastorang United Methodist Churc. Selama menyelesaikan pendidikan seminarinya, Dirks juga menyelesaikan program pendidikan untuk menjadi rohaniwan di Rumah Sakit Peter Bent Brigham di Boston. Setelah itu, ia bertugas sebagai pastor di dua gereja United Methodist di daerah terpencil di Kansas, selama beberapa tahun.

Menerima Islam

Dirks mulai berminat pada Islam setelah ia berkenalan dan berinteraksi dengan sejumlah orang Arab Amerika yang kebetulan muslim, untuk keperluan menerjemahkan dokumen-dokumen bahasa Arab, karena pada saat itu Dirks dan istrinya sedang melakukan riset tentang sejarah kuda Arab.

Kontak pertamanya adalah seorang muslim bernama Jamal pada suatu musim panas di tahun 1991. Untuk membantu menerjemahkan dokumen berbahasa Arab, Jamal datang ke rumah Dirks. Sore hari, ketika akan pulang, Jamal meminta izin menggunakan kamar mandi di rumah Dirks untuk berwudu karena sudah tiba waktu salat. Jamal lalu mengambil meminta lembaran koran yang digunakannya sebagai sajadah.

"Tanpa saya sadari, ketika itu Jamal sebenarnya sudah mempraktekkan dakwah. Ia tidak mengomentari fakta bahwa kami non-Muslim, dia tidak ceramah apapun tentang agamanya pada kami. Dia hanya memberi contoh pada kami," ujar Dirks.

Hampir satu setengah tahun berinteraksi dengan Jamal. Jamal tidak pernah menceritakan apapun tentang Islam atau bertanya tentang agama Dirks. Sebaliknya, Dirks justru mulai belajar dari Jamal, bagaimana ia salat tepat waktu, bagaimana ia berperilaku dalam berbisnis maupun bersosialisasi, dan terutama cara Jamal berinteraksi dengan dua anaknya.

Lewat Jamal, Dirks mulai berkenalan dengan keluarga Arab muslim lainnya. Dirks memperhatikan bagaimana keluarga-keluarga muslim itu menerapkan etika yang menurut Dirks, lebih tinggi dibandingkan etika yang diterapkan oleh keluarga-keluarga Amerika.

Setelah menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan keluarga muslim, tahun 1992, Dirks mulai menanyakan pada dirinya sendiri pertanyaan-pertanyaan yang serius, dimanakah ia dan apa yang ia lakukan. Desember 1992, Dirks mengakui bahwa ia tidak menemukan pertentangan antara keyakinan religiusnya dengan ajaran Islam. Dirks merasa siap untuk mengakui bahwa Tuhan itu Esa dan mengakui Nabi Muhammad Saw. Ia menyingkirkan buku-buku tentang Islam yang ditulis penulis non-Muslim dan mulai membaca terjemahan Al-Quran. Tapi ia masih ragu-ragu untuk membuat keputusan.

Bulan Maret 1993, Dirks dan istrinya liburan ke Timur Tengah. Waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Ia dan istrinya memutuskan untuk mencoba ikut berpuasa. Dirks bahkan ikut salat dengan teman-teman muslim yang baru ia kenal selama menikmati liburan itu.

Akhirnya, sekembalinya dari Timur Tengah, Dirks dan istrinya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah menjadi muslim, Dirks memperdalam pengetahuannya tentang Islam antara lain di Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saud di Arab Saudi pada tahun 1998. Tahun 1999. Dirks menunaikan ibadah umrah dan haji.

Sekarang, Dirks yang dikenal dengan nama Islam "Abu Yahya" menjadi salah satu cendekiawan muslim yang banyak menulis artikel dan buku tentang keagamaan. Ia juga menjadi memberikan kuliah tentang Islam di beberapa perguruan tinggi di AS, serta aktif dalam organisasi muslim di AS seperti ISNA, ICNA dan MAS. ( eramuslim.com )



READ MORE - Kisah Seorang Kepala Gereja Methodis yang Akhirnya Memilih Islam

Al-Qur'an Adalah Mukjizat Yang Mudah Dihafal Secara Benar Dan Tepat

Al-Qur'an Adalah Mukjizat Yang Mudah Dihafal Secara Benar Dan Tepat - Salah satu faktor yang mengokohkan keislaman H Insan LS Mokoginta (Wencelclaus) setelah meninggalkan Kristen adalah mukjizat Al-Qur'an yang mudah dihafal secara benar dan tepat. Padahal selama menjadi Kristen, muhtadin asal Manado ini belum pernah menjumpai para penginjil, pendeta, pastor dan umat kristiani yang hafal Alkitab (Bibel) dengan benar di luar kepala.

Untuk membagi pengalaman rohaninya, dalam berbagai kesempatan dakwah, Mokoginta tak pernah lupa berbagi ketakjuban terhadap kitab suci Al-Qur'an yang mudah dihafalkan oleh siapapun. Bahkan Mokoginta menuangkan dalam buku “Mustahil Kristen Bisa Menjawab: Berhadiah Mobil BMW.” Dalam buku ini, Mokoginta menggelar kuis terbuka: Jika ada yang hafal ayat Alkitab maka akan diberi hadiah mobil BMW.


http://www.suara-islam.com/news/images/stories/kristologi-88.jpg


Gayung bersambut, akhirnya Pendeta Budi Asali, M.Div merasa tersengat dengan tantangan Mokoginta. Maka beberapa bulan lalu pendeta dari Gereja Kristen Rahmani Indonesia ini menulis buku tanggapan balik “Siapa Bilang Kristen Tidak Bisa Menjawab?”

Anehnya, soal tantangan hafal Bibel di luar kepala tersebut, Pendeta Budi sama sekali tidak menjawab dengan pembuktian bahwa ada orang Kristen yang hafal Bibel di luar kepala tanpa kesalahan sedikit pun. Ia malah berkilah:

“Saya bukan Islam, dan tidak pernah menjadi Islam, dan juga tidak terlalu mendalami Islam, sehingga saya tidak terlalu tahu dengan persis apa sebabnya banyak orang Islam menghafal Al-Qur'an. Tetapi mungkin, karena adanya semacam kefanatikan terhadap bahasa Arab… Yang jelas, dalam Kristen tidak ada kefanatikan terhadap bahasa asli, dan juga tidak keharusan menghafal secara persis, dan tak ada pahala apa-apa dalam menghafalkan ayat-ayat Alkitab” (hlm. 212).

Memang Islam dan Kristen berbeda teologis dalam hal bahasa Kitab Suci. Islam sangat menekankan pentingnya bahasa asli Al-Qur'an yaitu bahasa Arab, sementara Kristen mengabaikan bahasa asli Bibel. Tapi tidak benar kesimpulan Pendeta Budi, bahwa perbedaan ini dilatarbelakangi oleh sikap fanatik terhadap bahasa tertentu. Perbedaan Islam dan Kristen dalam hal bahasa kitab suci bisa dijelaskan sbb:
1. Umat Islam membaca Al-Qur'an dalam bahasa Arab bukan karena fanatik, tapi karena Allah SWT mewahyukan Al-Qur'an dalam bahasa Arab (Qs Thaha 113, Az-Zumar 27-28, Az-Zukhruf 3, Ar-Ra’d 37). Sedangkan Alkitab (Bibel) tidak ada jaminan dari Tuhan, dalam bahasa apa kitab ini diinspirasikan.

Islam membedakan antara Al-Qur’an dengan “Terjemah Al-Qur'an” dalam berbagai bahasa. Bila ada kesalahan terjemah Al-Qur'an, bisa dicocokkan dengan nas asli Al-Qur'an dalam Bahasa Arab. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh umat Kristen yang sudah kehilangan bahasa asli Bibel.

2. Membaca Al-Qur’an sangat besar keutamaannya, yaitu dengan reward berupa nilai amal shalih sepuluh kali lipat. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, ia akan diberi imbalan amal shalih, dan satu amal shalih akan mendapat pahala sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HR Tirmidzi).

Inilah juga membedakan kitab suci Al-Qur'an dengan buku bacaan lain. Membaca saja sudah berpahala, terlebih lagi jika memahami dan mengamalkannya, tentu lebih banyak lagi pahalanya. Sedangkan membaca Bibel, tidak ada jaminan dari Yesus maupun Tuhan, bahwa membaca satu huruf Bibel mendapat kebaikan.

3. Umat Islam bersemangat untuk menghafal Al-Qur'an juga bukan karena fanatisme Arab, tetapi karena tingginya derajat para huffaz (penghafal) Al-Qur’an, antara lain sebagaimana dinyatakan Rasulullah dalam beberapa hadits: huffaz Al-Qur’an adalah keluarga Allah yang khusus (ahlullah wa khaasshatuh), mereka akan memperoleh kedudukan setinggi (sebanyak) ayat yang dia baca, akan diberi pahala dari setiap huruf yang dibaca sepuluh kebajikan.

Ini bukan berarti Islam mengutamakan pembacaan dan penghafalan lalu melalaikan pemahaman dan pengamalan. Bukankah “menghafal” adalah salah satu bagian daripada proses pemahaman suatu ayat? Sedangkan Bibel, sebagaimana pengakuan Pendeta Budi, sama sekali tidak pernah memberikan reward kepada orang yang menghafal ayat-ayat Bibel.

4. Umat Kristen tidak bisa membaca kitab suci dalam bahasa aslinya, karena naskah asli Alkitab yang disebut “autographa” sudah hancur dimakan umur. Alkitab yang ada saat ini adalah salinan dari salinan-salinan naskah kuno yang disebut “manuscript.” Manuskrip-manuskrip ini pun tidak tahan dimakan usia, karena itu disalin ulang oleh para penyalin sampai sekarang ini terdapat ribuan manuskrip Alkitab. Rev David J Fant dari New York Bible Society, mengakui bahwa naskah asli Alkitab telah hilang: “The question naturally arises, do any of the original manuscripts of the Bible still exist? The answer is No. The original manus¬cripts were on papyrus and other perishable materials and have long since disappeared” (Simple Helps and Visual Aids to Understanding The Bible, hlm. 6).

[Persoalan yang biasanya ditanya, adakah naskah-naskah asli Alkitab masih ada sehingga kini? Jawabannya tidak! Naskah-naskah asli di atas papirus dan bahan-bahan lain yang mudah rusak semuanya telah lama hilang].


Jadi, umat Islam membaca Al-Qur'an dalam nas Arab karena nas inilah yang disebut kitab suci Al-Qur'an yang orsinil sesuai dengan yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan umat Kristen mengabaikan pembacaan dan penghafalan Bibel dalam bahasa asli, karena mereka sudah kehilangan bahasa asli Alkitab. ( suara-islam.com )



READ MORE - Al-Qur'an Adalah Mukjizat Yang Mudah Dihafal Secara Benar Dan Tepat

Agama Kristen membatasi hak-hak kaum perempuan, sedangkan agama Islam memberdayakan kaum perempuan

Agama Kristen membatasi hak-hak kaum perempuan, sedangkan agama Islam memberdayakan kaum perempuan - Setelah masuk Islam, Laura Rodriguez--seorang perempuan Spanyol--memilih aktif dalam berbagai kegiatan advokasi bagi komunitas Muslim Spanyol. Sekarang ia menjadi ketua Union of Muslim Women's Rights Organization, yang bergerak dalam pembelaan hak-hak perempuan Muslim, terutama kaum imigran.

Mengapa ia tertarik untuk aktif dalam organisasi yang membela hak kaum perempuan, terutama para muslimah? Karena soal hak-hak perempuan inilah yang mendorong Laura untuk memeluk agama Islam.


http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/era/lauraa.jpg


Ia lahir dari keluarga Katolik dan mendapat pendidikan dari sekolah Katolik. Menurut Laura, agama Katolik yang dulu dianutnya, sangat membatasi hak-hak perempuan.

"Dalam ajaran Islam, kaum perempuan diberi banyak hak dibandingkan dalam ajaran Katolik. Agama Kristen membatasi hak-hak kaum perempuan, sedangkan agama Islam memberdayakan kaum perempuan," kata Laura pada surat kabar Turki, Hurriyet.

"Islam memberikan saya hak-hak sebagai perempuan, yang tidak diberikan dalam agama Katolik, seperti kebebasan sebagai individu, hak mendapat pendidikan, perlindungan hukum, hak dalam pekerjaan maupun dalam masalah seksual ..."

"Dalam agama Katolik, perempuan tidak boleh berkomunikasi langsung dengan Tuhannya. Perempuan tidak punya hak dalam masalah seksual, misi perempuan dalam agama Katolik, cuma untuk melahirkan anak saja. Agama Katolik juga tidak memberikan hak bagi perempuan untuk menggugat cerai," papar Laura.

Sekedar informasi, sampai saat ini, perempuan Spanyol yang ingin membuka rekening bank, harus sepengetahuan suaminya. Hal tersebut diungkapkan Yusuf Fernandez Ordonez, sekretaris Federasi Muslim Spanyol, organisasi afiliasi Union of Muslim Women yang dipimpin Laura.

Situasi berubah ketika negara-negara yang mayoritas penduduknya Kristiani, menerapkan sistem sekuler dan gereja-gereja mulai kehilangan pengaruhnya di masyarakat. Kaum perempuan Kristen mulai leluasa untuk mendapatkan hak-haknya, sehingga mereka bisa mengenyam pendidikan yang layak seperti halnya kaum lelaki.

Ketika ditanya mengapa sekarang kaum perempuan Kristen terkesan lebih berpendidikan, lebih maju dan lebih berkiprah dalam kehidupan pribadinya maupun sosial dibandingkan dengan kaum perempuan di negeri-negeri Muslim, Ordonez mengatakan, "Kebanyakan negara-negara Muslim sekarang, tidak merefleksikan Islam yang sebenarnya. Tapi di Iran, misalnya, jumlah kaum perempuan yang belajar di perguruan tinggi hampir sama banyaknya dengan kaum lelaki."

Sementara, Laura berpendapat, meski Islam memberikan banyak hak bagi kaum perempuan, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan kondisi kaum perempuan Muslim sekarang ini. Khusus di Spanyol, utamanya adalah para imigran. Menurut Laura yang sudah 17 tahun berkecimpung menangangi isu-isu imigran, kaum perempuan imigran menghadapi persoalan yang lebih pelik dibandingkan kaum lelaki imigran, apalagi jika menyangkut posisi para muslimah.

"Pemerintah Spanyol tidak membuat banyak kemajuan terkait peningkatan hak kaum perempuan Muslim. Undang-undang tentang kesetaraan lelaki dan perempuan yang berlaku di negara ini, tidak memasukkan isu-isu yang berhubungan dengan agama. Saat ini, tidak ada perwakilan dari kaum perempuan dalam Dewan Islam yang selama ini menjadi jembatan dialog antara komunitas Muslim dengan pemerintah," ujar Laura.

Selain itu, kata Laura, masjid-masjid di Spanyol masih banyak yang membatasi kaum perempuan untuk datang ke masjid. "Dan pemerintah mengabaikan persoalan ini," tukasnya.

Lebih lanjut Laura mengatakan, persoalan lainnya yang dihadapi komunitas Muslim di Spanyol adalah pemberitaan media massa yang cenderung negatif jika bicara soal Islam. Media massa menggambarkan citra yang buruk terhadap kaum lelaki dan perempuan muslim, seolah-olah kaum lelaki dalam Islam adalah pihak yang suka mendominasi serta gemar melakukan kekerasan terhadap perempuan. Sementara perempuan muslim digambarkan sebagai pihak yang "penurut" dan selalu dikorbankan.

"Kami menyelenggarakan acara-acara tentang komunitas Muslim di Spanyol, tapi perhatian media massa sangat minim. Mungkin beda, jika kami mengatakan akan menimpuki seorang perempuan di pusat kota Madrid, semua media massa pasti akan berkumpul," tukas Laura.

Persoalan lainnya di Spanyol, tambah Laura, Islam selalu diidentikan dengan ekstrimisme dan terorisme, dan selalu dipersoalkan lewat isu-isu imigrasi. "Padahal seharusnya, Islam harus dilihat sebagai bagian dari identitas Eropa yang tak terbantahkan," ujarnya.

"Ini persoalan identitas. Kami lahir sebagai orang Eropa, tapi kami muslim. Islam juga bagian dari identitas orang Eropa," tegas Laura.

Para imigran muslim di Spanyol pada dasarnya mudah berbaur dengan masyarakat negeri itu, dan komunitas muslim tetap menghargai serta mendukung pemerintahan monarki di Negeri Tango itu.

Menurut Laura, prasangka buruk menjadi dimensi sosial yang dihadapi komunitas Muslim di Spanyol. "Jika saya ingin masuk ke sebuah partai politik, mereka akan menolak saya karena saya mengenakan jilbab," tukas Laura. ( eramuslim.com )




READ MORE - Agama Kristen membatasi hak-hak kaum perempuan, sedangkan agama Islam memberdayakan kaum perempuan

Kisah Selebritis Hollywood, Paris Hilton Masuk Islam ... ???

Selebritis Amerika, Paris Hilton telah masuk Islam. Hal ini dikabarkan oleh juru bicaranya, Ian Brinkham, melalui CBS News.

"Dia memikirkan hal tersebut dalam beberapa waktu dan ketika ia dipenjara di Fasilitas Penahanan Century Regional pada tahun 2007, ia menemui beberapa orang yang telah memeluk islam " Ujar Brinkham .


http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/paris.gif&h=235&w=355&zc=1
Kisah Selebritis Hollywood, Paris Hilton Masuk Islam ... ???


Dengan menjadi muslim, Paris Hilton telah memutuskan untuk menghindari kehidupan lamanya sebagai selebriti dengan kehidupan bebas dan ugal ugalan.

Ketika berbicara dari pusat studi Islam di Jeddah, ia berkata: "Saya telah menemukan kedamaian sesungguhnya dalam kehidupan saya, saya dulu dikenal sebagai wanita malam, dan kurang bermoral, tapi sekarang semua itu telah berubah. Alhamdulillah.. "

Hilton berencana untuk kembali ke Los Angeles minggu depan untuk mulai mendirikan sekolah Islam di pusat Beverly Hills yang begitu gemerlap.

"Lupakan saja tentang Scientology atau Kaballah. Ini adalah agama terbaik yang pernah ada sekarang. saya tidak akan mengenakan tali merah di pergelangan tangan atau berjalan-jalan seperti robot yang berbicara tentang Xenu. Islam adalah agama yag wajib dianut. dan saya akan menyebarkan ayat ayat Al-Quran kepada semua orang, "kata Paris Hilton bersemangat.

Paris Hilton juga berencana untuk mengubah namanya menjadi 'Tahirah'. sebuah kata dalam bahasa Arab yang berarti'murni, atau suci'.

Sekolah Islamnya akan dimulai pada bulan Juli mendatang dan akan dijadikan tempat spiritual populer yang akan menghantui banyak selebriti Hollywood. ( voa-islam.com )



READ MORE - Kisah Selebritis Hollywood, Paris Hilton Masuk Islam ... ???

Kisah Chika Nakamura, Petinju Profesional Wanita Amerika Menemukan Islam Di Afrika

Kisah Chika Nakamura, Petinju Profesional Wanita Amerika Menemukan Islam Di Afrika - Sehelai pashmina berwarna ungu terang tampak menghiasi dan menutup seluruh bagian rambut di kepalanya. Jika dilihat sepintas, sosoknya sama seperti kebanyakan perempuan Muslimah lainnya. Namun, siapa yang bisa menduga kalau perempuan berwajah oriental ini sejatinya adalah seorang atlet tinju profesional di negeri Paman Sam dan kini seorang Muslimah.

Chika Nakamura, demikian nama lengkap pemberian kedua orang tuanya. Ia bukanlah orang Amerika asli ataupun Amerika keturunan. Kedua orang tuanya adalah orang Jepang asli. Ia lahir dan tumbuh hingga remaja di Nara, Jepang. Tiga belas tahun yang lalu, dia memutuskan pindah ke Amerika Serikat untuk mengejar kariernya sebagai petinju. Saat itu, usianya terbilang masih belia, 19 tahun.


http://static.republika.co.id/images/chika_nakamura_110105072623.jpg


Bagi kebanyakan kaum perempuan, tinju bukanlah sebuah profesi yang menarik. Selain sarat dengan kekerasan, profesi ini juga tidak cukup menjanjikan dari segi pendapatan. Saat ini, memang hanya ada sedikit petinju wanita yang memiliki penghasilan tinggi, salah satunya adalah Laila Ali, yang tak lain adalah putri petinju legendaris dunia, Muhammad Ali.

Karena alasan itu pula, keluarga Chika di Jepang tidak pernah memberikan dukungan kepada wanita bertubuh kekar itu untuk menekuni karier di dunia tinju. Kendati tidak menda pat restu dari orang tuanya, hal ini tidak menyurutkan langkah Chika untuk terus menekuni profesi ini.

Bahkan, dia menjadikan tinju sebagai sebuah pekerjaan penuh waktu. Di saat sedang tidak ada tawaran bertanding, Chika mengisi harinya dengan melatih para calon petinju wanita.

Karier di dunia tinju mulai ditekuni Chika secara serius setelah bergabung dengan sasana tinju Gleason's Boxing Gym yang berada di Brooklyn, New York. Sejak 2003, ia lalu mulai terjun ke dunia tinju profesional untuk kategori kelas ringan.

Di dunia pukul-memukul itu, Chika pernah menempati peringkat ke-10 petinju wanita dunia versi WIBA. Dengan rekor tanpa terkalahkan dari lima kali tanding, pada 2007, ia memperoleh gelar New York State Golden Gloves.

Di atas ring, perempuan kelahiran 32 tahun silam ini sangat ditakuti lawan-lawannya. Hal itu terlihat ketika pada 29 Juni 2007 silam, lawan Chika yang sedianya akan melakoni sebuah petarungan, hari itu urung tampil di atas ring. Menurut pihak panitia, petinju yang akan menjadi lawan Chika tiba-tiba menyatakan mundur dari pertarungan itu pada menit terakhir untuk alasan yang tidak diketahui. "Kadang-kadang lawan akan terintimidasi. Kadang-kadang mereka tidak serius dalam bisnis ini."

Meski para rekannya sesama atlet tinju kerap menghadiri pesta yang menyuguhkan minuman beralkohol, tidak demikian dengan Chika. Kehidupannya di Amerika bisa dikatakan sebagai sebuah pengorbanan.

"Saya hidup seperti layaknya seorang biarawan. Saya tidak minum, tidak berpesta, dan tidak merokok. Sebaliknya, saya mengonsumsi makanan sehat, pergi tidur tepat waktu, dan berlatih setiap hari. Jadi, kapan pun ada pertandingan, mental saya selalu siap," ujarnya seperti dikutip dari laman Women's Sports Foundation.

Sejak memutuskan untuk pindah ke Amerika, hubungan Chika dan orang tuanya di Jepang bisa dikatakan renggang. Mereka tidak pernah saling menghubungi satu sama lain. Untuk mengisi kekosongan peran kedua orang tuanya, Chika telah menganggap sang pelatih Carlos Ortiz dan istrinya, Maria, sebagai keluarga barunya.

Dalam kehidupan tinjunya, Ortiz merupakan orang kelima yang pernah melatih Chika. Namun, bagi Chika, Ortiz adalah sosok pelatih yang selama ini dicarinya. "Itu takdir. Saya sangat beruntung bisa memiliki dia (sebagai pelatih). Dia seperti pahlawan bagi saya. Bukan Oscar De La Hoya, bukan Mayweather, ataupun Muhammad Ali," kata Chika.

Sebelum terjun sebagai pelatih, Ortiz merupakan salah satu petinju besar dunia. Dia pernah menjadi juara dunia tiga kali. Gaya serangannya di atas ring dikenal unik. Chika memegang rekor delapan kali menang, tiga kali dengan Knock Out (KO), dan satu kali kalah.

Menemukan Islam Kehidupan Ortiz yang sederhana memberikan pengaruh yang cukup siginifikan pada pribadi seorang Chika. "Saya belajar banyak dari dia. Tidak hanya soal tinju, tapi juga tentang hidup dan makna kehidupan. Semakin saya berjuang, semakin saya belajar banyak mengenai kehidupan rohani dan keinginan untuk memberi."

Kini, dunia di atas ring bagi Chika tidak selamanya menjanjikan. Ia tidak bisa menjadikan tinju sebagai satu-satunya jalan dan tujuan hidupnya. Setelah keberadaannya tidak lagi dibutuhkan dalam dunia tinju, ia berharap suatu saat bisa mengabdikan dirinya pada pekerjaan sosial.

Untuk itu, sejak beberapa tahun terakhir, ia memutuskan untuk kembali ke bangku sekolah. Dengan dukungan dari Maria, ia mendaftar di sebuah sekolah tinggi dan mengambil jurusan studi bahasa Inggris. Dan, sejak saat itu, Chika mulai mengurangi aktivitasnya di dunia tinju.

Perubahan yang terjadi dalam diri Chika dalam memandang kehidupan ini pada akhirnya telah membawanya pada Islam. Tepat sehari sebelum masuknya bulan Ramadhan 1431 H lalu, Chika memutuskan untuk berikrar menjadi seorang Muslimah sejati. Tidak banyak orang yang mengetahui perihal keislamannya ini.

Setelah memeluk Islam, kini keseharian Chika banyak dihabiskan di masjid, baik untuk mendalami kitab suci Alquran maupun berdiskusi mengenai ajaran Islam lebih jauh. Beberapa kali ia didapati tengah mengikuti kajian Islam yang biasa diselenggarakan di sebuah masjid di pusat Kota Manhattan.

Kini, Chika menutup auratnya dengan busana Muslimah. Berbeda dengan saat masih menjadi atlet tinju, mualaf yang berasal dari negeri Matahari Terbit itu tak lagi tampak kekar. Kini, Chika tampak anggun. Ia telah memilih Islam sebagai jalan hidup. Hidayah Allah memang bisa diperoleh oleh siapa saja yang dikehendaki-Nya. ( republika.co.id )



READ MORE - Kisah Chika Nakamura, Petinju Profesional Wanita Amerika Menemukan Islam Di Afrika