Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan

Antara Mekkah dan London

Antara Mekkah dan London --"Mekkah" sudah berada di tengah kota London, karena umat Islam melaksanakan Shalat Jumat di sebuah jalan di London akibat masjid sudah tidak dapat menampung mereka, demikian laporan harian terkemuka di London "The Daily Mail", akhir pekan.


http://www.hidayatullah.com/berita/gal777670162.jpg

Dalam artikel bertajuk "The Mecca of the city: In a London street, the faithful find a way to pray as their mosque overflows", harian itu melaporkan banyak orang yang merasa terkejut ketika datang ke daerah itu pada hari Jumat.

Mereka melihat banyak orang berdoa bersama di luar dan hal itu bukanlah pemandangan sehari-hari di Inggris. Dalam bayangan gedung pencakar langit dan ruang kaca serta baja di Mile Square, London, ratusan umat Muslim berlutut di jalanan melaksanakan Shalat Jumat.

Selama satu jam di jantung distrik keuangan kota London, kegiatan itu menjadi sangat populer. Jamaah memenuhi jalan-jalan di sekitar masjid komunitas kecil.

Para pekerja di kota dengan setelan jas, berbaur dengan umat Muslim dari komunitas lokal Bangladesh yang tumpah sampai ke jalan-jalan di samping Bentley dan daerah perparkiran mobil.

Masjid Brune Street, di Spitalfields, London Timur, merupakan masjid terdekat untuk Shalat Jumat bagi pekerja di City dan juga banyak yang datang dari Brick Lane dan Whitechapel.

Para pekerja profesional mengisi jalan di bawah gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Mereka melakukan Shalat Jumat dan bersujud menghadap ke Mekkah.

Ruangan masjid yang hanya dapat menampung 100 orang pada hari Jumat, sekitar 300 umat Muslim yang bekerja di sekitar gedung bermunculan berbaur bersama penduduk setempat yang juga ingin menjalani Shalat Jumat, sehingga meluber.

Salah seorang pekerja yang mengenakan jas, setelah melaksanakan Shalat Jumat menyebutkan bahwa mereka yang ingin melakukan Shalat Jumat pada setiap tahun terus berkembang.

"Itu tumbuh dan berkembang dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.

Awalnya, hanya dimulai dalam satu ruangan di masjid, tapi sekarang orang-orang datang dari seluruh penjuru kota, karena tidak tersedia tempat bagi mereka di dalam gedung untuk melaksanakan Shalat Jumat.

"Semua laki-laki di City melaksanakan Shalat Jumat. Sangat menyenangkan berada di luar pada hari seperti hari ini, tapi tidak begitu menyenangkan saat hujan," ujarnya.

"Banyak orang yang merasa terkejut ketika datang ke daerah itu pada hari Jumat, karena ada banyak orang berdoa bersama di luar, sedang melaksanakan shalat tepat di tengah Kota," katanya, dimuat Antara.* ( hidayatullah.com )


READ MORE - Antara Mekkah dan London

Inilah Aturan Main Mendirikan Gereja Di Wilayah Muslim

Inilah Aturan Main Mendirikan Gereja Di Wilayah Muslim - Kasus GKI Yasmin semakin membuktikan kebenaran laporan International Crisis Group. Menurut ICG, salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antarumat beragama di Indonesia adalah agresivitas penginjilan di daerah Muslim.

Cairkan, lalu cabut. Demikian sikap Pemerintah Kota Bogor, dalam kasus IMB (Izin Mendirikan Bangunan) Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Curug Mekar, Bogor.

Pada 2008, Pemkot Bogor membekukan IMB gereja yang terletak di Jalan KH R Abdullah Bin Nuh tersebut, lantaran pendiriannya dilampiri surat keterangan manipulatif. Munir Karta, eks Kepala RT VII/III Curug Mekar, merekayasa surat pernyataan tidak keberatan dari warga dan memalsukan tanda-tangannya. Pengadilan Negeri Bogor pada 20 Januari 2011 menyatakan Munir Karta melanggar pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat dan pasal 378 KUHP perihal perbuatan curang.

Pihak gereja tak terima pembekuan IMB. Mereka menggugat ke pengadilan tinggi. Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung pada 4 September 2008 memenangkan gugatan panitia pembangunan Gereja Yasmin tentang Pembekuan IMB GKI Yasmin. Pemerintah Kota Bogor kemudian mengajukan banding, dan Pengadilan Tinggi TUN di Jakarta mengeluarkan keputusan yang menguatkan keputusan PTUN Bandung.

Pemkot Bogor lalu mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung. Pada Desember 2010, MA menguatkan keputusan PTUN Bandung agar Dinas Tata Kota dan Pertamanan Kota Bogor mencabut surat Pembekuan IMB GKI Yasmin.

Walikota Bogor lalu menerbitkan Surat Keputusan yang melaksanakan amar MA itu. Namun, berdasarkan hasil rapat Muspida Kota Bogor pada Januari 2011, Walikota juga memutuskan pencabutan IMB GKI Yasmin.


http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR_fe0PQs5CU_Y6dAg4GU9uQ7JZcNtQimDWp8DQcTIb_DwaLijxcw


Rapat Muspida mempertimbangkan aspirasi warga, misalnya dari Forum Umat Islam (FUI) Bogor Raya. Dalam surat pernyataannya pada Desember 2010 yang diteken Drs Iyus Khaerunnas Malik (Ketua) dan HWillyuddin Abdul Rasyid Dhani SPd (Sekretaris), FUI Bogor Raya meminta Pemkot Bogor mencabut SK IMB GKI Yasmin."’Karena dalam proses pengajuannya tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah (cq. PBM dua Menteri) dan dilakukan dengan penuh kebohongan-kebohongan serta mengelabuhi warga masyarakat,’’ demikian sebut FUI mengenai cacat hukum IMB GKI tersebut.

Lagi-lagi GKI Yasmin biar salah tak mau seleh (menerima). Mereka lalu menggalang dukungan pencabutan IMB dengan menggoreng isu SARA (suku, agama, ras). Pada Maret 2011, mereka mengerahkan sejumlah anggota jemaat yang kebanyakan perempuan, untuk menentang penyegelan GKI Yasmin. Tak bisa masuk bangunan gereja, jemaat lalu menggelar lapak di trotoar untuk menjalankan misa. Aparat Pemkot Bogor menertibkan aksi provokatif ini.

Pada Oktober 2011, politisi Golkar Nusron Wahid mengumpulkan sejumlah tokoh untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Pesantren Al-Ghozaly, Kota Paris, Bogor. Agenda sebenarnya dari acara yang dihadiri mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih, Romo Benny Susetyo, dan politikus PDI Perjuangan Maruarar Sirait, ini adalah menyerukan Gerakan Nasional Hidup Bersama Pancasila. Salah satu kegiatannya, mengunjungi GKI Yasmin.

“Dalam kasus GKI Yasmin jelas menggambarkan adanya pemikiran dan gerakan anti keberagaman,” kata Wahid. Dia menambahkan, Pancasila tidak hanya dibangun oleh para ulama namun juga tokoh nasionalis dari berbagai agama.

Namun, anggota DPRD Kota Bogor menolak anggapan bahwa dalam persoalan Gereja Yasmin terdapat unsur SARA. "Kita sudah menyepakati dalam persoalan Gereja Yasmin, tidak berkaitan dengan SARA dan marilah kita semua menyatukan misi untuk sebuah solusi yang terbaik," ujar Ketua Komisi D DPRD Kota Bogor, Najamudin.

Walikota Bogor, Diani Budiarto, juga menepis tudingan bahwa dirinya menghambat kebebasan dalam kasus ini. “Ini bukan soal hambat menghambat orang yang mau beribadah, tetapi ini masalah hukum yang harus sama-sama kita taati,” tandas Budiarto. Ia menambahkan, “Puluhan tahun saya hidup di Bogor dan selama itu saya lihat orang Bogor yang agamanya bermacam-macam rukun-rukun saja.”

Hari Djunaedi, tokoh masyarakat Curug Mekar yang diadili dengan tuduhan sebagai provokator keributan di GKI Yasmin, di persidangan dirinya membeberkan kronologi pembangunan gereja yang menyalahi aturan main.

Sejak 2002 hingga 2006, panitia pembangunan GKI Yasmin melobi Ketua RT Muchtar AM untuk minta izin pembangunan gereja. Namun dalam lima kali kunjungan, permintaannya selalu ditolak Ketua RT. Alasannya, mayoritas masyarakat di wilayah tersebut Muslim.

Pada tanggal 15 Januari 2006, berlangsung pertemuan warga di kantor Kelurahan Curug Mekar. Saat itu warga RT 08/08 menolak pembangunan gereja tersebut melalui surat yang di sampaikan langsung ke lurah oleh Ketua RT. Namun surat ini kemudian tidak disertakan dalam pengajuan izin ke Pemkot.

Sejak Pebruari 2007, panitia mulai membangun gereja berdasarkan IMB yang diterbitkan Pemkot Bogor. Masyarakat terhenyak, lalu menyalurkan aspirasinya melalui Ormas-ormas Islam.

Pada Maret 2007, DPRD Kota Bogor setelah meninjau lapangan dan berdialog dengan pihak gereja serta perwakilan warga sekitarnya, memutuskan penghentian sementara kegiatan pembangunan gereja.

Namun perintah itu tak diindahkan pihak gereja, sehingga ditegur Ketua RT setempat dengan surat bernomor 148/17/RT-08/IV/2007. Warga pun turut memprotesnya.

Pada Pebruari 2008, Forum Warga Curug Mekar mengajukan surat permohonan pembatalan IMB pembangunan gereja ke Dinas Tata Kota. Aspirasi ini dikabulkan dengan terbitnya surat pembekuan IMB pembangunan gereja pada 14 Pebruari 2008.

Namun, sejak Maret 2009, kegiatan pembangunan gereja berlangsung lagi. Warga Muslim Curug Mekar memprotesnya dengan memasang spanduk penolakan dan penutupan akses ke area pembangunan gereja.

Demo warga pada 25 April 2009 pada kegiatan pembangunan gereja berlangsung agak ricuh. Hari Djunaidi ditangkap.

Pada 15 Mei 2009, Warga membentuk tim investigasi independen untuk memverifikasi kebenaran data yang dilampirkan pihak gereja. Ternyata, data tersebut manipulatif. Beberapa orang warga menyatakan tidak pernah menandatangani pernyataan tersebut. Bahkan ada yang nama dan tanda tangannya dicatut begitu saja.

Achmad Imam, Ketua FORKAMI (Forum Komunikasi Muslim Indonesia) Bogor, menandaskan, sengkarut GKI Yasmin ini murni soal pelanggaran hukum.

"Ini murni persoalan hukum, kami tidak melarang umat lain beribadah, termasuk membangun rumah ibadah. Akar permasalahannya adalah kenapa IMB bisa keluar sementara warga tidak satupun memberi izin," jelasnya.

Imam membeberkan, pelanggaran tak sekadar pemalsuan tandatangan warga. Membuka paksa segel Pemkot adalah tindakan kriminal yang melanggar Pasal 232 KUHP Pasal 1 ayat 1. Kegiatan kebaktian di pinggir jalan oleh Jemaat GKI Yasmin juga menyalahi Perda nomor 28/1990 pasal 2 G tentang alih fungsi lahan, serta Perda nomor 6/2008 tentang mengalihfungsikan lahan, taman tanpa izin wali kota.

"Sudah jelas gereja itu disegel dan tidak boleh ada aktivitas, tapi mereka melakukan kebaktian di jalan. Kami tidak melarang mereka beribadah di gereja. Kan sudah terlalu banyak gereja bertebaran di mana-mana," ujarnya.

Wali Kota Bogor Diani Budiarto menegaskan, pihaknya dalam hal ini hanya ingin meengakkan hukum tentang izin mendirikan rumah ibadah. Dan, sudah menjadi kewajiban Pemerintah Daerah untuk menjaga keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat.

Pemkot Bogor pun sudah menawari GKI untuk memindahkan lokasi pembangunan gereja dan membantu proses pemindahan, serta mengganti segala kerugian biaya yang sudah dikeluarkan GKI. Termasuk tawaran membeli lahan yang menjadi lokasi sengketa. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil Rapat Muspida, dan sudah disampaikan di dalam rapat Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Bogor.

“Jadi tidak ada niat dan tindakan kami untuk menghambat, apalagi melarang umat agama apapun untuk membangun rumah ibadah dan melaksanakan ibadah,” tegas Diani Budiarto.

Menurut Sekjen FUI, Muhammad Al Khaththath, kasus GKI Yasmin ini semakin membuktikan kebenaran laporan hasil investigasi International Crisis Group (ICG) pada 24 November 2010.

Dalam laporan berkode “Asia Briefing N°114” itu, ICG yang bermarkas di Brussels, Belgia, menyimpulkan bahwa akar masalah insiden bentrokan antar pemeluk Islam-Kristen di Ciketing, Bekasi, adalah maraknya gerakan kristenisasi di Bekasi yang sebagian didanai dari luar negeri.

Insiden Ciketing terjadi pada 12 September 2010. Saat itu, ratusan jemaat HKBP yang sedang berpawai provokasi terlibat perkelahian dengan belasan warga muslim di kelurahan Mustika Jaya Bekasi. Hasian Sihombing tertusuk. Pihak HKBP lalu menggunakannya untuk berkampanye menggalang dukungan.

Hal itu disuarakan antara lain melalui berbagai media Kristen. Misalnya tajuk berita: “Hentikan Langkah Kelompok Intoleran” (tabloid Reformata edisi Oktober 2010), “Nasib Gereja Makin Terancam” (majalah Spektrum edisi November 2010), “Intoleransi Pada Umat Kristen Meningkat” (majalah Narwastu edisi November 2010), “Kaum Minoritas Kehilangan Tempat” (tabloid Zaitun edisi 55).

Insiden Ciketing juga dipolitisasi oleh ephorus HKBP untuk mencabut Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) Nomor 8 dan 9 tahun 2006 tentang Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah.

Padahal, menurut investigasi Ormas Islam Bekasi, akar masalah pembangunan Gereja HKBP itu adalah pemalsuan tandatangan dan fotokopi KTP warga Muslim dalam proses perizinan gereja HKBP. Manipulasi ini dilakukan dengan suap Rp 100.000 hingga Rp 1 juta untuk membeli sebuah foto copy KTP.

Terdesak opini publik, polisi sempat menangkap beberapa tokoh Islam Bekasi yang kemudian sempat diadili dan dihukum bui beberapa bulan. Namun Laporan ICG pimpinan Sidney Jones menguak akar masalah sebenarnya dari peristiwa semacam ini. Laporan bertajuk “Indonesia: ‘Christianization’ and Intolerance”, itu menyimpulkan bahwa salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antarumat beragama di Indonesia adalah agresivitas kegiatan penginjilan di daerah Muslim (aggressive evangelical Christian proselytizing in Muslim strongholds).

“On the Christian side, several evangelical organizations committed to converting Muslims have also set up shop in Bekasi, some funded internationally, others purely home-grown. Yayasan Mahanaim, one of the wealthiest and most active, is particularly loathed by the Islamist community because of its programs targeting the Muslim poor. Another, Yayasan Bethmidrash Talmiddin, run by a Muslim convert to Christianity, uses Arabic calligraphy on the cover of its booklets, suggesting they are Islamic in content, and requires every student at its school as a graduation requirement to convert five people,” demikian antara lain beber ICG."

(Di pihak Kristen, beberapa organisasi penginjil yang berkomitmen untuk mengkristenkan Muslim ada di Bekasi, beberapa didanai dari luar negeri, yang lain murni lokal. Yayasan Mahanaim, salah satu organisasi neo-Pentakosta yang paling bonafit serta aktif, sangat dibenci kaum muslim garis keras karena program-programnya menjadikan orang-orang muslim yang miskin sebagai objek pemurtadan. Sebelumnya, Yayasan Kaki Dian Emas, yang dijalankan oleh pendeta yang tadinya muslim, menggunakan kaligrafi Arab pada sampul-sampul publikasinya, seolah-olah isinya mengenai Islam, dan mewajibkan setiap siswa sekolahnya mengkristenkan sepuluh orang sebagai syarat kelulusan).

Aturan Main Mendirikan Gereja

Mengacu pada SKB 2 Menteri 1969 yang direvisi menjadi Peraturan Bersama Menteri (PBM) Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8/9 Tahun 2006:

  • Ijin Mendirikan Bangunan Rumah Ibadat adalah ijin yang diterbitkan Bupati/Walikota dengan kelengkapan IPPRI (Ijin Prinsip Pendirian Rumah Ibadat) dan IMB sesuai Perda Kabupaten / Kota.
  • Rumah ibadat harus memiliki umat (jamaah) minimal 90 orang yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan disetujui oleh 60 orang dari umat agama lain di wilayah tersebut, dan para pejabat setempat (Lurah/Kades) harus mensahkan persyaratan ini.
  • Selanjutnya, rekomendasi tertulis diminta dari kepala Departemen Agama kabupaten atau kotamadya, dan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kabupaten atau kotamadya.
  • Panitia pembangunan rumah ibadat harus mohon perijinan rumah ibadat ke Gubernur & Bupati /Walikota dengan dilengkapi: Rekomendasi FKUB Kelurahan/Desa hingga Kabupaten/Kota, serta Rekomendasi Kepala kantor Depag Kabupaten/Kota. Bila ini disetujui maka Bupati/Walikota akan menerbitkan Ijin Prinsip Pendirian Rumah Ibadat sebagai dasar pengajuan permohonan IMB rumah ibadat.
  • Proses administrasi lainnya mirip seperti pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), yang antara lain harus menyertakan: Rekomendasi Lurah, Camat dan Walikota/Bupati setempat,KUA, FKUB, Kantor Sospol Walikota/Kabupaten, Kantor Departemen Agama Walikota/Kabupaten
  • Bila terjadi perselisihan diselesaikan secara musyawarah, dan jika tidak tercapai maka penyelesaian dilakukan oleh bupati/walikota dibantu kepala kantor departemen agama kabupaten/kota melalui musyawarah dengan mempertimbangkan pendapat atau saran FKUB Kabupaten/Kota. ( suara-islam.com )


READ MORE - Inilah Aturan Main Mendirikan Gereja Di Wilayah Muslim

Akhirnya Pembangunan Masjid di Ground Zero Disetujui

Akhirnya Pembangunan Masjid di Ground Zero Disetujui - pembangunan masjid dan Pusat Kajian Islam di Ground Zero diumumkan tahun lalu, berbagai pihak menentang keras rencana tersebut termasuk politisi Amerika.

Berbagai alasan diajukan mereka; ada yang menuding rencana itu tidak peka terhadap perasaan warga Amerika, bahkan ada yang menganggap berdirinya pusat kegiatan Islam itu merupakan lambang kemenangan teroris yang merobohkan menara kembar World Trade Center sepuluh tahun lalu.

Pastur Edward Beck dari komunitas katolik Passionist NY adalah salah seorang yang mendukung pendirian mesjid itu. Dalam wawancara dengan media ABC, ia mengatakan, “Pertama-tama mereka akan membangun pusat kajian Islam termasuk masjid yang bisa menampung 1.400 orang, tetapi ini tidak di lokasi 9-11, letaknya berjarak dua blok (dari Ground Zero).


http://suara-islam.com/news/images/stories/ground%20zero.jpg


Saya berbicara dengan wartawan CNN yang mengatakan bahwa dua blok dari sana bahkan ada juga toko yang menjual barang-barang porno. Apabila kita tidak membolehkan pembangunan masjid yang bertujuan untuk membina dialog antar agama dan berdoa bagi perdamaian, mengapa kita tidak memprotes hal itu?”

Untuk meredakan ketegangan yang menghangat itu, tahun lalu Gubernur New York, David Paterson dan Uskup Agung Timothy Dolan, seperti yang dikutip media ABC, mengusulkan agar lokasi masjid itu dipindahkan ke tempat lain.

Setelah setahun berlalu, Imam Faisal Abdul Rauf, yang memimpin proyek yang disebut sebagai Cordoba Initiative tersebut, tidak lagi aktif terlibat dalam pembangunan kompleks masjid tersebut.

Tugasnya diambil alih oleh Sharif El Gamal, seorang pengembang real estate asal New York. Gamal adalah Direktur Soho Properties, salah satu perusahaan real estate yang berkantor di Manhattan.

Komplek masjid itu rencananya akan dilengkapi dengan kolam renang, tempat pertunjukan dan lapangan basket, yang tidak hanya bisa digunakan oleh umat Islam di kawasan itu, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya.

Pembangunan masjid itu akhirnya dibahas dan disetujui oleh komisi yang ditunjuk Walikota New York tahun lalu. Timothy Brown seorang anggota regu pemadam kebakaran yang terlibat dalam upaya evakuasi World Trade Center mengajukan banding atas keputusan itu.

Namun, pada pertengahan Juli tahun ini, Paul Feinman, hakim pengadilan tinggi negara bagian New York menolak gugatan banding tersebut. Penolakan gugatan ini berarti membuka jalan bagi pembangunan kompleks pusat kajian Islam tersebut. ( voa-islam.com )


READ MORE - Akhirnya Pembangunan Masjid di Ground Zero Disetujui

Inilah Perbedaan Mendasar Antara Ajaran Kristen Dan Ajaran Islam

Inilah Perbedaan Mendasar Antara Ajaran Kristen Dan Ajaran Islam - Dalam Islam tidak ada susunan cara kegerejaan. Tidak ada Paus, lalu Kardinal, dan Uskup. Setiap Masjid berdiri sendiri dengan pengurusnya sendiri. Di negeri-negeri Islam yang telah mempunyai susunan pemerintahan modern saja diadakan Kementerian Agama atau Kementerian Wakaf, yang mengadakan tilikan dan pemiliharaan Masjid-masjid.

Menteri Agama atau Menteri Wakaf itu bisa saja exit (keluar) dari jabatan Menterinya kalau terjadi krisis Kabinet atau Presiden (kepala negara) mengadakan reshuffle. Demikian juga petugas dalam masjid itu. Sejak dari Imam dan Khatibnya, tidaklah mereka itu 'Penguasa Rohaniyah' tempat jama'ah mengakui dosa lalu memberi ampunan dengan perantara mereka, lalu mereka berhak memberi ampun. Bahkan setiap orang Islam, dibuka oleh Allah pintu untuk berhubungan langsung dengan Allah, memohon ampun meminta taubat.

Imam-iman dalam Masjid pun, siapa saja berhak menjadi imam asal lidahnya lebih fasih dan dia disegani. Imam Rawatib di tiap masjid, bukanlah kepala agama, melainkan orang-orang yang ditugaskan oleh jama'ahnya atau oleh penguasa setempat mendirikan jama'ah lima waktu, supaya jangan sampai kosong.

Seorang Ulama dalam Islam bukanlah sebagai seorang Pendeta dalam Gereja Katholik atau lainnya. Ulama Islam adalah orang biasa yang mempunyai 'profesi' sendiri. Dia adalah seorang dari antara orang banyak bukan orang istimewa. Keseganan orang kepada mereka, hanyalah kalau Ulama itu memimpin dan membimbing mereka secara kerohanian. Dan tumbuhnya Ulama itu bukanlah karena diangkat atau diakui oleh suatu badan rohaniah atau satu masjid.


http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/mashadi/hambayangsholeh.jpg

Setelah membandingkan di antara 'Kekuasaan Rohaniyah' Pendeta-pendeta dan Hierarchie kepercayaan itu dengan keadaan masjid dalam Islam, teranglah bahwasanya 'Pemisahan Negara Dengan Gereja' di Barat tidak dapat disandingkan untuk 'Memisahkan Negara dari Masjid' atau yang selalu disebut-sebut di negri kita ini sekarang, ialah 'Memisahkan Negara dengan Agama'. Menyamakan dua hal yang berbeda, adalah kena oleh pepatah 'Asing biduk, kalang di letak'.

Dalam Qur'an tegas diwajibkan agar setiap urusan dijalankan menurut Syari'at. Termasuk politik, ekonomi, dan sosial. Kalau al-Qur'an menerangkan secara umum, As-Sunnah memberikan arti cara pelaksanaannya. Mana yang belum tegas menjelaskan:


وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ


"Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul pun, melainkan supaya dita'ati dengan izin Allah." (QS. An-Nisaa' [4] : 64)

Dalam keteladanan Rasul Shallahu alaihi was sallam, Allah SWT berfirman:


وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا


"Apa yang dibawa oleh Rasul, hendaklah kamu ambil. Dan apa yang dia kamu daripadanya, hendaklah hentikan." (QS. al-Hasyr [59] : 7)

Di ayat lainnya, Allah Ta'ala berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ


"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu batalkan amalan kamu." (QS. Muhammad [47] : 33)

Kemudian Allah Ta'ala menambahkannya :


الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا


"Apakah tidak engkau lihat orang-orang yang mengaku (dengan mulut) bahwa mereka percaya kepada apa yang diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan dari yang sebelum engkau. Mereka ingin meminta hukum kepad taghut, padahal mereka diperintah supaya tidak mempercayainya. Dan setan ingin sekali menyesatkan mereka. Sampai sesesat-sesatnya." (QS. An-Nisaa' [4] : 60)

Mereka mengakui percaya hanya dengan mulut, dalam bahasa disebut Yaz'amuna! Mengaku dengan mulut percaya kepadaapa yang diturunkan kepada Nabi SAW dan kepada yang diturunkan kepada Nabi-nabi yang terdahulu. Tetapi, ketika hendak meminta keputusan hukum, bukanlah mereka meminta kepada Allah, melainkan kepada taghut. Yaitu penguasa yang berlaku dan bertindak sewenang-wenang, sekehendak hati, hukum rimba. Padahal, seorang yang beriman wajib menentang segala macam pertaghutan di dunia ini. Dan bila sekali merek atelah mengikut taghut dan meninggalkan hukum Tuhan mereka akan sesat selama-lamanya.

Orang yang beriman sejati kepada Muhammad Shallahu alaihi wassallam tidaklah mungkin meninggalkan hukum yang diajarkan Muhammad Shallahu alaihi wassallam, lalu menukarnya dengan yang lain. Tidaklah pantas mereka meminta hukum kepada taghut.

Kadang-kadang manusia telah menjual keyakinan dan agamanya kepada intrik-intrik dan ambisi penguasa, ambisi partai, sehingga hilang hakekat kebenaran. kadang-kadang dijalankan suatu peraturan yang terang melanggar ketentuan agama, tetapi terpaksa diterima juga, karena telah terlalu banyak berhutang budi kepad kaum Kapitalis.

Orang yang beriman didorong oleh kekuatan imannya tidaklah akan ragu-ragu menolak peraturan dan hukum taghut itu. Tuhan telah memerintahkan kepada Mu'min supaya menolak dan menentang taghut! Bagaimana Mukmin akan tunduk kepada hukumnya? Kalau mereka tunduk kepada taghut, maka ayat ini telah menjelaskan bahwa imanya hanya dibibir saja. Demikian juga orang yang menerima hukum-hukum buatan manusia yang terang bertentangan dengan hukum Allah. Kalau mereka turuti peranturan demikian, mereka telah disesatkan oleh setan.

Iman tidaklah sempurna sebelum si Mu'min tunduh patuh dan ridha menerima hukum Allah.


فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


"Maka tidaklah, demi Tuhan engkau tidaklah mereka beriman, sebelum mereka mentahkimkan engkau pada perkara-perkara yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian tidak mereka dapati dalam diri mereka sendiri keberatan menerima keputusan engkau, dan mereka menyerah, sebenar menyerah." (QS. An-Nisaa' [4] : 65)

Tidak ada jalan lain bagi seorang Mu'min, melainkan hanya tunduk dan patuh setelah jatuh hukum dari al-Qur'an atau as-Sunnah. Karena imannya itulah yang mendorongnya mengatur langkah menurut tuntutan syara'.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا


"Hai orang-orang yang beriman! Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan kepada pemegang kuasa di antara kamu. Maka jika berselisih kamu di dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan kepada Rasul, jika benar kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat." (QS. An-Nisa' [4] : 69)

Dalam ayat ini diberikanlah tuntutan tegas kepada seorang Mu'min. Taat kepada Allah dan taat kepada Rasul SAW diperintahkan jelas. Tetapi, kepada Ulil Amri atau pemegang kekuasaan (penguasa) di antara kamu, tidak disebutkan mesti taat, sebab dengan kekuasaannya itu dengan sendirinya ketaatan telah timbul.

Itulah asas yang paling pokok di dalam Islam, yang sangat berbeda dengan ajaran Gereja yang memberikan kewenangan dan ketaatan kepada Paus, Kardinal, dan Uskup. ( eramuslim.com )



READ MORE - Inilah Perbedaan Mendasar Antara Ajaran Kristen Dan Ajaran Islam

Beginilah Kronologis Penyerangan, Penculikan Jamaah Dan Penghancuran Masjid Al Ikhlas Medan Oleh Aparat

Beginilah Kronologis Penyerangan, Penculikan Jamaah Dan Penghancuran Masjid Al Ikhlas Medan Oleh Aparat - Tidak ada yang menyangka, Rabu, 4 Mei 2011 dinihari, sekitar pukul 00.55 WIB ratusan orang tak dikenal dengan kasar dan beringas masuk ke dalam Masjid Al Ikhlas yang berlokasi di Jl. Timor No 23, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Medan Timur- Sumatera Utara. Setelah mematikan aliran listrik terlebih dulu, hingga ruang masjid menjadi gelap, aparat berpakaian preman tanpa membuka alas kaki, tiba-tiba memasuki masjid dan langsung saja menyergap 18 jamaah yang sedang beritikaf dan berjaga-jaga.

Setiap jamaah disergap oleh 2-3 orang, lalu tanpa perlawanan 18 jamaah itu diseret keluar, diangkut ke atas truk tanpa diberi kesempatan untuk mengenakan Lobe/Peci, sandal, sepatu, sepatu mereka. Saat penyergapan, aparat juga merampas handphone, dompet, tas, dan barang-barang lain milik jamaah. Bahkan diantara jamaah ada yang ditendang. Karena handphone jamaah dirampas, akses komunikasi pun matikan. “Kami ditendang dan diseret untuk naik ke atas truk, sementara dompet dan barang-barang kami tertinggal di masjid,” kata Imam Masjid Al Ikhlas Bakti Sutarno.

Selanjutnya, seluruh jamaah digiring ke dalam truk yang sudah tersedia di pekarangan masjid, kemudian dibawa ke Mapolresta Medan dengan menggunakan empat truk Polisi. Setidaknya, di luar pekarangan Masjid ada ratusan Polisi bersenjata lengkap.


http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/ikhlas-1.jpg&h=235&w=355&zc=1


Berikut, diantara nama-nama jemaah yang dibawa ke Mapolresta : Affan Lubis, Ahmad Husein Yusuf, Aswandi Lubis, Muhammad Irfan, Sofyan Syah, Hasan Basri Koto, Dedi Irawan, Bakti Sutarno, Ahmad Suadi Lubis, Danil, Robi K, M Akbar, Ardi, Angga, Aidan, Sunar. Sedangkan dua orang lainnya belum tercatat.

Sesampainya di Mapolresta, ke-18 jamaah di perintahkan untuk berbaris dan berjongkok untuk didata berkaitan barang-barang yang masih tinggal di masjid, selanjutnya digiring masuk ke ruangan Intel Mapolresta. Beberapa saat diruang intel, sebagian HP milik jamaah dikembalikan, namun tidak boleh diaktifkan. Sedangkan sebagian barang jamaah lain, seperti HP, tas, helm, uang, dan barang-barang lainnya sampai sekarang belum dikembalikan. Setelah lebih dari dua jam “diculik” di Mapolresta Medan , ke-18 jamaah tersebut diizinkan untuk pulang.



Sekitar Pukul 04.30, Pengurus FUI mencoba untuk melihat kondisi Masjid, namun jalan masuk masjid dijaga ketat oleh ratusan aparat berseragam loreng, tepatnya seragam TNI berpentungan. Ketika itu terlihat,masjid sudah rata dengan tanah.

Boleh jadi, setelah semua jamaah masjid di evakuasi ke Polresta Medan, barulah ratusan pria tersebut meruntuhan masjid dengan dibantu alat berat berupa tiga buldozer dan becho. Sementara itu, di luar masjid aparat berseragam memblokir setiap ruas jalan menuju masjid tersebut.

“Sekitar pukul 4.50 , saya melihat menara masjid sudah tumbang dan diangkut ke atas truk” kata seorang warga yang menyaksikan penumbangan menara masjid tersebut.

Yang jelas, ancaman pembongkaran terhadap Masjid Al Ikhlas, bukan sesekali terjadi, melainkan sudah berulang kali. Pernah, pada 5 Februali 2011 sebelumnya, atap masjid, diantaranya: 200 seng hilang, kosen-kosen dibongkar, dan plafon masjid pun dirusak. Sepertinya ada perencanaan yang masak, masjid akan runtuh dengan sendirinya ( voa-islam.com )



READ MORE - Beginilah Kronologis Penyerangan, Penculikan Jamaah Dan Penghancuran Masjid Al Ikhlas Medan Oleh Aparat

Demi Pembangunan Sentra Bisnis Baru, Negara Menghancurkan Masjid Al - Ikhlas Di Sumatera Utara

Demi Pembangunan Sentra Bisnis Baru, Negara Menghancurkan Masjid Al - Ikhlas Di Sumatera Utara – Ada haru yang mendalam, tatkala mendengar kumandang adzan di muka reruntuhan Masjid Al Ikhlas yang telah dibongkar paksa aparat keparat. Bersila di atas hamparan kertas koran, terlihat wajah jamaah yang muram. Diam dalam hening. Bulu kuduk serasa berdiri. Tak biasanya, laungan adzan siang itu begitu menyayat dan menggetarkan hati. Demikian Laporan langsung Voa-Islam dari Medan, Jum'at (6 Mei 2011) lalu.

Usai kumandang adzan, berdiri KH. Muhammad Al Khaththath (Sekjend FUI) yang didatangkan dari Jakarta untuk bertindak sebagai khotib Jumat. Dalam khutbahnya, Al Khathtath berkali-kali mengecam pihak yang membongkar rumah Allah dengan cara-cara tak manusiawi.

Meski Masjid Al Ikhlas telah dibongkar paksa, ratusan umat Islam di Medan tetap menggelar shalat Jum’at berjamaah di depan reruntuhan masjid di Jalan Timor Medan No 23, Kelurahan Sidodadi, Medan. Selesai shalat, jamaah bergerak, melanjutkan aksi unjuk rasa dengan long march menuju kantor Provinsi DPRD Sumatera Utara. Orasi dan Takbir pun bergema sepanjang jalan: Allohu Akbar..!

Dalam barisan jamaah yang tertib itu, dibentangkan spanduk berukuran besar bertuliskan: “Mayjend TNI Leo Siegers (Pangdam I/BB) Picu Konflik SARA: Tangkap, Usut dan Adili Penghancur Masjid Al Ikhlas Jl. Timor.

Tuntutan lainnya berbuyi: Sumut Bisa Menjadi Poso II Berdarah, Awas TNI Disusupi Ala PKI; Copot dan Adili Pangdam I/BB Mayjend Leo Siegers; Medan Dalam Bahaya: Penghancuran Masjid Al Ikhlas, Picu Kemarahan Umat Islam dan poster kecaman lainnya.

Dalam orasinya, Forum Umat Islam (FUI) Sumut mengutuk keras perobohan Masjid Al Ikhlas yang diduga dilakukan oleh Kodam I/Bukit Barisan, Rabu (4/5) dinihari. “Kami mengutuk keras pembongkaran masjid dan penyekapan 18 orang jamaah dengan cara yang biadab dan tidak manusiawi. Perobohan masjid ini sangat menyakiti umat Islam,” kata Ketua II FUI Sumut, Affan Lubis

FUI akan mengambil langkah dengan menyurati Prsiden SBY selaku panglima tertinggi TNI, Karena perobohan yang diduga dilakukan Kodam I/BB adalah sebuah pelanggaran hukum. Sedangkan status Masjid Al Ikhlas masih dalam proses hukum di PN Medan. “FUI sudah mendaftar gugatan ke PN Medan menyangkut perobohan masjid oleh Kodam I/BB tertanggal 28 April 2011.”


http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/edit-masjid-ikhlas-1.jpg&h=235&w=355&zc=1


Sejarah Masjid

Ketika awal berdiri pada tahun 1975, Masjid Al Ikhlas merupakan sebuah musholla yang dibangun untuk proses pembinaan mental di jajaran prajurit Detasemen Perhubungan TNI AD (Denhubdam). Namun seiring perjalanan waktu, musholla itu diperbesar menjadi sebuah masjid. Jamaahnya pun bukan hanya pegawai dan prajurit Denhubdam, tetapi juga masyarakat sekitar.

Sejak Markas Denhubdam pindah, terbetik kabar, bangunan masjid pun ikut dipindahkan ke kawasan Namurambe, Kabupaten Deli Serdang. Untuk menampung jamaah Masjid Al Ikhlas, pihak Kodam I membangun masjid baru, Al Abror yang berlokasi di Jl Gaharu, berjarak sekitar 150 meter dari Masjid Al-Ikhlas.

Rencananya, tanah tempat Masjid Al Ikhlas yang diruntuhkan itu akan dialihkan kepemilikannya kepada pengembang. Di atas puing-puing masjid yang dibongkar itulah akan dijadikan lokasi Sentara binis baru.

Penghancuran Masjid Al Ikhlas berawal dari rencana tukar guling (ruislag) masjid tersebut yang diklaim berdiri di lahan milik Detasemen Perhubungan TNI AD dengan pihak pengembang PT Gandareksa Mulya. Merasa memiliki hak atas tanah tempat Masjid Al Ikhlas berdiri, pihak Kodam I/Bukit Barisan menganggap pembongakaran masjid tersebut tidak menyalahi aturan.

Sebelumnya, FUI Kota Medan telah mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) terkait rencana pembongkaran Masjid Al Ikhlas, melalui Tim Pembelas Masjid yang berjumlah 44 orang. Selain itu, Tim Pembela Masjid juga berupaya mencegah pembongkaran masjid dengan mengadukan kasus itu ke Pemprov dan DPRD Sumut, Pemkot, DPRD dan MUI Kota Medan.

Pembongkaran Masjid Al-Ikhlas menimbulkan kekecewaan bagi sejumlah pihak, diantaranya Forum Umat Islam (FUI). Ketua II Bidang Data dan Komunikasi FUI Sumut, Affan Lubis, menyatakan kekecewaannya atas pembongkaran masjid tersebut, mengingat pihaknya telah menempuh upaya hukum ke Pengadilan Negeri Medan. Ada kesan upaya hukum yang kami tempuh tidak dihargai,” kata Affan.

“Kami akan lakukan empat gugatan terkait penghancuran masjid. Pertama, kita adukan tindakan proses pengrusakan ke Polda, selanjutnya membuat pengaduan ke Presiden, karena tindakan sewenang-wenang. Lalu gugata ke PTUN dan gugatan ke Pengadilan, dengan tergugat pertama Pangdam I dan tergugat kedua pihak pengembang,” kata Aldian Pinem SH, Ketua Tim 44 Pembela Masjid Al Ikhlas.

Sampai kapan pun, umat Islam di Kota Medan akan terus memperjuangkan Masjid Al Ikhlas yang telah diruntuhkan apatrat agar dibangun kembali. Jumat yang akan datang (13 Mei 2011), umat Islam akan kembali menggelat shalat Jumat secara berjamaah di tempat yang sama. Adzan masih terdengar di puing-puing reruntuhan Masjid Al Ikhlas. “Allohu Akbar…Allohu Akbar…” ( voa-islam.com )



READ MORE - Demi Pembangunan Sentra Bisnis Baru, Negara Menghancurkan Masjid Al - Ikhlas Di Sumatera Utara

Menyimak Babak - Babak Akhir Tamatnya Sejarah Kristen di Inggris

Menyimak Babak - Babak Akhir Tamatnya Sejarah Kristen di Inggris - Sebuah keuskupan bersejarah di Inggris terancam ditutup. Pasalnya, jemaat yang menghadiri kebaktian setiap ahad terus berkurang. Kondisi itu jauh terbalik dengan masjid-masjid di Inggris. Setiap sholat Jumat, jamaah kini selalu memenuhi masjid.


http://www.muslimdaily.net/berita/masjidbradford_inggris.jpg


Menurut sebuah sumber, Komisi Keuskupan kini sedang menyusun proposal untuk menggabung Keuskupan Bradford di Yorkshire yang kini banyak ditinggali jemaatnya ke dalam keuskupan di wilayah tetangganya, Ripon dan Leeds.

Beberapa kalangan bahkan mendesak agar kedua kesukupan itu dimasukkan saja ke dalam keuskupan York sehingga menciptakan sebuah keuskupan super di bawah Uskup Agung York, John Sentamu, pemimpin gereja paling berpengaruh nomor dua di Inggris. Langkah itu diambil karena gereja menghadapi beberapa masalah keuangan serius tatkala aset nasionalnya senilai satu miliar pound dihapus.

Sumber internal mengungkapkan, krisis akut itu terutama terjadi karena di sejumlah wilayah telah terjadi pergeseran populasi sehingga mempercepat penurunan jemaat yang pergi ke gereja. Akibatnya, dana yang bisa dihimpun gereja pun ikut merosot.

Seseorang bahkan mengatakan bahwa di sejumlah daerah dengan konsentrasi tinggi imigran Muslim telah ikut mempengaruhi kondisi itu. Gereja pun kini berjuang untuk mempertahankan tempat berpijaknya. Statistik memperkirakan bahwa akan ada lebih bayak Muslim sholat Jumat di masjid-masjid di Inggris daripada jemaat di gereja Anglikan pada hari Minggu dalam satu dekade ini.

Data terbaru mengungkapkan, masa-masa Keuskupan Bradford yang didirikan pada 1919 dan meliputi kota di utara Yorkshire dan timur Lancashire, serta tenggara Cumbria dan Leeds ini, telah berakhir. Data tersebut mengungkapkan, kehadiran jemaat di 147 paroki yang ada di bawah keuskupan itu, terus menurun dari 13.500 jamaah pada 2000 menjadi 8.700 jamaah pada 2008.

Sebaliknya, meskipun tak ada statistik resmi untuk jamaah Muslim, survei pemerintah memperlihatkan bahwa setidaknya seperempat dari penduduk Muslim sholat Jumat di masjid-masjid. Seorang ahli statistik agama, Peter Brierley, mengatakan populasi Muslim di Bradford sekitar 80 ribu orang dan sekitar 20 ribu di antaranya biasa melakukan sholat di masjid. Angka itu, lebih dari dua kali lipat, jemaat Anglikan yang pergi ke gereja.

Canon Rod Anderson dari Gereja St Barnabas di Heaton, Bradford, mengakui pihak gereja sengaja ingin menggabungkan kedua keuskupan itu untuk berhemat. Ia mengatakan, selama 16 tahun di gerejanya, jemaat telah berkurang dari lebih 100 orang setiap Minggu, menjadi antara 40-60 orang. ''Saya melihat pergeseran demografi dengan masuknya etnis besar Asia, terhadap jumlah jemaat dan pengaruhnya bagi keuangan gereja.''

Gereja St Margaret di dekat Thornbury memiliki jemaat mingguan 20-30 orang dengan dana yang dihimpun dari jemaat setiap tahunnya stabil sebesar 20 ribu pounds. Pendeta Nicholas Clews (52) mengatakan, ''Tak ada keraguan dalam situasi seperti ini, pengurangan keuskupan merupakan cara untuk menghemat biaya.''

Sementara, 80 masjid yang berada di Bradford mampu mengelola dana jamaah lebih dari 60 ribu pound setiap tahun. Juru bicara Dewan Masjid Bradford mengatakan, ''Pada hari Jumat, masjid penuh sesak oleh jamaah. Bahkan tak jarang terlihat sekitar 2.000 orang sholat dalam sehari.

Di Keuskupan Ripon dan Leeds yang berpenduduk sekitar 810 ribu jiwa, atau 100 ribu lebih banyak dari Bradforrd, kebaktian setiap minggu kini hanya dihadiri 12.300 jemaat, atau turun dari 12.800 jemaat di tahun 2004. Sedangkan statistik mencatat, di Leeds saja ada sekitar 8.000 jamaah sholat Jumat di masjid-masjid di sana. ( muslimdaily.net )



READ MORE - Menyimak Babak - Babak Akhir Tamatnya Sejarah Kristen di Inggris

Kisah Dari Tanah Suci : Pertolongan Langsung Datang Setelah Membaca Ayat Kursi

Kisah Dari Tanah Suci : Pertolongan Langsung Datang Setelah Membaca Ayat Kursi - Madinah kota suci. Setiap orang yang memasuki kota ini diyakini akan mendapatkan balasan atau teguran secara langsung atas amal ataupun dosa yang dilakukan. Hal-hal yang aneh, ajaib, dan tidak masuk akal kerap dialami jamaah calon haji (calhaj) saat berada di kota mulia ini.


http://www.tribunnews.com/foto/bank/images/jamaah-haji-hendra.jpg
Jamaah haji Indonesia


Malam Senin (18/10/2010), misalnya, seorang ibu masih menggigil kedinginan, ketika tiba di kantor Daerah Kerja Madinah. Calhaj asal Jawa Tengah itu, tidak tahu jalan pulang ke pemondokannya. Ia tersesat setelah melakukan salat Isya di Masjid Nabawi.

Petugas haji berkali-kali membujuk sang ibu agar mau makan biar bisa minum obat. Tapi si ibu menggeleng saja. Ia memilih tiduran di sofa, menelungkupkan badannya yang demam.

"Tadi saya sudah minum obat. Saya maunya disuntik saja agar cepat sembuh," kata ibu berusia 53 tahun itu.

Sang ibu pergi ke tanah suci sendirian. Suaminya telah meninggal dunia. Ini merupakan hari keempat ibu asal Boyolali itu berada di Madinah. Ia mengaku mulai sedikit hafal jalan dari hotel tempatnya menginap menuju Masjid Nabawi.

Malam itu ia pergi ke masjid untuk salat Maghrib dan Isya bersama teman-teman serombongan. Namun setelah salat ia terpisah dari sang kawan.

"Saya sudah berjalan jauh sekali. Ke sana ke mari. Mungkin ada kalau satu jam. Saya melewati jurang-jurang banyak sekali. Tebing-tebing curam, saya takut sekali," cerita sang ibu kepada MCH dalam mobil saat diantar pulang menuju pemondokannya.

Calhaj asal Boyolali itu lantas terus-terusan berdoa. Ia membaca ayat kursi memohon pada Allah agar diberikan keselamatan. Dan doa itu dikabulkan oleh Allah. Tidak lama kemudian muncul orang yang menolong ibu paruh baya tersebut.

"Setelah saya membaca ayat kursi tiba-tiba ada laki-laki yang menolong saya.Saya diantar ke kantor tadi (Daker). Dia baik sekali bahkan tidak mau saya bayar," kata si ibu.

Setelah sampai ke pemondokannya si ibu pun menyatakan akan terus berdoa dan meminta ampunan pada Allah atas dosa tertentu yang mungkin pernah dilakukan. "Katanya kalau di Mekkah atau Madinah itu seperti ujian bagi kita, kita diuji dengan mendapat teguran langsung atas salah kita," kata si ibu.

Kisah aneh lainnya dialami seorang jamaah asal Jakarta. Pria itu masih gagah,umurnya baru 53 tahun. Awalnya ia sangat yakin tidak akan tersesat untuk pulang ke pemondokannya. Namun usai salat asar, ia hanya muter-muter tidak menemukan pemondokan yang dicarinya. Ia bahkan terpisah dari sang istri.

"Tadi ke sini sama istri saya. Saya yakin nggak tersesat soalnya pemondokannya sangat dekat. Tapi setelah saya jalan kok tidak ketemu juga, Istri saya juga nggak tahu sekarang ada di mana. Saya mungkin ditegur karena terlalu percaya diri," kisah calhaj asal Jakarta tersebut.

Sang bapak pun akhirnya ditolong petugas haji dan diantarkan ke pemondokan. ( tribunnews.com )



READ MORE - Kisah Dari Tanah Suci : Pertolongan Langsung Datang Setelah Membaca Ayat Kursi

Salib DI Masjid Haram Makkah. Ada apa ... ???

Salib DI Masjid Haram Makkah. Ada apa ... ??? - Warga Saudi geger dan meminta pihak berwenang Saudi segera menghentikan penjualan karpet sajadah di kota Mekkah, setelah seorang warga menemukan lambang salib dari sajadah yang ia beli.

Seorang warga yang bernama Mansur mengatakan, "Saya baru membeli sajadah dari penjual yang terletak di sebelah masjidil Haram Mekkah, namun saya terkejut ketika saya melihat ada gambar salib di tengah sajadah tersebut dan heran kenapa barang seperti ini bisa lolos memasuki wilayah kerajaan Saudi tanpa ada pemeriksaan terlebih dahulu."


http://www.muslimdaily.net/berita/sajadah.jpg


Mansur juga menyatakan bahwa sesuatu yang aneh dan tidak lazim jika harus sujud di atas sajadah yang sajadah tersebut ada gambar salibnya.

Masih belum jelas apakah sajadah yang bergambar salib tersebut memang sengaja diproduksi dengan ada gambar salibnya atau hanya kesalahan cetak.

Gambar salib sangat kentara terlihat di sajadah yang menghebohkan tersebut. Sajadah itu bergambar masjid lengkap dengan menaranya dan tepat ditengah pintu masjid tergambar jelas salib yang merupakan lambang kekristenan. ( muslimdaily.net )

ASLINYA Di : sabq.org

سبق- الرياض: طالب مواطن سعودي الجهات الرقابية بسرعة التدخل لوقف بيع سجادة مرسوم عليها صليب بشكل بارز في مكة المكرمة.

وقال المواطن منصور السرحي: "اشتريت السجادة من أحد الباعة الموجودين بجوار الحرم المكي في مكة المكرمة، وقد فوجئت عندما رأيت الصليب في وسط السجادة واستغربت كيف تم إدخالها للمملكة دون أن يكون هناك تدقيق عليها".

وأبدى السرحي دهشته قائلاً: " إلى هذا الحد وصل بهم الحال حتى يضعوا الصليب في مكان سجود المسلمين"!!



READ MORE - Salib DI Masjid Haram Makkah. Ada apa ... ???

Negara Menutupi Aksi Pembakaran Masjid 27 Juli 2010 Di Medan

http://www.suara-islam.com/news/images/stories/Berita/Nasional/bakar%20masjid.jpg


Negara Menutupi Kegiatan Pembakaran Masjid Tanggal 27 Juli 2010 Di Sumatera Utara - Belakangan penghinaan, terosisasi, serta isu-isu yang memojokan Islam masif di produksi, baik oleh media sekuler maupun orang-orang kafir dan munafikin yang berasal dari nasrani maupun munafikin kaum liberal. Inilah salah satu realita yang sama namun luput dari perhatian semua kalangan.


Masjid Syeikh Ali Martaib di Desa Lumban Lobu, Kecamatan Bonatua Tapanuli Utara-Sumatra Utara sudah di bakar tiga kali.


Tahun 1986

Masjid tersebut masih bernama Masjid Fii Sabilillah, dibakar semua karpet dan sajadah di dalamnya.


Tahun 2009

Mushaf-mushaf Al Qur’an dan buku-buku agama dibakar sehingga mengenai mihrab masjid tersebut.


Tahun 2010

Tepatnya 27 Juli 2010 Juma’t pagi menjelang subuh Masjid tersebut dibakar habis oleh Orang Tidak Dikenal (OTK).



Siapa pelakunya? OTK Belum di nketahui atau di sembunyikan? Yang jelas kejadian tersebut di wilayah kaum nasrani yang selama ini tidak senang dan selalu protes terhadap keberadaan masjid tersebut yang sudah berdiri sejak lama. Bahkan terindikasi ada laskar kristus yang bergerak.


Menjadi pertanyaan sekarang dimana suara pemerintah, dimana polisi dan TNI, dimana suara Komnas HAM, dimana suara TV, Radio dan harian Nasional, dimana suara Dewan Pers?


Soal Kebaktian Liar yang di bubarkan oleh umat Islam Bekasi, mereka semua ramai protes, akan tetapi soal pembakaran Masjid mereka bungkam.


Ini baru sekelumit kasus di Sumatra Utara, belum lagi di daerah-dareah yang mayoritas nasrani lainnya yang di dalangi oleh lascar kristus. (suara-Islam.com)



READ MORE - Negara Menutupi Aksi Pembakaran Masjid 27 Juli 2010 Di Medan

Mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid Berhasil Menenbus Gaza

http://www.tribunnews.com/foto/bank/images/Hidayat-Nur-Wahid-2.jpg


Mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid Berhasil Menenbus Gaza - Mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid bersama para rombongan anggota parlemen lainnya, dikabarkan sudah tiba di Jalur Gaza, Senin (29/6/2010). Rombongan berangkat ke Gaza pada Senin siang, melalui negara Mesir, dilepas oleh Gubernur Sinai Utara, Murad Muwafi.

Kepastian ini diungkapkan dalam pernyataannya yang dikirim ke tribunnews.com, Selasa (29/6/2010) oleh Hidayat Nurwahid yang tak lain Ketua Badan Kerjasama Antar-Parlemen (BKSAP).

"Rombongan akan disambut oleh Parlemen Palestina di perbatasan Mesir-Palestina. Selanjutnya, parlemen Indonesia akan melakukan pertemuan dengan parlemen Palestina di Gedung Parlemen Palestina yang sudah porak poranda dibombardir oleh tentara Israel," ujarnya.

Hidayat kemudian memohon doa restu kepada seluruh rakyat Indonesia agar perjuangan kemanusiaan ini, kemudian dapat segera mengakhiri blokade terhadap Gaza.

Diberitakan sebelumnya, pada Minggu (27/6/2010) kemarin, sejumlah 20 Anggota Komisi I DPR bertolak ke Gaza melalui Mesir. Selain membawa misi melobi negara-negara tetangga Palestina seperti Mesir, Lebanon, Suriah, dan Yordania untuk membantu dibukanya blokade terhadap Gaza.

Rombongan parlemen Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh anggota Komisi I DPR Al-Muzammil Yusuf, juga membantu uang bantuan pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mendirikan rumah sakit di Gaza.

Hidayat menambahkan, selain rombongan anggota parlemen di Indonesia, sejumlah LSM kemanusiaan juga akan ikut masuk Gaza. Salah satunya adalah Komite Nasional untuk Rakyat Palestina ( tribunnews.com )



READ MORE - Mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid Berhasil Menenbus Gaza

Inilah Reaksi Warga Amerika Menyambut Pembangunan Masjid Di Brooklyn Paper

Inilah Reaksi Warga Amerika Menyambut Pembangunan Masjid – Sebuah parade damai untuk mendukung proposal kontroversial sebuah Masjid di Sheepshead berubah menjadi kericuhan setelah warga menyoraki para peserta parade, yang sebagian besar berasal dari luar daerah.

"Ini adalah lingkungan Yahudi, bangun Masjid di lingkunganmu sendiri," teriak Stan Yunatanov, yang tinggal di seberang jalan dari lokasi calon Masjid dan pusat kebudayaan itu.

Seorang wanita lainnya meneriakkan, "Kaum Muslim tidak mencintai Amerika. Mereka membenci Amerika."

Tidak ada penahanan, tapi ketegangan yang sudah tinggi sejak Masyarakat Muslim Amerika membeli properti itu awal tahun ini menjadi semakin tinggi.

Kelompok perdamaian itu awalnya berencana untuk melakukan parade di Coney Island, tapi memutuskan untuk memindahnya ke Sheepshead guna mendukung proyek Masjid tersebut.

"Ini adalah penunjukan dukungan untuk hak beribadah bagi semua pemeluk agama," ujar Rabbi Ellen Lippman, salah satu penyelenggara acara dan kepala Kolot Chayeinu, sebuah kongregasi Yahudi yang melakukan ibadah di gereja Park Slope.

Namun, penunjukan dukungan itu memiliki rasa "orang luar" yang berbeda. Penyelenggara mengatakan mereka berusaha menggaet warga setempat untuk terlibat, tapi gagal.


http://suaramedia.com/images/resized/images/stories/3berita/1_6_islam/unjuk-rasa_bp_200_200.jpg

Seorang pengunjuk rasa penentang pembangunan Masjid di wilayah Sheepshead mengacungkan sebuah foto yang menunjukkan protes yang membakar bendera AS oleh warga Pakistan. (Foto: Brooklyn Paper)


"Kami berusaha merekrut pemuka agama lokal, tapi tidak ada yang mau bergabung dalam parade ini," ujar Pendeta Tom Martinez, pemuka agama dari Park Slope.

Dan tempat dimulainya parade yang awalnya di Gereja Katolik St. Mark diubah setelah Gereja itu mengundurkan diri, menyebutkan adanya keluhan dari warga setempat.

Akibatnya, parade dimulai dari jalan Voorhies dan Ocean. Secara keseluruhan, sekitar 200 anak-anak dan orang dewasa – banyak dari mereka yang mengibarkan bendera Amerika – menelusuri Emmons Avenue dengan damai hingga ke Bedford Avenue sebelum bertolak ke Voorhies, di mana mereka disambut dengan ejekan-ejekan. Beberapa penentang memegang foto kaum Muslim yang membakar bendera Amerika dan mengecam afiliasi Masjid dengan Masyarakat Muslim Amerika, yang dikait-kaitkan dengan Hamas dan Hizbullah.

"Itu omong kosong," ujar Ahmed Allowey, warga lama di lingkungan itu yang bekerja dengan Masyarakat Muslim Amerika untuk membangun Masjid tersebut. "Karena organisasi memiliki program-program untuk generasi muda menjaga identitas keislaman serta identitas Amerika mereka sehingga mereka bisa berkembang menjadi Muslim dan Amerika yang bangga."

Terlepas dari ejekan itu, mayoritas warga anti-Masjid mengatakan bahwa penentangan mereka tidak bersifat relijius samasekali, tapi lebih ke persoalan lalu lintas. Masjid itu akan berada di jalan yang sangat sempit dengan lahan parkir yang kecil.

"Saya akan mengatakan hal yang sama jika yang dibangun di sini adalah Gereja Katolik karena ini bukan lokasi yang cocok untuk sebuah tempat ibadah," ujar Amelia McMahon, yang tinggal satu blok dari lokasi. "Ini adalah lingkungan tempat tinggal. Tidak ada lahan parkir dan saya tidak mau semua kebisingan dan lalu lintas di sekitar sini."

Karena itu, banyak dari penduduk Muslim di lingkungan itu yang mengatakan akan pergi ke Masjid dengan berjalan kaki. Saat ini, mereka tidak memiliki tempat untuk beribadah dan mengajarkan agama pada anak-anak mereka, ujar para pendukung.

"Kami terdiri atas lebih dari 100 keluarga di lingkungan ini," ujar Salle Colagi, yang tinggal dengan istri dan tiga anaknya di dekat lokasi. "Ini adalah lokasi yang bagus untuk Masjid karena biasanya ketika kami pergi untuk beribadah atau mengajari anak-anak kami, kami harus pergi ke Bay Ridge atau Canarsie. Jika Masjid ini sudah dibangun, kami bisa berjalan ke sini." ( suaramedia.com )




READ MORE - Inilah Reaksi Warga Amerika Menyambut Pembangunan Masjid Di Brooklyn Paper

Pangeran Charles: Hanya Prinsip Spiritual Islam Yang Bisa Selamatkan Dunia

Pangeran Charles: Hanya Prinsip Spiritual Islam Yang Bisa Selamatkan Dunia . Dalam ceramahnya, Pangeran Charles berargumen kehancuran manusia dunia terutama bertentangan dengan Islam -- Putera Mahkota Kerajaan Inggris Pangeran Charles mengakui, mengikuti prinsip-prinsip spiritual Islam akan dapat menyelamatkan dunia.

Hal itu disampaikan Pangeran Charles dalam pidatonya yang bertema "Islam and the Environment" di Gedung Sheldonian Teater, Universitas Oxford, Oxford, Inggris, Kamis (11/6).


http://hidayatullah.com/images/stories/prince-charles.jpg



Dalam ceramahnya selama satu jam di hadapan para sarjana studi Islam di Oxford, Pangeran Charles berargumen bahwa kehancuran manusia dunia terutama bertentangan dengan Islam.

Untuk itu ia mendesak dunia untuk mengikuti prinsip-prinsip spiritual Islam untuk melindungi lingkungan.

Menurut ayah Pangeran William dan Harry, arus `pembagian` antara manusia dan alam ini disebabkan bukan hanya oleh industrialisasi, tetapi juga oleh sikap kita terhadap lingkungan yang bertentangan dengan butir-butir "tradisi suci".

Pangeran yang menganut agama Kristen, yang akan menjadi Kepala Gereja Inggris bila naik tahta menjadi Raja Inggris itu, berbicara secara mendalam mengenai Alquran yang dipelajarinya sendiri.

Charles mengatakan bahwa "tidak ada pemisahan antara manusia dan alam" dan mengatakan "kita harus selalu hidup dalam lingkungan yang terbatas."

Ia berbicara kepada para sarjana di Pusat Studi Islam Oxford dalam rangka dan mencoba untuk mendorong pemahaman yang lebih baik dari budaya dan peradaban agama.

Dalam pidato menandai ulang tahun ke-25 Pusat Studi Islam Oxford, tempat ia menjadi pelindungnya, Charles mengajak untuk memahami agama dengan mata pelajaran favorit lain seperti lingkungan.

"Islam selalu mengajarkan keseimbangan dan bila kita mengabaikannya sangat bertentangan dengan penciptaan," demikian Pangeran Charles. ( hidayatullah.com )



READ MORE - Pangeran Charles: Hanya Prinsip Spiritual Islam Yang Bisa Selamatkan Dunia

Ternyata Pemerintah Republik Indonesia Masih Sangat Alergi Dengan Islam


Aneh, Polisi Intimidasi Pengajian Karena Diadakan Dekat Kediaman SBY


Ternyata Pemerintah Republik Indonesia Masih Sangat Alergi Dengan Islam – Di era reformasi, perlakuan aparat terhadap aktivitas keislaman kerap mengulangi gaya rezim orde baru. Polisi mengintimidasi pengajian di kawasan Citereup karena diadakan dekat kediaman SBY. Siapa yang takut dengan pengajian keislaman, polisi ataukah SBY?

Kejadian memalukan ini terjadi pada acara Tabligh Akbar hari Ahad (6/6/2010). Padahal acara yang diadakan di Masjid Jami’ Al-Muhajirun di Perum Bina Marga Cagak Gunung Putri Citeureup Jawa Barat itu telah dipersiapkan oleh panitia sejak sebulan yang lalu.

Satu hari menjelang pelaksanaan Tabligh Akbar (Sabtu, 5 Juni 2010) panitia menyampaikan surat pemberitahuan kepada Kapolsek Gunung Putri yang diterima Gunawan SP, salah seorang staf Polsek Gunung Putri Bogor. Gunawan menerima pemberitahuan itu dengan baik. Menurutnya, acara tersebut tidak ada masalah, bahkan ia mempersilakan panitia melanjutkan kegiatan Tabligh Akbar tersebut. Selanjutnya, panitia menyampaikan memberitahukan kepada DKM Masjid Al-Muhajirun tentang persiapan Tabligh Akbar.

Namun tak lama kemudian, ba’da ashar DKM Masjid Al-Muhajirun memberi tahu panitia Tabligh Akbar via telepon, bahwa pihak kepolisian (Polsek Gunung Putri) menyampaikan pertimbangan-pertimbangan yang intinya menekan pihak DKM agar membatalkan acara Tabligh Akbar tersebut.

Alasan pembatalan yang disampaikan Polsek Gunung Putri adalah pertimbangan keamanan, karena wilayah Gunung Putri termasuk ‘ring satu’ dari kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Meski pihak DKM Al-Muhajirun yang mendapatkan tekanan kepolisian tidak memberikan izin Tabligh Akbar, namun panitia Tabligh Akbar bersikukuh untuk melaksanakan kegiatan Tabligh Akbar tersebut. Panitia beralasan, pelarangan itu bertolak belakang dengan statemen Gunawan SP dari Polsek Gunung Putri yang telah mengizinkan Tabligh Akbar. Selainitu, undangan dan pamflet yang sudah disebarkan ke masjid-masjid tidak mungkin ditarik kembali, lantaran pembatalan sepihak dari DKM Al-Muhajirun berlangsung mendadak.

Walhasil, hari Ahad 6 Juni 2010, panitia tetap menggelar Tabligh Akbar tetap menggelar Tabligh Akbar tanpa dihadiri pengurus DKM Al-Muhajirun. Selepas shalat zuhur, pengajian dimulai di bawah penjagaan ketat aparat keamanan.

Berbagai kendala teknis pun menghiasi Tabligh Akbar yang mendatangkan narasumber tunggal Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Suara sound system kurang terdengar dengan baik hingga mati total pun terjadi.

Panitia tidak dapat berbuat banyak karena ruangan untuk mengatur sound system dikunci oleh pengurus DKM Al-Muhajirun. Akibatnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir harus bersusah payah mengeraskan suara tanpa pengeras suara, agar di dengar oleh hadirin yang memenuhi masjid.

Ustadz Abu yang sudah terbiasa diintimidasi polisi, tak terganggu sedikit pun dengan pengamanan aparat yang berlebihan itu. Dalam taushiyahnya Ustadz Abu menyayangkan sikap aparat yang menghalang-halangi kegiatan dakwah dan pengajian.

“Sejahat-jahatnya amal yaitu orang yang mengganggu pengajian, orang yang melarang pengajian,” kata Ustadz Abu.

Pengasuh Pesantren Al-Mukmin Ngruki ini juga mengingatkan aparatur negara baik sipil maupun keamanan agar tidak berlaku sombong agar tidak dilaknat Allah.

“Saya ingatkan kepada Kodim dan Koramil agar jangan sombong. Kalau kalian menghalangi pengajian, nanti akan dilaknat Allah,” ujar Ustadz Abu menasihati. “Hati-hati Pak Lurah dan Pak RT, dilaknat kamu kalau sampai ikut-ikut menghalangi pengajian, kalian akan dilaknat Allah.”

Menurut Ustadz Abu, menghalang-halangi pengajian adalah tindakan terkutuk, karena pengajian itu diselenggarakan untuk mendidik masyarakat agar akhlaknya menjadi baik. Dan tidak ada peraturan di negara ini kalau setiap menyelenggarakan pengajian harus izin terlebih dahulu kepada aparat.

Di penghujung taushiahnya Ustadz Abu menasihati para ta’mir masjid dengan membacakan surat At-Taubah ayat 18: “Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Menurut ujar Ustadz Abu, ayat tersebut mengajarkan bahwa orang yang memakmurkan masjid baik takmirnya maupun hadirinnya itu mempunyai sifat beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Karenanya, takmir masjid harus memakmurkan dan mengurusi masjid, menegakkan shalat, berjamaah di masjid kemudian mengeluarkan zakat, kemudian tidak takut kecuali kepada Allah.

“Bukan baru didatangi orang saja sudah takut. Jangan! Jadi takmir masjid itu harus berani. Selama itu tidak dilarang Allah tidak dilarang peraturan yang ada sudah jalankan!” pungkasnya.

Pukul 14:49 WIB, waktu ashar tiba. Tabligh Akbar pun diakhiri tanpa ada aktivitas apapun yang mengganggu keamanan dan ketertiban seperti yang dikhawatirkan aparat kepolisian. Zaman modern kok masih ada makhluk yang alergi pengajian dan dakwah. Aneh! ( voa-islam.com )




READ MORE - Ternyata Pemerintah Republik Indonesia Masih Sangat Alergi Dengan Islam

Inilah Wong Christofer Cahyadi Sang Penanggungjawab Formasi Pedang-Salib Masjid Agung Bekasi



Inilah Penanggungjawab Formasi Pedang-Salib di Masjid Agung Bekasi BEKASI


Inilah Wong Christofer Cahyadi Sang Penanggungjawab Formasi Pedang-Salib Masjid Agung Bekasi – Sudah dua pekan lebih berlalu, tapi perusuh agama yang berulah membuat Formasi ‘Pedang-Salib’ di Masjid Agung Al-Barkah Bekasi belum juga tertangkap. Polisi membidik Christofer, ketua panitia penyelenggara karnaval sebagai tersangka jika pelakunya tidak ketemu.

Hal itu disampaikan Kapolres Metro Bekasi AKBP Imam Sugianto dalam pertemuan Walikota Bekasi, Mochtar Mohamad dengan Muspida Bekasi dan para pimpinan ormas Islam Bekasi, Senin pagi (17/5/2010).

Pertemuan di kantor Walikota Bekasi itu diadakan untuk merespon demo ribuan umat se-Bekasi, Jum’at (14/5/2010). Para pimpinan ormas Islam: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Bekasi, Forum Umat Islam (FUI) Bekasi, Gerakan Pemuda Islam (GPI) Bekasi, Garda Umat Islam (Gamis), dll. Dalam pertemuan selama 70 menit itu hadir pula Kajari Bekasi, Komandan Kodim Bekasi, Kapolres Bekasi, Kepala Pengadilan Bekasi dan Wakil Ketua DPRD Bekasi.

Setelah membicarakan berbagai kasus gereja ilegal di Bekasi, Agus Dachlan dari GPI mempertanyakan sejauh mana polisi menangani kasus penodaan agama di Masjid Agung Al-Barkah Bekasi. “Apakah Benny Tunggul sudah ditangkap, Pak?” tanya Agus berapi-api.

Kapolres Metro Bekasi AKBP Imam Sugianto menyatakan bahwa polisi sangat serius mengusut kasus penodaan agama di Bekasi.

“Kami ingin menunjukkan kepada umat Islam khususnya di Kota Bekasi, bahwa terhadap kasus penodaan agama di wilayah Bekasi kami tidak main-main,” ujarnya.

Terkait kasus formasi Pedang Salib di pelataran Masjid Agung Bekasi, Imam menjelaskan bahwa Polres Bekasi sudah memanggil para sakti, termasuk Benny Tunggul. Namun dalam panggilan pertama, Jum’at (14/5/2010), Benny Tunggul tidak datang.

“Kemarin Benny Tunggul sudah kita panggil sebagai saksi, tapi tidak datang. Kita sudah layangkan surat panggilan kedua. Kalau dalam panggilan kedua juga tidak datang, ya kita jemput,” jelasnya.

Imam menambahkan, Benny Tunggul sesuai dengan pengakuan seorang panitia, memang berperan sebagai korlap kegiatan. Tetapi namanya tidak tersebut dalam kepanitiaan penyelenggaraan kegiatan itu.


...Christofer yang paling bertanggungjawab, kita sedang mengarah ke sana, kata Kapolres Metro Bekasi AKBP Imam Sugianto...


Maka, yang paling bertanggung jawab dalam kasus penistaan agama itu adalah ketua panitia kegiatan, Wong Christofer Cahyadi. Ia sudah dipanggil ke Reskrim Polres Metro Bekasi, Rabu (12/5/2010) bersama panitia lainnya, antara lain: Senina Pangestu dan Yani Ikyavianus Sengko. Senina Pangestu adalah wakil ketua panitia karnaval yang mengurus izin penyelenggaraan karnaval ke Polres Metro Bekasi, sedangkan Yani Ikyavianus Sengko adalah sekretaris panitia.


Wong Christofer Cahyadi, ketua panitia pawai Hardiknas berbuntut Formasi ‘Pedang Salib’ di Masjid Agung Al-Barkah Bekasi.


“Christofer yang paling bertanggungjawab, kita sedang mengarah ke sana. Panitia semua sudah kita periksa, kalau ternyata tidak ada yang mengetahui kegiatan itu, maka pidananya akan kita timpakan kepada siapa yang bertanggungjawab menyelenggarakan kegiatan itu. Dalam hal ini adalah panitianya,” tegas Imam.

Kapolres bantah rumor rencana penangkapan para kiyai dan ustadz Tabligh Akbar

Usai mendengar penjelasan Kapolres Metro Bekasi, ketua Lembaga Dakwah Asy-Syams, Shalih Mangara Sitompul mempertanyakan adanya isu rencana penangkapan terhadap para ustadz dan ulama yang menjadi pembicara dalam Tabligh Akbar dan Apel Siaga Umat Islam di Masjid Agung Al-Barkah Bekasi. Menurutnya, rumor ini sangat sensitif karena bisa memancing gelombang massa yang kedua setelah demo ribuan umat Jum’at (14/5/2010) kemarin di kantor walikota.

“Saya dengar rumor di masyarakat bahwa Bapak Kapolres akan menggunakan pasal 160 untuk menangkapi para ustadz dan ulama yang berceramah dalam Tabligh Akbar di Masjid Agung Al-Barkah Bekasi. Saya minta klarifikasi, karena rumor ini sangat berbahaya," ujar Shalih yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Bekasi itu.

Kapolres Metro Bekasi AKBP Imam Sugianto membantah tegas rumor itu. Imam justru menuding pihak yang menghembuskan isu itu sebagai orang yang ingin memancing keributan di Bekasi. Isu ini berbahaya karena bisa membuat Bekasi rusuh.

“Isu penangkapan para penceramah pada tabligh akbar di masjid Al-Barkah, ini adalah isu yang tidak benar. Pihak mana pun yang menggelontorkan isu ini, saya yakin menginginkan situasi Bekasi ini ribut. Tidak benar isu itu,” bantah Imam.

Diberitakan voa-islam.com sebelumnya, prosesi penodaan agama itu dilakukan pada acara karnaval Hardiknas bertema “Bekasi Bebas Narkoba” Ahad, (2/5/2010). Kepada wartawan, sambil memegang poster Badan Narkotika Kota Bekasi, Benny Tunggul mengklaim bahwa acara itu diselenggarakan oleh BNK Bekasi bekerjasama dengan tim panitia. Panitia kegiatan tersebut diketuai oleh Wong Christofer Cahyadi.

Dua puluhan peserta yang memakai simbol-simbol Kristen masuk ke pelataran (plasa) Masjid Agung Al-Barkah Bekasi. Di pelataran ini, mereka berbaris menghadap kiblat searah dengan pintu utama masjid, lalu membentuk formasi “Mahkota Paus dan Salib.”


…Gabungan antara tongkat dan pedang di pelataran masjid itu membentuk tanda salib. Formasi Pedang Salib ini menuai kecaman dari umat Islam di Bekasi…


Orang paling depan, seorang laki-laki dari etnis China membawa replica Tiara (mahkota) Paus berwarna ungu. Mahkota paus itu diletakkan di atas talam yang dihiasi dengan kain beludru warna ungu. Orang kedua yang berdiri di belakangnya mengacungkan tongkat ke atas. Di belakangnya lagi, seorang berpakaian ala tentara Romawi, menyilangkan pedang imitasi berwarna putih. Gabungan antara tongkat dan pedang di pelataran masjid itu membentuk tanda salib. Formasi Pedang Salib ini menuai kecaman dari umat Islam di Bekasi.

Puncak dari kecaman itu adalah Tabligh Akbar ribuan umat Islam di Masjid Agung Bekasi (9/5/2010) dan demo besar-besaran ribuan umat yang mengepung kantor Walikota Bekasi, Jum’at (14/5/2010). Umat Islam mengecam penodaan agama dan memproklamirkan “Deklarasi Umat Islam Bekasi” yang salah satu butirnya adalah tuntutan qishas (hukuman mati) bagi para pelakunya (voa-islam.com)




READ MORE - Inilah Wong Christofer Cahyadi Sang Penanggungjawab Formasi Pedang-Salib Masjid Agung Bekasi

Lecehkan Simbol Muslim, Kristen Bekasi Kembali Tantang umat Islam




Lecehkan Simbol Muslim, Kristen Bekasi Kembali Tantang umat Islam. Awas! Kristen Berani Bikin Formasi Pedang-Salib di Masjid Agung Bekasi – Belum reda panasnya penghujatan terhadap Islam di blog Bellarminus, sepekan kemudian, Kota Patriot Bekasi kembali dihadiahi adegan SARA. Di Masjid Agung Bekasi, mereka membuat formasi pedang salib dan mahkota paus. Padahal masjid terbesar di Bekasi ini adalah simbol kewibawaan umat Islam se-Bekasi. Simbol umat Islam pun ternoda.

Insiden SARA ini terjadi dalam Karnaval antinarkoba Bekasi yang digelar dalam rangka Hari Pendidikan Nadional (Hardiknas) hari Ahad (2/5/2010). Karnaval yang digelar oleh Badan Narkotika Kota (BNK) Bekasi itu dimulai dari Gor Bekasi menuju alun-alun, melewati masjid Al-Barkah, lalu finish di Kantor PMI Bekasi.

Menurut Benny Tunggul, Koordinator Lapangan Badan Narkotika Kota (BNK) Bekasi, para peserta karnaval berasal dari sekolah-sekolah se-Bekasi.


“Ini dalam rangka Hardiknas, kita melakukan karnaval Bekasi bebas narkoba. Kita harapkan semua generasi muda perang terhadap narkoba,” kata Benny di halaman kantor PMI Bekasi, Ahad (2/5/2010).

Mulanya pawai yang diikuti sekira dua ratusan peserta itu berlangsung biasa saja. Pada barisan depan diawali dengan marching band berseragam biru muda. Di bagian punggungnya terdapat logo Yahudi, yaitu bintang david.

Kemudian disusul dengan barisan siswa anak-anak SD dengan membawa panji-panji kristiani bertuliskan: Elshadai, Adonai, Yehova Rapha, Yehova Shalom, Yehova Nissi, Yehova Shammah, dll. Ada juga bendera putih dalam ukuran besar bergambar bintang david (david star).

http://voa-islam.com/photos/mumtaz/formasi-salib-bekasi-3.jpg


Seorang peserta lainnya, membawa bendera oranye dalam ukuran besar bertuliskan “Jawa Barat,” disertai gambar pedang terhunus yang mengeluarkan api. Pada bagian atas, nampak gambar seekor maung (singa) yang dipenggal dengan sebilah pedang, lalu di bagian paling atas ditampakkan logo bintang david.

Sekitar pukul 8.30 pagi, ketika melewati alun-alun, tepat di masjid Al-Barkah, beberapa peserta karnaval berbuat ulah. Padahal di dalam masjid terbesar sekota Bekasi itu sedang dilangsungkan akad nikah, seorang qori sedang membacakan tiwalah Al-Qur'an.

Tiba-tiba, lima orang peserta karnaval berdandan kristiani itu memasuki pelataran masjid. Spontan, beberapa orang yang terusik, terutama petugas sound system berhamburan keluar, ingin menyaksikan apa yang sedang terjadi.

...lima orang peserta karnaval berdandan kristiani itu memasuki pelataran masjid. Mereka berbaris menghadap pintu utama, membentuk formasi Salib dengan tongkat dan pedang putih...

Ternyata, tepat di depan pintu utama masjid, lima orang itu berbaris menghadap kiblat membentuk formasi “Mahkota Paus dan Salib.”


http://voa-islam.com/photos/mumtaz/formasi-salib-bekasi-2.jpg

Orang paling depan, seorang laki-laki dari etnis China membawa replick Tiara (mahkota) Paus berwarna ungu. Mahkota paus itu diletakkan di atas talam yang dihiasi dengan kain beludru warna ungu. Orang kedua yang berdiri di belakangnya mengacungkan tongkat ke atas. Di belakangnya lagi, seorang berpakaian ala tentara Romawi, menyilangkan pedang imitasi berwarna putih. Gabungan antara tongkat dan pedang itu membentuk tanda salib.

Para saksi mata maupun petugas masjid yang melihat pemandangan itu dari teras masjid, spontan menangkap bahwa itu adalah formasi Salib.

“Pas saya lihat gitu, kaget saya. Dah, ini mah salib!” kata Iskandar, seorang petugas.

Sementara dua orang rekannya tidak ikut membentuk formasi Salib, mereka membawa tas sambil membagi-bagikan souvenir berupa gantungan kuci, cincin dan gelang karet bertanda mahkota salib dengan tulisan “Joel Generation.”

Kelima orang itu membubarkan diri bergabung dengan peserta karnaval lainnya, setelah ditegur dengan nada membentak oleh petugas masjid.

“Pas bagi-bagi gitu saya tanya, ini apa-apaan ini! Dia bilang, ini pak cinta Bekasi. Saya bentak lagi, nah kok begini! Terus mereka bubar,” jelas dia.

Sementara di trotoar dekat pagar masjid, para peserta karnaval membagi-bagikan souvenir dan kue kepada siapa saja yang ditemuinya. Mereka mengucapkan “Semoga Bekasi sejahtera, Yesus baik.” Peserta pawai lainnya membawa ember warna emas berisi air. Wanita muda itu memercikkan air kepada orang-orang yang menonton pawai di pinggir jalan.

Tiba-tiba, seorang petugas masjid diperciki dari kepala sampai kaki, seolah sedang melakukan ritual ‘baptis percik.’ Sejurus kemudian, petugas masjid yang tidak melakukan perlawanan itu dipeluk dan didoakan oleh tiga orang.

“Seakan-akan mereka ingin membabtis gitu. Teman saya dicipratkan air di kepala, badan sampai kaki gitu. Lalu dipeluk sambil didoakan ama dia,” kisah seorang petugas masjid.


http://voa-islam.com/photos/mumtaz/formasi-salib-bekasi-6.jpg


Tak ingin terjadi sesuatu yang melanggar akidah, maka para petugas masjid lainnya segera bertindak dengan menarik sang petugas sembari mengusir tiga orang Kristen yang dicurigai sebagai penginjil itu.

“Kami takut mereka membaptis gitu, maka kami langsung tarik saja. Saya bentak ‘maksudnya apa ini pak!!’ akhirnya mereka langsung pergi,” paparnya.

Saat diminta tanggapannya mengenai insiden bernuansa SARA di pelataran Masjid Agung Bekasi itu, Christopher, panitia karnaval membantahnya.

“Dalam hal ini nggak ada yang seperti itu. Kami hanya karnaval saja,” sangkalnya.

Mengenai adanya peserta karnaval yang melakukan insiden di masjid, ia mengatakan akan melakukan koordinasi dengan para panitia yang lain.

“Nanti saya akan koordinasi” pungkasnya.


Lecehkan Simbol Muslim, Kristen Tantang umat Islam

Orang yang paling geram terhadap insiden SARA di halaman masjid itu adalah Ustadz Muhammad Romdhon. Karena saat itu ia sedang menjadi saksi pernikahan salah seorang santrinya di Masjid Agung. Prosesi pernikahan terganggu oleh insiden itu. Ia semakin geram, karena para pelaku mengaku karnaval itu sudah diizinkan oleh Walikota Bekasi, Mochtar Mohammad.

“Ya, kalau hal ini dilakukan di terminal, di pasar, di stasiun atau tempat umum mungkin tidak masalah. Tapi ini di tempat ibadah kita. Mereka berani berbuat seperti itu, itu kan menantang,” ujarnya geram.

Menurut Romdhon, tindakan SARA yang dilakukan oleh para aktivis Kristen di Masjid Agung itu berarti menantang umat Islam seluruh Bekasi.

“Ini kan Masjid Agung, simbol dan lambangnya Islam di Bekasi. Maka harga diri kita ditantang untuk menghadapi mereka,” tegasnya.

Romdhon juga mempertanyakan alasan peserta karnaval seperti itu sudah diizinkan oleh walikota.

“Mereka mengatakan ini atas izin walikota. Maka kita tandaskan ke walikota, apa benar begitu yang diizinkan,” pungkasnya.

Henteu jeulas, iring-iringan nu temana "Bekasi Anti Narkoba" eta, anti naon? Anti Narkoba atawa anti Islam, euy? ( voa-islam.com )




READ MORE - Lecehkan Simbol Muslim, Kristen Bekasi Kembali Tantang umat Islam