Tampilkan postingan dengan label Kebohongan Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebohongan Kristen. Tampilkan semua postingan

Riwayat Pembantaian Umat Manusia Oleh Gereja Dari Dulu Sampai Sekarang

Riwayat Pembantaian Umat Manusia Oleh Gereja Dari Dulu Sampai Sekarang - Dalam kasus terorisme, media memang terkenal tidak adil dalam memberitakan Islam. Islam menjadi agama yang paling banyak disudutkan dalam aksi kekerasan. Jika pada kasus pemboman Bali, Gerakan Amrozi Cs dicari sampai ke akar-akarnya, bahkan ditumpas tak bersisa, menjadi lain ceritanya jika Kristen yang melakukan tindakan sama. Seakan media menjadi bungkam seketika.

Dalam kasus kerusuhan Poso misalnya, pengadilan hanya berhenti pada nama tiga orang terdakwa Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, dan tidak pernah diteruskan kepada siapa dibalik mereka sampai ke anggota-anggotanya. Padahal jelas Tibo cs bertindak atas nama gerakan.

Begitu juga dalam peberitaan internasional. Bush dan serdadunya -yang dikorbankan semangat Fundamentalisme Kristen-yang membunuh jutaan umat muslim di Timur Tengah, seakan-akan lenyap tanpa dosa. Media-media pun tidak ada yang memanggil Bush dengan sapaan teroris. Berbeda jika Usamah Bin Ladin yang diberitakan, baik media cetak maupun televisi ramai-ramai mencapnya teroris tanpa mendudukan kronologis dan pra asumsi yang berkembang.

Kita tentu bertanya-tanya, entah mengapa jika Kristen yang melakukan aksi kekerasan, stigma teroris menjadi kebal bagi mereka. Padahal sejarah mencatat bagaimana kekejaman yang dilakuakn Kristen bukanlah isapan jempol semata, mereka tidak hanya membantai Islam, tapi juga Yahudi, kaum Pagan, pelaku bid’ah secara keji dan tak beradab. Tulisan ini bukan untuk membangkitkan luka, namun bisa jadi pelajaran bagi kita untuk meluruskan isu seputar terorisme atas nama agama.

Pembunuhan Kaum Pagan

Sejak agama Kristen diresmikan pada tahun 315 M, kuil-kuil kaum Pagan makin banyak dihancurkan oleh pengikut Kristen. Pendeta kaum pagan pun banyak dibunuh. Antara tahun 315 dan abad ke-6, ribuan orang penyembah berhala disembelih. Dan itu semua dilakukan atas nama misi Gereja.

Melaksanakan ritual ibadah pagan menjadi sangat berbahaya bagi pelakunya dan terancam hukuman mati, ini sudah terjadi mulai tahun 356 Masehi. Kaisar Kristen Theodosius (408-450M) bahkan membunuh anak-anaknya sendiri karena mereka bermain-main dengan patung-patung pagan. Menurut penulis Christian Chronicles, kaisar yang melakukan hal tersebut didasari akan kepatuhan terhadap seluruh ajaran Kristen.

Akhirnya, pada abad ke 6 seluruh hak hidup para penganut Pagan dinyatakan dicabut. Bahkan sebelumnya pada awal abad ke-4, filosof Sopratos dihukum mati atas perintah penguasa Kristen.

Selanjutnya di tahun 415 M, Hypatia dari Alexandria, seorang filosof wanita yang terkenal, diseret kemudian dipotong-potong tubuhnya oleh orang-orang Kristen Koptik radikal yang dipimpin oleh pendeta Peter. Hypatia sendiri adalah seorang ilmuwan Yunani dari Alexandria Mesir. Hypatia dibunuh karena menjadi penyebab kekacauan dalam agama. Ia dijuluki sebagai "pembela ilmu pengetahuan yang gagah berani melawan agama". Dan beberapa pendapat mengatakan kematiannya menandai akhir dari zaman Hellenistik dan dimulainya zaman kegelapan (The Dark Ages).

Pembunuhan Atas Nama Misi Gereja

Selain membunuh secara kejam dan membabi buta kaum pagan, Kristen juga melakukan terorisme dan kesadisan terhadap mereka-mereka yang tidak mau ikut agamanya. Kaisar Karl (Charlemagne), misalnya, pada tahun 782 M tanpa punya nurani memenggal kepala 4500 orang Saxon, karena mereka tidak mau memeluk agama Kristen.

Kaum tani yang tidak mau membayar sumbangan kepada Gereja pun mengalami hal serupa. Mereka dijatuhi hukuman mati layaknya manusia penuh dosa. Jumlahnya pun tidak main-main, antara 5000 sampai 11.000 pria, wanita dan anak-anak, dibunuh pada tanggal 27 Mei 1234 dekat Altenesch (Jerman).


Lalu pada abad ke 16 dan 17 M, tercatat puluhan ribu warga Irlandia dibunuh. Pasukan Inggris terjun ke wilayah ini semata-mata demi menjinakkan orang-orang Irlandia yang liar. Mereka di anggap tidak lebih dari binatang yang hidup tanpa mengindahkan hukum-hukum Tuhan. Seorang pimpinan tentara Inggris yang terkenal kejam adalah Humphrey Gilbert yang memerintahkan untuk memenggal kepala semua tawanan.

Pembantaian Dalam Perang Salib

Belum lagi fakta, di Semlin dan Wieselburg (Hungaria), pada tanggal 12 sampai 24 Juni 1096 ribuan orang dihilangkan nyawanya secara kejam. Hanya dalam waktu hitungan hari dari tanggal 9 sampai 26 September 1096 sekitar 1000 orang dibunuh di Nikala atau Xerigordon (Turki).

Kita juga tidak lupa pada tanggal 11 Desember 1098, seribu orang Muslim di bantai di Marra. Tentara Salib yang lapar karena kehabisan makanan sampai-sampai mengambil daging mayat musuh yang sudah mulai membusuk dan memakannya (Christian Chronicle, Albert Aquensis).

Penaklukkan kota Jerusalem yang terjadi pada tanggal 15 Juli 1099 pun dihiasi kematian 60.000 warga Muslim, Yahudi, laki-laki dan anak-anak, yang dibunuh secara keji oleh Pasukan Perang Salib. Puluhan ribu kaum muslim yang mencari penyelamatan diatas masjid Al Aqsha pun dikejar sampai dapat dan mereka dibantai dengan sangat sadis.

Kekejaman demi kekejaman pasukan salib memang sulit dinalar oleh akal sehat. Setahun sebelumnya, pada tahun 1098, pasukan tentara bengis itu telah membunuh ratusan ribu kaum muslim di Arra’t-un-Noman, salah satu kota di Syria. Mereka bergerak atas “sabda” Paus Urban yang menyeru “Killing these godless monsters was a holy act: it was a Christian Duty to exterminate thi vile race from our lands” atau “Membunuh para monster tak bertuhan itu adalah tindakan suci: adalah kewajiban umat Kristen untuk memusnahkan angsa jahat itu dari wilayah kita.”

Salah satu saksi mata sampai-sampai menyatakan bahwa ,"Genangan darah manusia di depan Kuil Solomon setinggi pergelangan kaki orang dewasa”. Sedangkan, salah seorang penulis Kristen bernama Eckehad dari Aura mengatakan, “bahkan berlanjut hingga musim panas, udara di seluruh Palestina masih tercemari oleh bau mayat-mayat yang membusuk".

Pembunuhan Terhadap Orang Bid’ah (Inkuisisi)
Sejatinya, Inkuisisi (dengan huruf I besar) adalah istilah yang secara luas digunakan untuk menyebut pengadilan terhadap bidaah oleh Gereja Katolik Roma. Undang-undang ini mengandung peraturan-peraturan yang sangat keras. Sanksi pelaku bid’ah bahkan bisa sangat mengerikan daripada kaum pagan yang jelas-jelas kafir dalam konsep mereka.

Dalam sejarahnya, Gereja Trinitarian yang menjatuhkan keputusan bersalah kepada seorang pelaku bid’ah akan memberikan hukuman tak berperi dari mulai penyiksaan, pembakaran sampai pemenggalan kepala.

Kasus ini sempat menimpa kaum Manichaean. Kaum Manichean adalah salah satu sekte yang dinyatakan bid’ah dalam Kristen karena melakukan praktek pengendalian kelahiran (KB) yang tidak diajarkan oleh Gereja Katholik. Bayangkan karena hal itu, ribuan orang Manichean menjadi korban seiring kampanye besar-besaran ke seluruh kekaisaran Romawi antara tahun 372 M sampai 444 M.

Selain pembasmian yang menimpa kaum Manichean, hal serupa juga menimpa kelompok Cathars. Orang-orang Cathars pada dasarnya menganut Kristen dengan baik, tetapi pada sisi lain mereka menolak segala peraturan Gereja Katholik Roma yang dirasa tidak adil seperti pajak dan larangan pengendalian kelahiran.

Lantas hanya karena hal itu, Paus Innocent III memerintahkan untuk membunuh para pengikut Cathars di tahun 1209. Kota Beziers (Perancis) pada tanggal 22 Juni 1209 pun dihancurkan. Semua makhluk yang hidup di dalamnya pun dibantai tanpa ampun. Jumlah korban menurut catatan sejarah berkisar pada angka 70.000 manusia, angka itu termasuk jumlah pemeluk Katolik yang menolak untuk menyerahkan tetangga dan sahabatnya yang di kategorikan bid’ah oleh Gereja.

Bid;ah lainnya yang juga dilakukan oleh Waldensians, Paulikians, Runcarians, Josephite dan lain-lain juga dienyahkan hingga tak bersisa. Ratusan ribu orang kemudian mati tak bernyawa oleh kekejeman pihak gereja. Bahkan John Huss, yang mengkritisi "Papal Infallibility" (Kemustahilan Paus berbuat salah) dan Surat penebusan dosa, dibakar hidup-hidup di tiang pancang pada tahun 1415.

Pembunuhan Terhadap Yahudi

Yang juga turut mengalami kekejaman selain Islam adalah kaum Yahudi. Max Margolis dan Alexander Marx dalam “A History of Jewish People” menceritakan bahwa pada periode 612-620 M, banyak kasus terjadi dimana Yahudi dibaptis secara paksa. Euric (680-687) membuat keputusan bahwa seluruh orang Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan dibawah pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja. Setelah diKristenkan secara paksa, orang-orang Yahudi itu tetap diawasi secara ketat oleh gereja, takut kalau-kalau mereka kembali melakukan ibadah Yahudi.

Bahkan Raja Egica (687-701) membuat keputusan bahwa semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak. Keputusan sepihak itu tidak saja berlangsung dalam satu sampai dua tahun, namun untuk selamanya. Harta benda kaum Yahudi disita dan mereka diusir dari rumah-rumah sehingga tersebar ke berbagai provinsi. Lebih dari itu anak-anak Yahudi yang berumur tujuh tahun ke atas diambil paksa dari orangtuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. 

Selanjutnya pada tahun 1096, saat Perang Salib pertama, ribuan orang Yahudi dibunuh oleh Salibis Kristen di kota Worm teparnya pada tanggal 18 Mei 1906, di Mainz. Lalu pada tanggal 27 Mei 1096 sekitar 1100 orang Yahudi juga mengalami pembantaian.

Dalam Perang Salib itu, tercatat 12.000 orang Yahudi dibunuh dimana tempatnya membentang dari Worms, Mainz, Cologne, Neuss, Altenahr, Wevelinghoven, Xanten, Moers, Dortmund, Kerpen, Trier, Regensburg, Prag hingga Metz di Perancis.

Sedangkan pada tahun 1348 nasib naas juga dialami Yahudi, dua ribu orang diantara mereka dibunuh di Bassel (Swiss) dan Strassbourg. Sedangkan pada tahun 1349 diKita Praha, data menyatakan bahwa 3000 orang Yahudi telah tewas terbunuh. Sedang pada 42 tahun selanjutnya, takni pada tahun 1391, kaum Yahudi Seville habis oleh Kardinal Martines. Dalam catatan sejarah tercatat sebanyak 4000 orang Yahudi tewas dan 25.000 lainnya dijual sebagai budak.

Ternyata itu pun belum berakhir. Abad 15 adalah abad yang menjadi saksi pembantaian besar-besaran kaum Yahudi dan muslim di Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1483 misalnya, 13.ooo orang Yahudi dieksekusi atas perintah komandan inquisisi Spanyol, Faray Thomas de Torquemada.

Jatuhnya Granada ke tangan Spanyol juga berbuah ancaman bagi Yahudi. Hanya dalam beberapa bulan antara akhir April sampai 2 Agustus 1492, sekitar 150.000 kaum Yahudi diusir dari Spanyol. Sebagian besar dari mereka kemudian mengungsi ke wilayah Turki Utsmani yang menyediakan tempat aman bagi Yahudi.

Stand J Shaw dalam “The Jews of the Ottoman Empire and the Turkish Republic” mencatat jumlah Yahudi yang terusir dari Spanyol tahun itu sebanyak 160.000. Dari jumlah itu, 90.000 mengungsi ke Turki. 25.000 ke Belanda, 20.000 ke Maroko, 10.000 ke Prancis, 10.000 ke Italia dan 5.000 ke Amerika. Yang mati dalam perjalanan diperkirakan 20.000 orang. Sedangkan yang dibaptis tetap di Spanyol sebanyak 50.000 orang. 

Kekejeman Terhadap Muslim di Guantanamo

Dalam perkembangan modern, terror Kristen pun tidak pernah berhenti. Kebencian mereka terhadap Islam dilakukan dalam jejak-jejak pemerintahan Amerika Serikat. Mereka tidak saja membasmi jutaan umat muslim di Afghanistan, Pakistan, Kaukasus, Somalia, Palestina, Bosnia tapi juga menahan tawanan-tawanan muslim di penjara terkejam di Guantanamo. Umat muslim disiksa, dilecehkan, namun lagi-lagi tidak ada yang menyebut mereka dengan sapaan teroriss, bahkan sampai detik ini.

Lawrence Wilkerson, asisten mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell, pernah membuat pengakuan dalam suatu pernyataan yang ditandatangani untuk mendukung gugatan yang diajukan oleh seorang tahanan Guantanamo, Adel Hassan Hamad.

Hamad, seorang pria Sudan yang ditahan di Teluk Guantanamo sejak Maret 2003 sampai Desember 2007, mengklaim bahwa dia mengalami penyiksaan oleh agen-agen AS saat berada di dalam tahanan dan mengajukan gugatan terhadap beberapa nama pejabat Amerika.

Menurut Wilkerson, baik Dick Cheney maupun Donald Rumsfeld sebenarnya mengetahui bahwa sebagian besar dari 742 tahanan yang pertama kali dikirim ke Guantanamo pada tahun 2002 adalah mereka yang tidak bersalah, tetapi yakin bahwa ada kemungkinan untuk membiarkan para tahanan itu bebas.

Wilkerson, yang menjabat sebagai kepala staf Powell sebelum ia meninggalkan pemerintahan Bush tahun 2005, mengklaim bahwa sebagian besar tahanan, yang terdiri dari anak-anak berumur 12 hingga kakek-kakek setua 93 tahun, tidak pernah melihat seorang tentara AS sebelumnya, kecuali setelah mereka ditangkap.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Rumsfeld dan Cheney pada khususnya, tidak punya belas kasihan bagi orang yang tak bersalah dan harus mendekam di Guantanamo selama bertahun-tahun, serta harus mengalami penderitaan hanya demi kepentingan AS untuk membenarkan perang melawan terornya.

“Dia (Cheney) sama sekali tidak memiliki kekhawatiran bahwa sebagian besar tahanan Guantanamo itu tidak bersalah … Jika ratusan individu yang tidak bersalah harus menderita,” kata Wilkerson.

Selanjutnya, Mohammad al-Kahtani, tersangka ke-20 peledakan serangan 11 September yang ditahan di Teluk Guantanmo, Kuba dalam sebuah catatan harian penjara mengaku dipaksa telanjang sambil menirukan gonggongan anjing saat menjalani penyidikan.

Saat tengah malam, kepala Kahtani kerap digebyuri air dan telinganya dijejali musik-musik keras karena mendadak harus menjalani pemeriksaan. Permintaannya untuk shalat senantiasa ditolak.

Selain itu, warga Arab Saudi ini juga diinterogasi di sebuah ruangan yang didekorasi dengan gambar-gambar korban 11 September. Sudah tak terhitung berapa kali dia harus kencing di celana karena ketakutan. Harga dirinya juga dicabik-cabik ketika lehernya dikalungi gambar wanita setengah bugil. Sampai pernah suatu saat dia minta diperbolehkan bunuh diri.

Gambar-gambar yang sangat mengagetkan dunia, mengenai bagaimana para tahanan diperlakukan pernah beredar di awal tahun 2002 silam. Kondisi mereka lemah, dalam pakaian oranye yang menyala, mata, mulut, dan telinga disekap, kedua tangan dan kaki dirantai. Sel-selnya seperti kandang ayam. Kawat- kawat berduri melintang ke sana kemari siap merobek kulit dan daging.

Selanjutnya, Mohammed Sagheer, 52 tahun, seorang da’i Pakistan yang telah dikeluarkan dari Guantánamo juga menglima terror mental. Para sipir penjara menurutnya menggunakan obat untuk mengendalikan para tahanan. Sagheer menyatakan bahwa para tentara itu memberi tahanan sebuah tablet yang akan membuat para tahanan tak sadarkan diri.

“Saya sembunyikan tablet-tablet itu di bawah lidah, lalu membuangnya begitu penjaga tidak melihat,” katanya. Sagheer mengaku dua kali dihukum di sel isolasi yang gelap karena meludahi penjaga, yang menurutnya telah memprovokasinya dengan melempar Qur’an dan memukulinya


READ MORE - Riwayat Pembantaian Umat Manusia Oleh Gereja Dari Dulu Sampai Sekarang

Antara Tuhan dan Yahweh

Menelusuri persoalan penggunaan nama Tuhan dalam agama Kristen di Indonesia seperti memasuki ruang perdebatan yang tiada berujung. Ellen Kristi, dalam bukunya yang berjudul “BUKAN ALLAH, TAPI TUHAN” (Borobudur Indonesia Publishing: 2008), mengajak kaum Kristen untuk secara tegas menyebut nama Tuhan mereka dengan “Yahweh”, bukan menerjemahkan nama Tuhan “YHWH” dengan “TUHAN” seperti yang dilakukan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) selama ini.

Ellen Kristi mengajak untuk menyimak satu ayat Bibel berikut versi terjemah LAI: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu seluruh bumi,” (Mazmur 8:2,10, teks versi LAI, tahun 2007).

“TUHAN, Tuhan kami”, berarti nama Tuhan kita itu TUHAN? Beginilah jadinya kalau nama Yahweh dibaca sebagai TUHAN. Padahal, “Ya Yahweh, Tuhan kami!” tulis Ellen Kristi, yang mengaku sebagai penganut paham Kristen-Tauhid.

http://hidayatullah.com/berita/gal46797245.jpg

Ellen mengambil contoh lain tentang keganjilan menerjemahkan “YHWH” menjadi “TUHAN” sebagaimana yang dilakukan LAI selama ini. Misalnya teks Yeremia 16:21, ditulis: “Sebab itu, ketahuilah, Aku mau memberitahukan kepada mereka, sekali ini Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaan-Ku dan keperkasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku TUHAN”.

Contoh lain, teks Yesaya 42:8 tertulis: “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.”

Ellen Kristi mengajak kaum Kristen untuk dengan tegas menyebut nama Tuhan mereka adalah Yahweh. Tulisnya: “Sekalipun kita bukan bangsa Israel, kita pun bangsa Timur yang memandang penting arti sebuah nama, bukan seperti Shakespeare yang berkata, “What is in a name?” Bayangkan betapa anehnya jika seorang anak cuma bisa memanggil ayahnya, “Bapak! Bapak!” Tetapi waktu ditanya, “Siapa nama Bapakmu?” ternyata dia tidak tahu.” (hal. 22-24).

Sebagaimana kita bahas dalam CAP ke-352, “YHWH” adalah nama Tuhan dalam agama Yahudi yang tidak diketahui cara membacanya dengan pasti. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.” Lihat, John Bowker (ed), The Concise Oxford Dictionary of World Religions, (Oxford University Press, 2000).

Dalam Bibel edisi bahasa Inggris versi King James Version, teks Yeremia 16:21 pada frase terakhir tertulis: “… and they shall know that my name is The Lord.” Sementara itu, dalam sebuah manuskrip Kitab al-Muqaddas (Bibel bahasa Arab, tahun 1866), frase teks tersebut ditulis: “… wa ya’lamuuna anna ismiy huwa al-Rabb.”

Dari berbagai terjemah tersebut, tampak, tetragram Ibrani “YHWH” diterjemahkan menjadi “TUHAN” (Indonesia), “The LORD” (Inggris), dan “al-Rabb” (Arab), dengan makna “Tuhan itu”. Meskipun sejumlah teks Bibel itu menunjukkan bahwa “YHWH” memang menunjukkan nama Tuhan, tetapi nama itu tidak diketahui dengan pasti bagaimana membacanya.

Di Indonesia, masalah penerjemahan “YHWH” ke dalam bahasa Indonesia telah menjadi bahan diskusi panjang selama beratus tahun. Dalam rangka HUT emas, LAI (tahun 2005), diterbitkan buku kumpulan makalah seminar berjudul “Satu Alkitab Beragam Terjemahan”. Dalam makalahnya yang berjudul “Terjemahan Alkitab dalam Konteks Lintas Bahasa dan Budaya: Menerjemahkan Nama Allah”, Prof. Dr. Tom Jacobs, S.J., dari Universitas Katolik Sanata Dharma Yogyakarta memberikan uraian tentang “YHWH” sebagai berikut:
“Nama Allah itu biasanya disebut “Tetragram” (artinya: Empat huruf). Maksudnya, dalam bahasa Ibrani asli hanya ditulis huruf mati. Bagaimana keempat huruf itu diucapkan, atau apa huruf hidupnya, tidak ada orang yang tahu. Malahan, mulai abad ke-3 s.M. orang sama sekali tidak mengucapkan nama itu lagi, dan menggantikannya dengan kata yang lain, khususnya adonay (=”Tuhanku”), kadang-kadang juga dengan elohim (=”Allah”).” (hal. 53).
Dengan menerjemahkan “YHWH” menjadi “TUHAN” sebagai nama Tuhan dalam bahasa Indonesia, memang bisa memancing orang untuk terus bertanya “siapa nama Tuhan yang sebenarnya”. Apakah “TUHAN” itu nama diri (proper name) atau sebutan untuk Yang Maha Kuasa? Perhatikan terjemahan sejumlah teks Bibel edisi Indonesia versi LAI (tahun 2007) berikut ini:
“Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya – apakah yang harus kujawab kepada mereka?”

Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi Firman-Nya: “Beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” (Keluaran 3: 13-15).
Seperti sudah dimaklumi, YHWH – yang sebenarnya merupakan nama Tuhan orang Israel – masih tetap misterius, tak pernah bisa diketahui bagaimana membacanya dengan pasti. Prof. Tom Jacobs menulis:
“Yang disebut Adonai adalah YHWH. Tetapi, dalam Keluaran 20:7 (=Ul.5:11) dikatakan, “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu (YHWH Eloheka), dengan sembarangan.” Dan untuk menghindari ucapan “dengan sembarangan”, maka lama kelamaan orang sama sekali tidak lagi mengucapkan nama YHWH dan menggantikannya dengan Adonai.” (hal. 57).
Cara penerjemahan “YHWH” menjadi “TUHAN” versi LAI seperti itulah yang dikritik oleh kalangan Kristen yang menolak penggunaan kata Allah. Dalam Bibel terbitan mereka yang diberi nama “KITAB SUCI: Indonesian Literal Translation” (Jakarta: Yayasan Lentera Bangsa, 2008), Teks Keluaran 20:7 itu ditulis sebagai berikut: “Jangan menyebut nama YAHWEH, Elohimmu, untuk kesia-siaan, karena YAHWEH tidak akan membebaskan orang yang menyebut Nama-Nya dalam kesia-siaan.”

King James Version menulis Keluaran 20:7 sebagai berikut: “Thou shalt not take the name of the LORD thy God in vain; for the LORD will not hold him guiltless that taketh his name in vain.” Sementara itu, The New Jerusalem Bible (NewYork:Doubleday, 1985) menulis Keluaran 20:7: “You shall not misuse the name of Yahweh your God, for Yahweh will not leave unpunished anyone who misuse his name.”

Keliru guna kata ‘Allah’

Yang juga tak kalah pelik dalam masalah nama Tuhan adalah penggunaan istilah ‘Allah’, allah, ilah, Tuhan, dan tuhan dalam Bibel versi LAI. Perhatikan dua naskah teks Bibel (LAI, tahun 2007) berikut ini (perhatikan penggunaan huruf kecil dan kapital):
“Sebab TUHAN, Allahmulah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu atau pun menerima suap.” (Ulangan 10:17).

“Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain daripada Allah yang esa. Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga maupun di bumi – dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Korintus 8:4-6).
Coba bandingkan dua teks Bibel versi LAI tersebut dengan Bibel versi “KITAB SUCI: Indonesian Literal Translation”. Ulangan 10:17 ditulis sebagai berikut:
“Sebab YAHWEH, Elohimmu, Dialah Elohim atas segala ilah dan Tuhan atas segala tuan. Elohim yang besar, yang perkasa dan yang ditakuti, yang tidak memandang muka, juga tidak menerima suap.”
Sedangkan 1 Korintus 8: 4-6 ditulis:
“Kemudian, berkaitan dengan makanan binatang-binatang yang dikurbankan kepada berhala, kita telah mengetahui bahwa berhala bukanlah apa-apa di dunia, dan bahwa tidak ada Elohim yang lain kecuali Yang Esa. Sebab, jika mungkin ada yang dikatakan ilah-ilah, baik di langit maupun di bumi, sebagaimana memang ada banyak ilah dan banyak tuhan, tetapi bagi kita, ada satu Elohim, yaitu Bapa, daripada-Nyalah segala sesuatu, dan kita ada bagi Dia; dan satu Tuhan, yaitu YESUS Kristus, melalui-Nyalah segala sesuatu, dan kita ada melalui Dia.”
Perhatikan, 1 Korintus 8:4-6, LAI menggunakan ungkapan: “dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja,” Sedangkan KITAB SUCI: Indonesian Literal Translation menggunakan ungkapan: “sebagaimana memang ada banyak ilah dan banyak tuhan, tetapi bagi kita, ada satu Elohim…”.

Tokoh Kristen Ortodoks Syria, Bambang Noorsena, dalam bukunya “The History of Allah” (Yogyakarta: PBMR Andi, 2005), menolak pelarangan penggunaan kata Allah bagi kaum Kristen. Akan tetapi, Bambang juga mengkritik penggunaan kata “Allah” yang keliru di beberapa bagian dalam terjemahan Bibel versi LAI. Misalnya, penulisan teks berikut ini:
“Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20: 1-3, teks LAI, 2007).
Tentang hal ini, Bambang Noorsena menulis:

“Agaknya, kalangan umat Kristen di Indonesia kurang menyadari fakta bahwa sebutan Allah bukanlah kata benda umum. Pada umumnya, mereka menyamakan sebutan Allah dengan kata god dalam bahasa Inggris yang bisa dimaknai tunggal (apabila ditulis dengan “G” besar, God) atau makna ilah-ilah lain (bila ditulis dengan “g” kecil, god) atau dijamakkan (gods). Kecenderungan ini telah membuat pemaknaan kata Allah dalam bahasa Indonesia umat Kristen terasa janggal dan asing di telinga sebagain besar pemakai bahasa Indonesia yang mayoritas berlatarbelakang Muslim. Bahkan ada penulis Muslim yang mengeluh penggunaan sebutan Allah di lingkungan Kristen sebagai kata benda umum tersebut dangat menghina dan menyakiti hati mereka.” (hal. 40).
Menurut Bambang Noorsena, penggunaan kata “allah” dengan huruf kecil, sebagai kata benda umum, secara gramatikal, tidak bisa dibenarkan. Sebab, kata “al” yang mendahului kata ‘Allah’ adalah “lam ta’rif”, yang sudah menunjuk kepada satu-satunya Ilah yang sebenarnya. Demikian juga, lanjutnya, menempatkan kata milik ku, mu, mereka, di belakang kata ‘Allah’ juga salah. Seperti kata the wife bila digabung dengan my, maka ‘the’ harus hilang sehingga menjadi my wife. Oleh karena itu, yang benar adalah Ilahku, Ilah kita, Ilah mereka; bukan Allahku, Allah kita, dan Allah mereka. Demikian kritik Bambang Noorsena. (hal. 40-41).

Mengapa rumit?

Pangkal kerumitan penyebutan nama Tuhan dalam Yahudi dan Kristen – dalam perspektif Islam – bermula ketika mereka menolak kenabian Muhammad SAW dan kewahyuan al-Quran. Upaya para teolog Kristen di Indonesia untuk membuktikan keabsahan penggunaan kata Allah dalam Bibel versi Indonesia menampakkan hal itu. Bahkan, ada yang keliru dalam memahami konsep Islam tentang Tuhan dan Allah, karena hanya mengutip perkataan sebagian orang dari kalangan Muslim.

Herlianto, misalnya, dalam bukunya yang berjudul “Gerakan Nama Suci: Nama ALLAH yang Dipermasalahkan” (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), menulis: “Yang menarik adalah pernyataan tokoh Islam Ulil Abshar Abdala yang mengatakan bahwa sekitar 70 % isi Alquran bersumber dari Alkitab.” (hal. 150).

Konsep al-Quran seperti ditulis Pendeta Herlianto itu sangat asing bagi umat Muslim. Sebab, al-Quran adalah “tanzil” yang lafadz dan maknanya diyakini berasal dari Allah. Al-Quran bukan ditulis atau dikarang seseorang yang menjiplak isi Bibel, meskipun ada berbagai kemiripan isi al-Quran dengan Bibel. Tentang tuduhan-tuduhan bahwa al-Quran adalah jiplakan dari Bibel sudah banyak dijernihkan oleh sarjana Muslim. Juga, saintis Barat seperti Dr. Maurice Bucaille dalam buku terkenalnya, Bible, Quran, and Science, sudah menulis tentang masalah ini.

Tentang nama Tuhan, konsep Islam berbeda dengan konsep Yahudi/Kristen yang tidak mementingkan nama Tuhan. Dalam konsepsi Islam, nama Tuhan sangat penting dan bersumber dari wahyu, bukan hasil konstruksi budaya. Bagi umat Muslim, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang Maha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini.

Memang, al-Quran menyebutkan, kata ’Allah’ sudah digunakan sebelum turunnya Al-Quran. Tetapi, itu digunakan dalam makna yang keliru. Allah dianggap hanyalah salah satu Tuhan kaum Musyrik. Kaum Kristen juga menggunakan kata Allah dalam makna Trinitas dan mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan. Karena itulah, al-Quran memerintahkan Nabi Muhammad SAW: ”Katakanlah, wahai Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) marilah kita kembali kepada kalimah yang sama (kalimatun sawa’) antara kami dan kalian, yakni bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain sebagai Tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka menolak, maka katakanlah, ”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim.” (QS 3:64).

Tuhan orang Islam adalah jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. (QS 112). Imam Ibn Katsir dalam Kitab Tafsir-nya menulis bahwa ‘Allah’ adalah ‘al-ismu al-a’dhamu’. Allah juga merupakan nama yang khusus dan tidak ada sesuatu pun yang memiliki nama itu selain Allah Rabbul ‘Alamin. Bahkan, sejumlah ulama seperti Imam Syafii, al-Khithabi, Imam Haramain, Imam Ghazali, dan sebagainya menyatakan, bahwa lafaz Allah adalah isim jamid, dan tidak memiliki akar kata. Menurut para ulama ini, kata Allah bukan ‘musytaq’ (turunan dari kata asal). Salah satu bukti bahwa lafaz Allah tidak ”musytaq” adalah jika ditambahkan ”huruf nida” (huruf panggilan, seperti huruf ”ya nida’” maka tidak berubah menjadi ”Yaa ilah”, tetapi tetap ”Yaa Allah”. Sedangkan jika huruf nida ditambahkan pada kata ”al-Rahman”, misalnya, maka akan berubah menjadi ”Yaa Rahman” (perangkat ta’rif-nya hilang). (Lihat, Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Adhim, (Riyadh: Maktabah Darus Salam, 1994), 1:40)

Konsep dan nama Tuhan bagi umat Muslim sangat sederhana. Muslim yakin, bahwa Tuhan Yang Esa telah memperkenalkan namanya melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi terakhir (Muhammad SAW). Nama ”Allah” – dan nama-nama lain dalam al-Asmaaul Husna -- adalah nama-nama yang dipilih oleh Tuhan Yang Esa agar disampaikan oleh Nabi terakhir kepada seluruh umat manusia. Muslim tidak perlu berspekulasi tentang nama Tuhan. Semua nama tersebut dalam wahyu (al-Quran dan Hadits Nabi SAW). Karena itulah, konsep syahadat Islam menegaskan pengakuan bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Ada kemiripan kisah Musa dalam Kitab Keluaran dengan kisah Musa dalam QS Thaha. Dalam keyakinan Muslim, al-Quran adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagian isinya berisi cerita para Nabi yang mengkoreksi cerita-cerita versi sebelumnya. Dalam versi Yahudi/Kristen, Muhammad SAW dianggap telah menulis al-Quran dengan menjiplak Bibel. Karena itu, tinggal pilih, percaya yang mana?

Dalam Keluaran 3:14 diceritakan: ”Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi Firman-Nya: “Beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Sedangkan dalam al-Quran surat Thaha:14 disebutkan: “Innaniy ana-Allahu Laa-ilaaha illaa Ana, fa’budniy wa-aqimish-shalaata lidzikriy.” (Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan tegakkan shalat untuk mengingat-Ku). ( hidayatullah.com )



READ MORE - Antara Tuhan dan Yahweh

Gerakan Pemurtadan dan Kebohongan Gereja

Gerakan Pemurtadan dan Kebohongan Gereja - Paus Benecditus XVI pernah mengatakan, Natal itu bukan 25 Desember. Tapi anehnya, setiap tahun sebagian umat Islam malah mengucapkan selamat Natal kepada kaum Kristiani. Umat Islam seolah lupa dengan perjuangan Buya Hamka yang melarang umat Islam melalui fatwa MUI tentang larangan mengucapkan selamat Natal.

“Sejak awal, penanggalan Kristen itu sudah salah. Seorang ahli astronomi bernama Denisius ternyata salah hitung soal penanggalan Kristen perihal tahun pertama kelahiran Yesus. Pihak gereja menemukan kejanggalan, dan mengakui ahli astronomi itu salah hitung. Intinya, Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember.”

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos3/paus.jpg&h=235&w=355&zc=1

Demikian dikatakan Kristolog Hj. Irena Handono dalam Kajian Bulanan yang diadakan oleh Badan Kerjasama Seluruh Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) yang diketuai oleh KH. Cholil Ridwan di Gedung DDII, Jakarta, Selasa lalu.

Dikatakan Irena, Gereja punya jejak rekam panjang tentang kelahiran Yesus. Gereja bahkan sempat melakukan secara acak saat perayaan hari kelahiran tersebut. Ada yang merayakan pada bulan November, Desember, Januari, bahkan Februari. Tapi kemudian gereja membuat kesepaktan, 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus.

Perdebatan pun terjadi tentang dimana kelahiran Yesus. Ada yang mengatakan di kandang domba, di dalam goa, bahkan di bawah pohon cemara yang kemudian digunakan sebagai pohon Natal. Yang ada disana adalah pohon kurma, bukan cemara. “Itulah kebohongan gereja. Kita tahu, di Yerusalem tidak satupun tumbuh pohon cemara, apalagi salju.”

Dalam al Kitab (Matius dan Lukas) dikatakan, malam itu bintang gemerlap, gembala menggembalakan ternak di padang rumput. Jadi tidak mungkin ada salju. Banyak kebohongan yang diciptakan, tapi anehnya sebagian umat Islam itu sendiri malah menikmati kebohongan.
Gerakan Pemurtadan

Dalam kajian Kristologi itu, Irena kembali menyegarkan ingatan mengenai upaya pengikisan iman dan akidah yang terjadi Tanah Air. Salah satunya adalah aksi pemurtadan yang dilakukan oleh Yayasan Mahanaim. Bermula, 17 Mei 2008 yang lampau, Mahanaim menyelenggarakan pemurtadan berkedok peringatan Hari Kebangkitan Nasionaldi Monas, Jakarta, dengan tema "Indonesia Bangkit Jadi Berkat", diikuti peserta kurang lebih 2000 orang. Mereka terdiri dari anak-anak dan ibu-ibu yang datang dari penjuru Jabodetabek yang diangkut bis-bis carteran dari Mahanaim.

Sukses di Jakarta, aksi Mahanaim merambah Bekasi dengan tagline "Bekasi Berbagi Bahagia" (B3). Aksi yang mereka lakukan adalah “ada udang dibalik batu”. Mereka tidak peduli apakah misinya sah atau tidak. Yang penting, dari kegiatan pemurtadan berkedok social ini sudah mendapat fotokopi KTP, atau setidaknya nama, alamat, dan tanda tangan peserya yang dihadirkan. Data itu kemudian dijadikan lampiran proposal untuk mencarikan dana dari negeri donor, pendapatannya bisa diatas 10 kali lipat.

“Mereka itu kerja sehari untuk setahun. Bukan hanya itu, daftar hadir peserta dimanipulasi, dipakai untuk lampiran pendirian gereja,” tandas Irena.

Ketika ditanya, soal HKBP yang menjadi persolan di Bekasi, Irena menilai, HKBP telah menjual Indonesia ke Luar Negeri. Itulah sebabnya, cara menghadapi mereka, harus dimbangi dengan perang pemikiran dan budaya. “Fisik kita jangan dihabiskan dilapangan . Kita harus perang media, pemikdan, budata, dan peradaban.”

Mengenai gerakan Save Maryam, Irena tahu betul siapa pentolannya. Dia bernama Saefudin, seorang aktivis liberal pengikut JIL. Irena mengaku pernah berbicara dengannya, dan tahu nama aslinya, sampe nomor handphone-nya.

Suatu ketika Irena Handono pernah berdakwah di Papua Barat. Saat itu ia mendapat undangan untuk mengisi materi di sebuah masjid di Monokwari. Sebelumnya, Irena sengaja memfoto dirinya bersama staf Irena Center lalu dishare ke Facebook. Begitu tahu, Irena berada di Monokwari yang konon disebut Kota Injil, tak sedikit para misionaris yang terkejut dengan kedatangan dirinya.

“Mereka heboh saat saya difoto di depan patung selamat datang dengan spanduk Monokwari Kota Injil. Ketika saya sudah berada di masjid untuk memberi materi, rupanya ada pihak TNI yang memakai baju sipil, termasuk dari AL, polisi yang dating. Dari pihak Kristen juga ada yang memata-matai kehadiran saya di masjid tersebut, susana pun sempat panas,” kisah Irena yang kini mengembangkan dakwah melalui VCD dan DVD. ( voa-islam.com )



READ MORE - Gerakan Pemurtadan dan Kebohongan Gereja

Sudah Takbanyak Lagi Umat Kristen Yang Merayakan Natal

Sudah Takbanyak Lagi Umat Kristen Yang Merayakan Natal - Mayoritas umat Kristen ternyata tak yakin Yesus Kristus dilahirkan pada 25 Desember. Ini terkuak dalam sebuah jajak pendapat yang menguji kesahihan pertanyaan utama, apakah umat Kristen benar-benar yakin dengan hari Natal (kelahiran Yesus)? Sebanyak 83 persen responden yakin bahwa Yesus bukan lahir pada 25 Desember.

Yang mengejutkan lagi, ternyata 96 responden dalam jajak pendapat ini mengaku dirinya beragama Kristen. Sebanyak 82 persen responden mengakui menganut Kristen lebih dari 10 tahun, dan 79 persen menyatakan khatam membaca injil setidaknya sekali. Wanita yang menjadi responden penelitian ini sebanyak 60 persen.


http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/Azka/natal-yesus-dewa.jpg&h=235&w=355&zc=1


Survei ini dilakukan oleh King James Bible Online yang menggugah pengunjung situs ini untuk membaca kitab Injil. Menurut situs web ini, 65 pembacanya adalah warga negara Amerika Serikat, tulis RT Online, Jumat (28/12/2012).

Raja Inggris James I pada 1604 menyetujui dimulainya penerjemahan baru kitab Injil ke dalam bahasa Inggris. Proyek penerjemahan Injil ini rampung pada 1611, sekitar 85 tahun setelah terjemahan pertama Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris. Versi Resmi atau disebut Versi Raja James, menjadi kitab Injil standar bagi umat Protestan di negeri-negeri berbahasa Inggris.

Situs web Christian Today juga melaporkan bahwa mayoritas responden menjawab tak percaya Yesus lahir pada 25 Desember, 71 persen responden menyatakan umat Kristen masih merayakan Hari Raya Natal. Namun, 25 persen lainnya menyatakan mereka “Tidak” lagi merayakan kelahiran Yesus.

Ketika disodori pertanyaan “ Apakah OK membiarkan anak-anak memercayai Sinter Klas” 64 persen menjawab “Pasti tidak, itu bohong,” sementara 28 persen lainnya menjawab “Ya, kan cuma untuk senang-senang.”

Pada awal tahun ini, Paus Benekditus XVI berargumen pada bukunya yang baru diterbitkan, bahwa kalender Masehi berdasar pada perhitungan yang salah dan karena itu kalender ini tidak benar.

Paus memperkirakan Yesus lahir beberapa tahun lebih awal daripada yang umum menancap di benak orang. Kesalahan itu terjadi pada abad ke-6 Masehi ketika pastur yang bernama Dionysius Exiguus alias Si Kecil Dennis, yang “membuat kesalahan ..dalam beberapa tahun ketika menghitung kalender kita,”ungkap Paus.

“Kelahiran Yesus beberapa tahun sebelum tahun pertama Masehi,” ujar Sri Paus. Konsep seperti ini sebetulnya tidak baru. Banyak sejarawan dan peniliti sepakat dengan pernyataan Paus Benekditus XVI, yang percaya Yesus Kristus dilahirkan antara abad 4 dan 6 Sebelum Masehi. ( voa-islam.com )



READ MORE - Sudah Takbanyak Lagi Umat Kristen Yang Merayakan Natal

Solusi Atas Fatwa Prayaan Natal Besama Bagi Umat Islam

Solusi Atas Fatwa Prayaan Natal Besama Bagi Umat Islam -Abdul Moqsith Ghazali, aktivis jaringan liberal berkedok Islam, dalam artikelnya di situs JIL menjadikan ucapan Selamat Natal dan Selamat Idul Fitri sebagai tolok ukur toleransi seorang umat beragama. Sehingga umat Islam dituding tidak toleran karena tidak mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristen. Sebaliknya, orang Kristen diberi label sangat toleran karena mau mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada umat Islam.

Logika ini tidak relevan, miring dan generalisasi yang gegabah. Menyejajarkan Idul Fitri dengan Natal adalah tindakan yang keliru, karena keduanya berbeda dan sama sekali tidak sejajar.

Tidak benar jika umat Kristen disebut sebagai orang yang sangat toleran hanya karena mengucapkan Minal Aidzin Wal Faizin kepada umat Islam yang berhari raya Idul Fitri. Karena pada hari raya umat Islam lainnya, orang Kristen pantang mengucapkan selamat, misalnya pada hari raya Idul Adha (Idul Qurban).
...Natalan memperingati hari kelahiran Yesus pada 25 Desember adalah pelecehan yang besar. Yesus pasti murka bila hari lahir dewa kafir dirayakan sebagai hari kelahiran dirinya...
Orang Kristen tidak pernah mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha kepada umat Islam, karena hari raya ini bertolak belakang dengan doktrin kristiani. Umat Islam merayakan hari raya Qurban, di mana sejarahnya diawali dengan ujian Allah Ta’ala kepada Nabi Ibrahim untuk mengurbankan (menyembelih) putra kesayangannya yaitu Nabi Ismail.

Hal ini ditentang keras oleh pihak Kristen karena mereka menganggap bahwa putra Nabi Ibrahim (Abraham) yang akan dikurbankan bukan Ismail, tapi Ishaq. Bahkan kalangan Kristen radikal tidak mengakui Ismail sebagai putra Nabi Ibrahim.

Dengan teori toleransi Moqsith Ghazali, sebagai makhluk yang toleran, seharusnya umat Kristen mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, Selamat Maulid Nabi dan Selamat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad. Karena mereka tidak mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, seharusnya Moqsith dan para liberalis lainnya berani memvonis umat Kristen sebagai kaum yang tidak menghargai toleransi.

Tapi tanpa malu sedikit pun, para liberalis agama itu ngotot memuji umat Kristen sebagai kaum yang toleran, sembari menuding umat Islam sebagai kaum intoleran. Inilah logika miring orang-orang yang kerasukan JIL.

Jika Moqsith tetap memaksakan egonya agar umat Islam mengucapkan Selamat Natal kepada orang Kristen, maka solusinya ada dua:

Pertama, ucapkan Selamat Natal secara lengkap dengan penjelasannya sesuai dengan aqidah Islam. Misalnya: Selamat Natal atas kelahiran Yesus Kristus, nabi yang menubuatkan kenabian Muhammad SAW, bukan Tuhan, bukan inkarnasi Tuhan, bukan penebus dosa, dan bukan nabi terakhir.

Kedua, ucapkan Selamat Natal tidak pada tanggal 25 Desember, karena tanggal ini bukan hari kelahiran Yesus. Seluruh sejarawan dunia termasuk sejarawan Kristen mengakui bahwa tanggal ini adalah hari penyembahan kepada Dewa Matahari (Mitharisme) yang lazim disebut Sol Invictus (matahari yang tak terkalahkan). Tradisi paganisme (agama kafir) inilah yang diadopsi dalam perayaan Natal.

Bila umat Islam mengucapkan Selamat Natal pada 25 Desember mengikuti agama Kristen, berarti pelecehan terhadap nabi Allah. Nabi Isa AS pasti murka bila hari lahir dewa kafir dirayakan sebagai hari kelahiran dirinya. ( voa-islam.com )



READ MORE - Solusi Atas Fatwa Prayaan Natal Besama Bagi Umat Islam

Fatwa Perayaan Natal Bersama Bagi Umat Islam

Fatwa Perayaan Natal Bersama Bagi Umat Islam  - Pada tanggal 1 Jumadil Ula 1401 H / 7 Maret 1981 M, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa tentang Natal Bersama yang intinya bahwa mengikuti Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya HARAM, dengan hujjah antara lain: Surat Al-Kaafiruun 1 - 6, Surat Al-Baqarah : 42, Hadits Nu'man ibnu Ba'syir tentang Syubhat, dan Kaidah Ushul "Dar'ul Mafaasid Muqaddamun 'alaa Jalbil Mashaalih" (Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil mashlahat).

Ketika itu, Rezim yang berkuasa tidak suka terhadap Fatwa MUI tentang Natal Bersama, karena dianggap anti toleransi dan bertentangan dengan semangat pluralisme. Lalu MUI dipaksa untuk mencabut Fatwanya, tapi almarhum Buya Hamka selaku Pimpinan MUI kala itu lebih suka meletakkan jabatannya daripada menarik kembali Fatwa tersebut, demi untuk menjaga aqidah umat Islam.

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos3/natal.jpg&h=235&w=355&zc=1

Belakangan, tampil sejumlah "Tokoh Islam" yang menggulirkan "Fatwa" bahwa Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya BOLEH, dengan menyampaikan sejumlah argumentasi yang tidak lepas dari MANIPULASI HUJJAH dan KORUPSI DALIL. Fatwa Kontroversial mereka tersebut sangat digandrungi oleh KAUM SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), bahkan dijadikan Rujukan Utama hingga kini. Fatwa Aneh tersebut telah menebar SYUBHAT yang melahirkan FITNAH di tengah umat Islam.

Syubhat Natal adalah pemutar-balikkan ayat mau pun hadits untuk menyamarkan hukum Natal yang sebenarnya sudah jelas keharamannya, sehingga Natal Haram diupayakan menjadi Natal Halal, sekurangnya menjadi Natal Syubhat. Berikut beberapa Syubhat Natal dan jawabannya :

1. SYUBHAT PERTAMA :

Dalam Al-Qur'an cukup banyak ayat yang bercerita tentang Nabi 'Isa as sekaligus menjadi hujjah bahwa umat Islam wajib mencintai, menghormati dan mengimani beliau sebagai salah seorang Rasul. Bahkan dalam Surat Maryam : 33, Allah swt menceritakan ucapan Nabi 'Isa as yang berbunyi : "Wassalaamu 'alayya yauma wulidtu wa yauma amuutu wa yauma ub'atsu hayyan" (Keselamatan atasku di hari aku dilahirkan dan hari aku mati serta hari aku dibangkitkan dalam keadaan hidup). Dengan dasar itu semua, maka merayakan dan saling mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi 'Isa as menjadi sejalan dengan semangat Al-Qur'an, sekaligus menjadi bukti cinta, hormat dan iman kita kepada Nabi 'Isa as.

JAWABAN :
Iman kepada Para Rasul merupakan salah satu Rukun Iman. Dan Nabi 'Isa as merupakan salah satu Rasul yang wajib diimani. Mengekspresikan cinta dan hormat serta iman kepada Nabi 'Isa as yang paling utama adalah dalam bentuk memposisikan beliau sebagai Hamba Allah SWT dan Rasul-Nya, serta menolak segala bentuk PENUHANAN terhadap dirinya. Jadi, pengekspresian tersebut tidak mesti dengan memperingati Hari Lahirnya.

Andaikata pun kita ingin merayakan Hari Lahir Nabi 'Isa as dengan dasar ayat 33 Surat Maryam, maka kita akan kesulitan menentukan tanggalnya, karena tidak ada satu pun ayat Al-Qur'an atau Hadits Nabi saw atau Atsar dari Shahabat, Tabi'in mau pun Tabi'it Tabi'in, yang menginformasikan tentang tanggal kelahiran Nabi 'Isa as.
2. SYUBHAT KEDUA :

Dalam Hadits Muttafaqun 'Alaihi yang bersumber dari Sayyiduna 'Abdullah ibnu Sayyidina 'Abbas ra diceritakan bahwa Rasulullah saw pernah menerima informasi dari Yahudi tentang Kemenangan Nabi Musa as di Hari 'Asyura (10 Muharram), lalu Nabi saw dan para Shahabatnya merayakan Kemenangan Musa as di hari itu dengan berpuasa. Jika Nabi saw menerima INFO YAHUDI tentang tanggal bersejarah 10 Muharram sebagai Hari Kemenangan Nabi Musa as lalu merayakannya, maka tidak mengapa kita menerima INFO NASHRANI tentang tanggal bersejarah 25 Desember sebagai Hari Kelahiran Nabi 'Isa as dan merayakannya pula.

JAWABAN :
Dalam Hadits Muttafaqun 'Alaihi yang lain bersumber dari Sayyidatuna 'Aisyah ra menerangkan bahwa Puasa 'Asyura sudah dilakukan masyarakat Quraisy sejak zaman Jahiliyyah, dan di zaman permulaan Islam menjadi Puasa Wajib hingga diwajibkan Puasa Ramadhan di tahun kedua Hijriyyah.

Jadi, Puasa Nabi saw di Hari 'Asyura bukan meniru-niru perbuatan Yahudi. Apalagi dalam sebuah Hadits Shahih disebutkan tentang niat dan anjuran Nabi saw buat umatnya agar juga Puasa Tasu'a (9 Muharram) untuk membedakan Puasa Umat Islam dengan Puasa Yahudi di hari 'Asyura.. Dengan demikian menjadi jelas bahwa tuntunan Nabi saw adalah tidak meniru-niru perbuatan kaum kafirin, apalagi dalam sebuah Hadits lainnya beliau saw menegaskan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian darinya.

Memang, sikap Nabi saw yang diartikan sebagai bentuk perayaan terhadap Hari Kemenangan Nabi Musa as bisa dijadikan dalil pembenaran syar'i bagi perayaan Hari Bersejarah seorang Nabi atau Rasul, termasuk Hari Lahir Nabi 'Isa as. Namun itu tidak boleh dijadikan dalil pembenaran syar'i bagi tanggal 25 Desember sebagai Hari Kelahiran Nabi 'Isa as. Apalagi dijadikan dalil buat meniru-niru Nashrani dalam merayakan Natal.

Penerimaan Nabi saw terhadap INFO YAHUDI tentang tanggal 10 Muharram sebagai Hari Kemenangan Nabi Musa as menjadi PEMBENARAN SYAR'I bagi info tersebut, karena Sunnah Nabi saw adalah sumber hukum Islam yang autentik setelah Al-Qur'an. Artinya, info itu menjadi benar bukan karena datangnya dari Yahudi, tapi karena DIBENARKAN oleh Nabi saw. Sedang INFO NASHRANI tentang tanggal 25 Desember sebagai Hari Lahir Nabi 'Isa as tidak memiliki PEMBENARAN SYAR'I sama sekali, sehingga tidak bisa dibenarkan.
3. SYUBHAT KETIGA :

Ada Hadits Rasulullah saw yang membolehkan umat Islam menyampaikan berita yang berasal dari Ahlul Kitab. Karenanya, jika Nashrani di seantero dunia sudah sepakat merayakan Hari Lahir Nabi 'Isa pada tanggal 25 Desember, maka itu bisa menjadi bagian berita Ahlul Kitab yang boleh kita terima.

JAWABAN :
Memang, ada Hadits tentang kebolehan menyampaikan berita Ahlul Kitab, tapi ada Hadits juga yang mengarahkan umat Islam agar tidak mempercayai (membenarkan) dan tidak pula mendustakan (menyalahkan) berita Ahlul Kitab. Maksud berita Ahlul Kitab adalah segala info yang datang dari Kitab-kitab suci atau Doktrin Asli ajaran agama Yahudi dan Nashrani. Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengklasifikasikan berita Ahlul Kitab menjadi tiga katagori, yaitu :
  • Info yang dibenarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah maka wajib diterima,
  • Info yang ditentang Al-Qur'an dan As-Sunnah maka wajib ditolak.
  • Info yang tidak dibenarkan dan tidak pula ditentang Al-Qur-an dan As-Sunnah maka wajib tawaqquf, yaitu tidak menerima dan tidak juga menolak.
Lalu, berita Hari Lahir Nabi 'Isa as pada tanggal 25 Desember masuk katagori berita Ahlul Kitab yang mana ? Atau bahkan tidak termasuk katagori yang mana pun ?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, harus dilihat terlebih dahulu tentang Hari Lahir Nabi 'Isa as dalam Bibel. Berikut DATA BIBEL tentang Kelahiran Nabi 'Isa as :
A. Lukas 2 : 4 – 7

Ayat-ayat ini menginformasikan bahwa Sayyidatuna Maryam as saat hamil tua bermusafir ke Yerusalem, setibanya disana ia tidak mendapatkan penginapan karena semuanya sudah penuh terisi, sehingga ia melahirkan di palungan (tempat jerami). Lalu dalam Lukas 2 : 41 ada keterangan bahwa setiap tahun Orang tua Nabi 'Isa as datang mengunjungi Yerusalem di Hari Raya Paskah yaitu Hari Raya Bani Israil yang jatuh pada awal musim gugur. Itulah sebabnya, walau hamil tua Sayyidatuna Maryam as tetap musafir karena pentingnya Hari Raya tersebut, dan itu pula sebabnya semua penginapan penuh karena di Hari Raya tersebut semua Bani Israil mendatangi Yerusalem. Artinya, menurut DATA BIBEL bahwa Nabi 'Isa as lahir di awal musim gugur, dan itu tentu bukan bulan Desember melainkan awal Sepetember.

B. Lukas 2 : 8 – 11

Ayat-ayat ini menginformasikan bahwa di malam kelahiran Nabi 'Isa as, di sekitar Yerusalem para gembala sedang menjaga kawanan ternaknya di padang terbuka. Dan dalam Ezra 10 : 9 - 13 serta Kidung Agung (Nyanyian Solomon) 2 : 9 - 11, ada keterangan bahwa di musim hujan / dingin semua ternak disimpan dalam kandang dan semua manusia berada di rumah, tidak keluar tanpa keperluan yang mendesak, karena mereka tidak sanggup menahan dingin di luar rumah. Dengan demikian, DATA BIBEL ini pun menunjukkan bahwa saat Nabi 'Isa as dilahirkan bukan musim hujan / dingin, karena manusia dan ternak masih sanggup di padang terbuka pada malam hari. Artinya, Nabi 'Isa as tidak dilahirkan bulan Desember, karena Desember di Yerusalem musim hujan dan hawa sangat dingin, sehingga tidak mungkin ada rombongan gembala pada malam hari menjaga kawanan ternak di padang terbuka.

C. I Tawarikh (Chronicle) 24 : 10 dan Lukas 1 : 5 – 38

Ayat-ayat ini menginformasikan bahwa Nabi Zakaria as dan rombongannya dalam kelompok Abia mendapat tugas menjaga Rumah Tuhan pada giliran ke delapan, dan itu menurut Kalender Hebrew jatuh pada tanggal 27 Iyar - 5 Sivan, atau bertepatan dengan tanggal 1 - 8 Juni (Awal Juni). Lalu ketika tugas itulah Nabi Zakaria as mendapat wahyu tentang kehamilan istrinya yang kelak akan melahirkan Nabi Yahya as. Artinya, 9 bulan setelah tugas itu menurut masa kehamilan normal maka Nabi Yahya as dilahirkan, yaitu awal Maret. Kemudian diinformasikan bahwa usia Nabi 'Isa as 6 bulan lebih muda daripada Nabi Yahya as. Artinya, jika Nabi Yahya as dilahirkan awal Maret maka Nabi 'Isa as dilahirkan 6 bulan sesudahnya, yaitu Awal September.

Dengan demikian DATA BIBEL di atas juga menginformasikan bahwa Nabi 'Isa as tidak dilahirkan bulan Desember.

Seorang Pastur dari Gereja Wolrdwide Church of God di Amerika Serikat, Herbert W. Armstrong (1892-1986), dalam bukunya yang berjudul The Plain Truth About Christmas menyatakan bahwa Nabi 'Isa as tidak dilahirkan bulan Desember, dan Perayaan Hari Raya Natal bukan ajaran asli gereja, melainkan bersumber dari ajaran paganisme (penyembah berhala) yang sejak lama, jauh sebelum kelahiran Nabi 'Isa as, telah merayakan Hari Kelahiran Dewa Mithra sebagai Dewa Matahari mereka pada tanggal 25 Desember.

Pendapat Pastur Herbert tersebut sejalan dengan keterangan dalam Encyclopedia Britannica dan Encyclopedia Americana. Kedua Literatur tersebut mendefinisikan Natal sama seperti pernyataan Pastur Herbert di atas.

Pada tahun 1993, seorang Astronom Inggris, David Hughes dari Universitas Sheffield, dalam sebuah wawancara dengan Britain's Press Association (BPA), yang dikutip oleh Kantor Berita Reuter, menyatakan bahwa Nabi 'Isa as diduga kuat lahir pada tanggal 15 September 7 tahun sebelum Masehi, karena pada tanggal tersebut terjadi siklus pertemuan 840 tahunan sekali antara planet Yupiter dan Saturnus, yang dari permukaan Bumi terlihat bagai Bintang Terang yang langka. Menurutnya, itulah Bintang Terang yang terlihat di malam kelahiran Nabi 'Isa as sebagaimana diinfokan Bibel dalam Matius 2 : 1 -12.

Selain itu, tercatat dalam beberapa literatur sejarah Nashrani, bahwa tiga abad pertama Masehi tidak ada umat Nashrani yang merayakan Hari Lahir Nabi 'Isa as. Dan awal abad keempat Masehi, perayaan tersebut mulai muncul di tengah umat Nashrani, tapi pada tanggal yang berbeda-beda, seperti 6 Januari, 28 Maret, 18 April dan 28 Juni. Baru pada tahun 354 M, Paus Liberius di Roma memutuskan tanggal 25 Desember sebagai Hari Lahir Nabi 'Isa as. Keputusan itu diikuti oleh Gereja Roma di Konstantinopel pada tahun 375 M dan di Antakia pada tahun 387 M. Selanjutnya menyebar ke seluruh dunia hingga saat ini.

Kesimpulannya, Data Bibel dan Data Astronomi serta Literatur Kristiani lainnya menolak kemungkinan Kelahiran Nabi 'Isa as pada bulan Desember, sehingga INFO NASHRANI tentang kelahiran Nabi 'Isa as pada tanggal 25 Desember adalah info yang tidak termasuk dalam katagori berita Ahlul Kitab, karena Bibel sendiri menolak. Info tersebut adalah INFO FIKTIF yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara Syar'I mau pun secara ilmiah akademis.
4. SYUBHAT KEEMPAT :

Pada prinsipnya, umat Islam boleh KAPAN SAJA merayakan Hari Kelahiran seorang Nabi atau Rasul, termasuk Hari Lahir Nabi 'Isa as, untuk memuliakan mereka para Utusan Allah SWT. Maka, tidak ada masalah memperingati Hari Lahir Nabi 'Isa as pada tanggal 25 Desember atau tanggal lainnya, walau pun tanggal Lahir Nabi 'Isa as masih diperdebatkan kalangan Kristiani sendiri.

Hanya saja, peringatan Hari Lahir Nabi 'Isa as pada tanggal 25 Desember lebih tepat untuk membangun toleransi antar umat beragama dalam rangka menyuburkan keharmonisan hubungan Islam - Nashrani.

JAWABAN :
Justru, merayakan Hari Lahir Nabi 'Isa as bersamaan dengan umat Nashrani pada tanggal 25 Desember menjadi MAZHONNATUL FITAN (sumber fitnah) yang sangat berbahaya, antara lain :
  • Justifikasi kebohongan umat Nashrani dalam penetapan tanggal Hari Lahir Nabi 'Isa as.
  • Justifikasi kesesatan keyakinan umat Nashrani yang merayakan Natal sebagai Hari Lahir Nabi 'Isa as sebagai ANAK TUHAN.
  • Membuat BID'AH DHOLALAH karena merayakan Hari Lahir Nabi 'Isa as dengan dasar INFO FIKTIF NASHRANI.
  • Pencampur-adukkan aqidah haq dengan bathil.
  • Menjerumuskan kalangan awam dari umat Islam yang kebanyakan lemah iman.
  • Pelecehan terhadap kemuliaan Nabi 'Isa as, karena Hari Lahirnya dirayakan dengan Data Dusta, ditambah lagi dibarengi dengan umat Nashrani yang merayakannya sebagai Hari Lahir Anak Tuhan.
Dengan demikian, merayakan Hari Lahir Nabi 'Isa as pada tanggal 25 Desember bukan bentuk toleransi antar umat beragama, tapi bentuk pencampu-adukkan aqidah yang sangat dilarang dalam Islam. Dan itu tidak akan menyuburkan keharmonisan hubungan antar Islam - Nashrani, tapi akan menyuburkan PENDANGKALAN AQIDAH yang bisa mengantarkan kepada pemurtadan.

Sikap umat Islam yang tidak mengganggu umat Nashrani dalam merayakan Natal, dan ikut menjaga kondusivitas suasana dalam masa Natal dan Tahun Baru, serta memberi kesempatan kepada mereka merayakannya secara semarak di berbagai tempat, mulai dari Gereja, Pabrik, Kantor hingga Istora Senayan, sebenarnya sudah LEBIH DARI CUKUP sebagai bentuk toleransi mayoritas Muslim kepada minoritas Nashrani di negeri Indonesia tercinta ini.
5. SYUBHAT KELIMA :

Andai pun umat Islam tidak merayakan Hari Lahir Nabi 'Isa as bersama umat Kristiani pada tanggal 25 Desember, karena khawatir terganggunya aqidah. tapi setidaknya tidak mengapa sekedar mengucapkan SELAMAT NATAL kepada mereka untuk penghormatan dan maslahat pergaulan. Apalagi bagi Tokoh Islam yang jelas sudah mantap aqidahnya dan diperlukan pemantapan hubungan pergaulan Lintas Agamanya, sehingga kekhawatiran semacam itu tidak perlu ada sekaligus tidak lagi menghalangi Tokoh Islam dalam meningkatkan Dakwah Lintas Agama.

JAWABAN :
Natal secara Estimologi adalah Hari Lahir. Dan secara Terminologi adalah Hari Lahir Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan, sebagaimana ditulis oleh berbagai Ensiklopedi. Dan sebutan HARI NATAL hanya digunakan dalam makna Terminologi. Artinya, jika seseorang mengucapkan SELAMAT NATAL maka sesuai makna Terminologinya berarti mengucapkan "Selamat Hari Lahir Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan". Dan itu jelas haram bagi umat Islam.

Jika seorang Muslim terlanjur mendapat ucapan Selamat Natal dari siapa pun, maka mesti dijawab dengan Surat AL-IKHLASH yang berintikan Keesaan Allah SWT yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Syariat Islam buat semua lapisan umatnya, Ulama dan Awam, Pejabat dan Rakyat, Kaya dan Miskin. Karenanya, apa pun yang menjadi MAZHONNATUL FITAN diharamkan, baik bagi yang imannya kuat, apalagi yang imannya lemah. Lebih-Iebih jika Mazhonnatul Fitannya menyangkut aqidah sebagaimana telah diuraikan tadi.

Bukankah memandang wanita yang tidak halal, apalagi berjabat-tangan dengannya, diharamkan bagi laki-laki, termasuk Rasulullah saw sekali pun, karena hal itu merupakan Mazhonnatul Fitan yang bisa menggerakkan syahwat dan mengundang fitnah. Padahal kita sama tahu dan yakin bahwa IMAN dan TAQWA Rasulullah saw adalah yang terkuat dan terbaik, sehingga syahwat beliau saw tidak akan terpancing hanya dengann memandang atau berjabat-tangan dengan wanita mana pun yang tidak halal baginya, namun sungguh pun demikian beliau saw tidak mau melakukannya karena Mazhonnatul Fitan yang wajib dihindarkan.
Karenanya, tidak ada alasan bagi Tokoh Islam untuk menghalalkan Natal dengan dalih asal aqidah kuat. Bahkan ketokohan mereka semestinya membuat mereka lebih hati-hati dalam bersikap, karena mereka adalah teladan yang akan diikuti umat yang kebanyakan beraqidahkan lemah. Sikap Tokoh Islam yang mengikuti Natal jelas bisa menjerumuskan umat. ( voa-islam.com )



READ MORE - Fatwa Perayaan Natal Bersama Bagi Umat Islam