Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan

Menurut Paus Benediktus XVI, Natal Salah Tanggal

Menurut Paus Benediktus XVI, Natal Salah Tanggal - Menurut pimpinan tertinggi umat Kristen Katolik sedunia Paus Benediktus XVI, seluruh penanggalan Kristen berdasarkan pada perhitungan yang salah. Dan tanggal kelahiran Yesus yang dipercayai selama ini juga keliru, katanya dalam buku yang baru diterbitkannya.

“Kesalahan” itu dilakukan oleh seorang rahib abad ke-6 Masehi bernama Dionysius Exiguus atau juga dikenal sebagai 'Dennis the Small', kata Paus Benediktus XVI dalam buku “Yesus of Nazareth: The Infancy Narratives” yang dirilis hari Rabu (21/11/2012).

http://muslimdaily.net/file/Paus%20Benediktus%20XVI.jpg

“Perhitungan awal dari kalender kita –berdasarkan pada kelahiran Yesus– dibuat oleh Dionysius Exiguus, yang membuat kesalahan dalam perhitungannya sebanyak beberapa tahun,” tulis Paus, yang mencetak perdana bukunya sebanyak 1 juta eksemplar untuk dijual ke seluruh dunia.

“Tanggal lahir Yesus yang sebenarnya lebih awal beberapa tahun,” tulisnya di buku itu, sebagaimana dikutip The Telegraph.

Pernyataan bahwa kalender Kristen didasarkan pada premis yang salah, bukanlah hal baru. Banyak sejarawan yang sudah menyatakan Yesus diyakini lahir antara tahun 7SM dan tahun 2SM (Sebelum Masehi).

Namun, fakta bahwa pernyataan kekeliruan penanggalan Kristen yang dipakai sekarang ini dikemukakan oleh seorang tokoh Kristen paling terkemuka sedunia, pemimpin 1 juta umat Katolik, adalah suatu hal yang sangat menyolok mata, kata The Telegraph.

Dennis the Small yang dilahirkan di Eropa Timur, dianggap sebagai “penemu” kalender moderen dan konsep era Anno Domini yang dipakai dunia sekarang ini.

Dia membuat sistem kalender yang berbeda dengan yang dipakai pada saat itu, yang berdasarkan pada tahun naik tahtanya Kaisar Romawi Diocletian.

Oleh karena Diocletian pernah membantai orang-orang Kristen, maka hal itu dijadikan alasan oleh rahib itu untuk membuang sistem penanggalan Romawi tersebut dan menerapkan sistem penanggalan baru yang dibuatnya berdasarkan tanggal kelahiran Yesus.

Sistem penanggalan yang dibuat Exiguus tersebut lantas diterima di Eropa setelah dipakai oleh Venerable Bede, rahib sekaligus sejarawan, untuk menandai tanggal peristiwa penting dalam karyanya “Ecclesiatical History of English People” yang selesai digarap tahun 731M.

Namun, bagaimana sebenarnya cara Exiguus alias Dennis membuat perhitungan kalender berdasarkan kelahiran Yesus, hal itu juga tidak jelas. Paus Benediktus XVI mengaku, setelah berkonsultasi dengan banyak cendikiawan dia berkeyakinan bahwa Exiguus membuat kesalahan.

Bibel tidak menyebutkan dengan jelas tanggal kelahiran Yesus. Exiguus kelihatannya mendasarkan perhitungannya pada referensi tidak pasti tentang usia saat Yesus memulai misinya dan fakta bahwa dia dibaptis pada masa kekaisaran Tiberius.

Tradisi Natal dari Pagan

Dalam bukunya, Paus Benediktus XVI mempertanyakan materi-materi yang muncul dalam tradisi perayaan Natal, seperti rusa, keledai dan binatang-binatang lainnya dalam kisah kelahiran Yesus, yang menurutnya sebenarnya tidak ada.

Paus Benediktus XVI juga mengangkat perdebatan mengenai tempat kelahiran Yesus, yang menurut sebagian orang di Nazareth dan sebagian lain di Betlehem (Bait Lahim), yang keduanya terletak di Palestina.

Penyataan tentang kekeliruan penanggalan Kristen diperkuat oleh John Barton. Menurut profesor pakar tafsir naskah-naskah suci Kristen di Oriel College, Universitas Oxford, itu kebanyakan akademisi sepakat dengan Paus bahwa kalender Kristen salah, dan bahwa Yesus dilahirkan beberapa tahun lebih awal dibanding yang disangka orang selama ini. Kemungkinan, kata Barton, Yesus dilahirkan antara tahun 6SM dan 4SM.

“Di Bibel tidak ada referensi yang menyebukan kapan dia dilahirkan – semua yang kita tahu hanyalah dia dilahirkan pada masa Herod yang Agung, yang wafat sebelum 1M,” katanya Barton kepada Daily Telegraph. “Sudah sejak lama diduga bahwa Yesus dilahirkan sebelum 1M. Tidak seorang pun yang tahu kepastiannya.”

Pemikiran bahwa Yesus dilahirkan pada 25 Desember juga tidak memiliki basis fakta sejarah. “Kami bahkan tidak tahu pada musim apa dia (Yesus) dilahirkan. Semua pemikiran tentang perayaan kelahirannya selama masa paling gelap dari sepanjang tahun, kemungkinan berkaitan dengan tradisi pagan dan titik balik matahari di musim dingin.” jelas Barton. ( muslimdaily.net )




READ MORE - Menurut Paus Benediktus XVI, Natal Salah Tanggal

Kelahiran Yesus Menurut Bibel

Kelahiran Yesus Menurut Bibel - Natal yang dirayakan tanggal 25 Desember adalah upacara yang dilakukan umat kristiani untuk memperingati hari kelahiran Yesus- yang mereka anggap sebagai Tuhan (Yesus).
 
Meskipun dalam kenyataannya perayaan tersebut dilakukan dengan sangat meriah- karena selain didengung-dengungkan oleh pemeluk Kristen sendiri, kalangan eksternal kristen juga turut “menyambutnya” – namun secara nilai mengandung pertanyaan besar. Sebab, penetapan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember, sama sekali tidak didukung oleh data otentik. Bibel sendiri sebagai kitab suci pemeluk agama Kristen sama sekali tidak bisa membuktikannya. Sejarah hanya mencatat bahwa perayaan Natal baru disahkan pada abad ke-4 Masehi.

http://maxgrace.files.wordpress.com/2008/12/jesus071207_468x3091.jpg

Sebetulnya, peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

Kelahiran Yesus Menurut Bibel

Untuk menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1,10,11 (Markus dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus).

Lukas 2:1-8:
”Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.

Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.

Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galelilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud- supaya didaftarkan bersama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.

Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lapin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka dirumah penginapan.

Didaerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjanga kawanan ternak mereka pada waktu malam.”
Jadi, menuru Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu yang sedang melaksanakan sensus penduduk (7M=579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam ibu Yesus berasaldari Betlehem, maka mereka bertiga ke sana, dan lahirlah Yesus di Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampan dan membaringkannya dalam palungan (tempat makan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

Menurut Matius 2:1, 10, 11
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masukalah mereka kedalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibunya.
Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintah tahun 37 SM- 4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.

Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengn bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil.

Bagi yang memiliki wawasan luas, hati terbuka dan lapang dalam mencari kebenaran, kitab suci Al-Quran telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Isa alaihssalam).
”Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ”Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah. ”Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (Surat Maryam\19: 23-25)
Jadi menurut Al Quran Yesus dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible – seperti dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23): Yesus lahir dalam bulan Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan Agustus-September.

Sementara itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity – seperti juga dikutip oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut:
”Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Betlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 300 Masehi”
Pada Tahun Berapa Yesus Lahir?

Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun 1, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2:1 (telah dikutip sebelumnya) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus jadi antara tahun 27 Sebelum Maseh-14 Sesudah Masehi. Sedangkan Matius: 2:1 (Juga telah dikutip) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi-4 Sesudah Masehi.

Ternyata antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil, Lukas maupun Matius, tidaklah menunjukkan suatu kepastian, sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka ada yang menyatakan Yesus lahir tahun 8 Sebelum Masehi, tahun 6 Sebelum Masehi, tahun 4 sesudah Masehi. Antara lain di kutip dari buku tulisan Rev. Dr. Charles Francis Petter, MA. . B.D., S.T.M. yang berjudul, The Lost Years of Jesus Revealed hal 119 sebagai berikut:
Pada abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diakui bahwa Herodes telah mati 4 tahun sebelum masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius (2:16) raja Herodes memerintahkan pembunuhan kanak-kanak umur/dibawah umur dua tahun untuk membinasakan Yesus harus digeser kebelakang, paling sedikit 4 tahun sebelum masehi. Masa kini para sarjana lebih condong menggeserkan tanggal lahirnya Yesus itu 5 sampai 6 tahun kebelakang tahun Masehi. Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya, dan kematiannya terpaksa ditimbulkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran) malah soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanan juga harus dibangkitkan kembali.
Jadi sampai hari ini pun tidak ada kejelasan tahun berapa Yesus dilahirkan.

Asal Usul Perayaan Natal 25 Desember

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Katolik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/ penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan=Yesus).

Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan, Pertama, hari minggu (Sunday=hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Kontantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katolik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama panganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.

Demikian kepercayaan panganis politheisme mendapat ajaran tentang Dewa Matahari yang diperingati tanggal 25 Desember.

Mari kita telususri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan panganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).

H.W. Amstrong dalam bukunya The Plain Truth About Christmas, Worlwide Chrch of God, California USA, 1994, menjelaskan:

Namrud cucu Ham, anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Nama Nimrod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad” yang artinya: “Dia membangkang atau Murtad antara lain dengan keberaniaannya mengawinkan ibu kandungnya sendiri bernama “Semiramis”.

Namun usia Namrud tidak sepannjang ibu sekaligus istrinya. Maka setelah Namrud mati, Semiramis menyebarkan ajaran: bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Maka dibuatlah olehnya perumpamaan pohon “Evergreen” yang tumbuh dari sebatang kayu mati.

Maka untuk memperingati kelahirannya dinyatakan bahwa Namrud selalu hadir di pohon Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. Sedangkan kelahiran Namrud dinyatakan tanggal 25 Desember. Inilah asal usul pohon Natal.

Lebih lanjut Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat Babilonia, kemudian Namrud dipuja sebagai “anak suci dari surga”.

Putaran jaman menyatakan bahwa penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah menjadi “Mesiah palsu”, berupa dewa “Ba-al” anak dewa matahari dengan objek penyembahan ‘Ibu dan Anak (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di mesir berupa “Isis dan Osiris”, di Asia bernama “Cybele dan Deoius”. Di Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di Yunani, “Kwan Im” di Cina, Jepang dan Tibet, India, Persia, Afrika, Eropa dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa “Madonna” dan lain-lain.

Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa):
  1. Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga dinyatakan dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekalugus penganut kepercayaan ini.
  2. Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.
  3. Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.
  4. Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa pendududk asli tanah Kana’an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.
  5. Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir Kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besaran dan dijadikan sebagai pesta rakyat.
Demikian juga Serapsis, Attis, Issis, Horus, Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zorates (bangsa Persia) dan Fo Hi (bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Soluius, Aristonicus, Tibarius, Grocecus, Yupiter, Minersa, Easter.

Jadi konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember disalib/dibunuh kemudian dibangkitan, sudah ada sejak zaman purba.

Konsep/dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi karana merekalah telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah KEBOHONGAN yang sengaja dibuatnya. Kata Paulus kepada Jemaat Roma:
Tetapi jika kebesaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaannya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai seorang berdosa? (Roma 3:7)
Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu, Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:
Jawab Yesus kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. (Matius 24:4-5).
Pandangan Bibel Tentang Upacara Natal.

Untuk mengetahui pandangan Bibel tentang perayaan Natal yang diwarisi oleh tradisi paganisme, baiklah kita telaah Yeremia 10:2-4:
”Beginilah firman Tuhan: ”Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang diseganii bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukanlah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang”.
Demikianlah pandangan Bibel tentang upacara Natal yaitu melarang orang Kristen mengikuti kebiasaaan bangsa-bangsa penyembah berhala.

Selanjutnya mari kita simak penjelasan Yeremia 10:5
”Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun. Tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun dia tidak dapt.”
Sumber-sumber Kristen yang Menolak Natal

1. Catolic Encyclopedia, ediai 1911 tentang Christmas:
” Natal bukanlah upacara gereja yang pertama... melainkan ia diyakini berasal dari Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari., kemudian dijadikan kelahiran Yesus.


Dalam buku yang sama, tentang ” Natal Day” dinyatakan sebagai berikut:

”Di dalam kitab suci tidak ada seorang pun yang mengadakan upacara atau penyelenggaraan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”
2. Encyclopedia Britanica, edisi 1946 menyatakan:
”Natal bukanlah upacara gereja abad pertama, Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakan dan Bibel juga tidak pernah menyelenggarakannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”

3. Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944 menyatakan:
”Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya umat kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran tersebut.......”.
(Perjamuan Suci, yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus)..... Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke-4 M. Pada abad ke-5 M. Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari ”Kelahiran Dewa Matahari”. Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus.” ( artikeljogja.tripod.com )



READ MORE - Kelahiran Yesus Menurut Bibel

Tradisi Natal dan Asal Usul Pernak - Perniknya

Tradisi Natal dan Asal Usul Pernak - Perniknya - Natal merupakan salah satu pesta keagamaan dalam tradisi Kristiani yang sangat penting. Meski tergolong sebagai perayaan kelas dua, Natal lebih mendunia ketimbang perayaan Paskah yang menjadi perayaan paling penting dalam hampir semua tradisi gereja.

Dirayakan pada tanggal 25 Desember oleh hampir semua umat Kristiani untuk merayakan kelahiran Yesus, sesungguhnya hingga kini tidak ada yang bisa memastikan kapan Tukang Kayu dari Nazareth, Palestina itu sebenarnya lahir.

http://img.beritasatu.com/images/medium/24122011202429.jpg

Ada pun perayaan Natal jatuh pada tanggal 25 tidak lepas dari pesta agama kuno Eropa, Pagan, yang diadaptasi oleh Gereja Katolik Roma.

Semua bermula dari tradisi orang Eropa di masa lalu yang kerap merayakan pesta pada pertengahan musim dingin, di pekan terakhir Desember. Pada pekan itu memang Matahari bersinar lebih lama dari biasanya dan hari pun menjadi lebih panjang.

Di Skandinavia misalnya, suku-suku setempat merayakan Yule, untuk merayakan kembalinya Matahari. Perayaan itu dimulai dari 21 Desember hingga Januari. Di Jerman, pada pekan terakhir Desember, orang menghormati Dewa Oden.

Di Roma pada akhir Desember orang-orang merayakan Saturnalia untuk menghormati Dewa Saturn, dewa pertanian. Pada tanggal 25 Desember sendiri, mereka merayakan hari lahir Mithra, putra Matahari. Bagi sebagian orang Roma pada masa itu, ulang tahun Mithra adalah hari yang paling suci.

Ketika semua tradisi kuno itu berkembang di saat yang bersamaan Gereja juga mulai berkembang di Eropa, khususnya Roma. Hanya pada masa itu umat Kristiani hanya merayakan Paskah sebagai hari raya keagamaan. Apa lagi, di dalam Alkitab sama sekali tidak disebutkan kapan tepatnya Yesus dilahirkan.

Adalah Paus Julius I, yang duduk di Tahta Kepausan sejak 337 yang pertama kali memutuskan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Paus yang merupakan warga asli Roma itu memutuskan untuk mengadopsi tradisi Pagan itu ke dalam Gereja Katholik.

Dengan merayakan Natal bersamaan dengan festival Pagan itu, para pimpinan gereja di masa itu percaya iman Kristiani akan lebih mudah diterima oleh masyarakat Eropa. Meskipun demikian pada saat itu umat Kristiani awal belum memutuskan bagaimana Natal seharusnya dirayakan.

Memasuki Abad Pertengahan, Natal mulai menemukan bentuknya. Saat itu umat Kristiani mulai merayakan Natal di Gereja. Uniknya pada saat itu Natal menjadi kesempatan untuk memberi kepada mereka yang berkekurangan seperti para pengemis dan pelajar yang tidak mampu.

Saat Natal orang-orang miskin dimahkotai dan mereka akan mendatangi setiap rumah di mana mereka akan diberikan makanan serta minuman terbaik dari rumah itu.

Sejak saat itu Natal kemudian terus berkembang dan menjadi perayaan seperti yang dikenal dewasa ini. Kini lebih banyak lagi tradisi yang berkembang dalam merayakan Natal seperti adanya Kandang Natal, Pohon Natal, Bintang Natal, dan Santa Claus.

Asal-Muasal Pernak-Pernik Natal

Mulai dari yang penampilannya paling heboh, Santa Claus. Ia berasal dari Eropa dan profesinya adalah seorang uskup. Nicholas dari Myra terkenal sebagai orang yang dermawan, yang hidup di abad keempat. Menunggangi kuda putih dan mengenakan jubah merah ia berkelana membagikan hadiah pada malam hari.

Ia meninggal pada 6 Desember tetapi legenda tentang dia tetap hidup. Di berbagai negara dia dikenal dengan nama yang berbeda. Di Belanda, yang akhirnya mempengaruhi Indonesia, dia dikenal dengan Sinterklass yang artinya Santo Nicholas. Di berbagai negara berbahasa Inggris dia dipanggil Santa Claus.

Kedua, Kandang Natal. Tradisi Kandang Natal dimulai pada 1223 oleh Fransiskus dari Asisi. Tujuannya dari tokoh yang terkenal dengan semangat kemiskinannya dalam Gereja Katolik itu adalah untuk menyebarkan semangat kesederhanaan dalam merayakan Natal.

Dalam Alkitab diceritakan bagaiamana Yesus dilahirkan di kandang domba, dibaringkan di atas palung - tempat makanan ternah, dan ditemani oleh para gembala. Semangat keprihatinan itulah yang ingin disebarkan dalam kandang-kandang Natal, bukan kemewahan.

Ketiga, Pohon Natal. Pertama kali Pohon Natal diperkenalkan pada era 1500an. Sebagian orang mengatakan tradisi itu datang dari Jerman, yang lain bilang dari Latvia, sementara ada juga yang mengatakan kebiasaan itu dibawa oleh Santo Bonifasius pada abad ketujuh.

Keempat Bintang Natal atau di beberapa tempat dikenal sebagai Bintang Berekor. Dalam Alkitab diceritakan ketika Yesus lahir sebuah bintang yang bersinar terang muncul di langit Timur. Bintang itu juga yang digunakan sebagai penunjuk jalan oleh Tiga Orang Majus dari Iran untuk mencari Yesus. Nah dari kisah inilah tradisi itu berasal. ( beritasatu.com )




READ MORE - Tradisi Natal dan Asal Usul Pernak - Perniknya

Kisah Natal Salah Tanggal

Kisah Natal Salah Tanggal - Selama ini, umat Kristiani meyakini bahwa Natal yang diperingati sebagai hari kelahiran Yesus jatuh pada setiap tanggal 25 Desember. Keyakinan tersebut sedemikian kuat sehingga setiap tahunnya umat Kristen dan Katolik selalu memperingatinya dengan perayaan-perayaan tertentu. Gereja Vatikan Roma pun menggelar misa khusus untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus itu.

Natal berasal dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran". Kedatangan Natal, biasanya diramaikan dengan pernak-pernik Santa Clause atau biasa disebut dengan Sinterklas serta pohon-pohon Natal (aku menyebutnya pohon cemara) buatan lengkap dengan pernak-perniknya. Sementara di wilayah-wilayah Eropa, Natal identik dengan salju. Pada negara-negara yang berbahasa Arab, Natal disebut dengan Idul Milad. Bagiku, pernak-pernik adanya sinterklas, pohon cemara, dan salju merupakan hal yang mengusik nalar. Betapa tidak, sebuah peringatan hari kelahiran Yesus Kristus yang dilahirkan di kawasan timur tengah kok diramaikan dengan sinterklas, pohon natal cemara, dan salju. Demikianlah kegusaranku sejak SMP. Meskipun demikian, aku seneng aja melihat film-film spesial Natal di RCTI. Waktu SD-SMP, Home Alone adalah film favoritku yang sering diputar RCTI setiap menjelang hari Natal. :D

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7v0wwTHZ259K-KDdxH44E7rpfeNxH_W_9LRKoUeLn5dZpnBFSSf3FHgX6TmTzDz1v5hPPLymV4BmTKiyC_NGp5ZyON3MY4JaxSztqqSY49ZNB2ZR7A3cuivuAj-ztqvMy53wIXzZ1mLM/s1600/Kumpulan+Sejarah-Sejarah+Perayaan+Natal+25+Desember.jpg

Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Sebagian besar tradisi Natal berasal dari tradisi pra-Kristen barat yang diadopsi ke dalam tradisi Kristiani. Selain itu, peringatan Natal dalam tradisi barat (yang kian mendunia) ditandai dengan bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga serta datangnya Santa Claus atau Sinterklas. Tradisi Natal yang kehilangan nilai-nilai unsur agamawi khususnya ke-kristen-an ini seperti halnya perayaan Tahun Baru Hijriyah (Tahun Baru Islam) yang “diganti” dengan malam 1 Suro. Pada akhirnya, nilai-nilai keislaman pada malam pergantian tahun Hijriyah justru dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan kejahiliyahan yang sangat bertentangan dengan spirit Islam. Sebagai misal, perayaan malam 1 Suro di Solo dengan tradisi arak-arakan Kerbau Kyai Slamet yang semakin dipopulerkan.

Banyaknya simbol-simbol, yang menurutku tidak pas dengan peringatan kelahiran Yesus, membuatku bertanya-tanya apa memang Natal benar-benar hari kelahiran Yesus (baik versi Kristen atau Islam)? Atau, jangan-jangan hari Natal sebenarnya memanglah bukan hari kelahiran Yesus? Dua pertanyaan itulah yang antara lain membuatku bertanya-tanya.

Jawaban atas pertanyaanku pun akhirnya mulai datang. Sekitar setahun lampau, aku memperoleh informasi bahwa seorang astronom Australia, David Reneke memprediksi kelahiran Yesus Kristus bukan jatuh pada tanggal 25 Desember, seperti yang dirayakan umat Kristiani sedunia seperti sekarang ini.

Dalam keterangannya yang kala itu dilansir Telegraph, Reneke mengungkapkan jika ditilik dari peristiwa 'bintang terang natal' di Betlehem 2000 tahun silam, seharusnya Natal jatuh pada tanggal 17 Juni. Bintang terang natal itulah yang dikisahkan dalam tradisi Kristiani menuntun tiga orang majus pada bayi Yesus Kristus untuk mempersembahkan mur, emas, dan kemenyan.

Penelitian yang dilakukan oleh astronom mengasumsikan, bintang terang natal atau lebih dikenal bintang Betlehem yang terlihat di langit, merupakan kombinasi planet Venus dan Jupiter. Ketika itu, kedua planet berada pada posisi terdekat dan menjadikannya lebih bersinar terang dari biasanya.

David Reneke menggunakan sebuah program komputer (software) yang sangat kompleks dan rumit untuk memastikan posisi langit pada malam kelahiran Yesus di Betlehem 2000 tahun silam.

"Kami memang memiliki software yang dapat memetakan ulang kondisi langit malam hari di setiap waktu hingga beberapa ribu tahun silam, dan kami menggunakannya untuk melihat kembali ke waktu kelahiran Yesus," kata Reneke, yang juga seorang pengajar ilmu astronomi dan editor majalah Sky and Space.

Reneke dan timnya melakukan penelusuran dengan panduan injil Matius. Kisah kelahiran Yesus menurut injil Matius dijadikan sebagai referensi untuk mengetahui peristiwa Natal. Reneke mengatakan ia dan timnya tidak mencoba untuk menghina suatu agama. Tapi, penelitian itu dapat menunjukkan memang ada obyek bercahaya terang 2000 tahun silam.

"Meskipun kita sering mempertentangan ilmu dan agama yang sering mengecewakan orang. Tapi dalam kasus ini, saya kira justru dapat memperkuat keimanan dan keyakinan seseorang," kata Reneke.

Temuan Dave Reneke a.k.a David Reneke mungkin bukanlah isapan jempol belaka. Penemuan astronom setahun lampau tersebut semakin menjawab tentang ketidaktepatan dan ketidakvalidan peringatan Kelahiran Yesus setiap tanggal 25 Desember. Penetapan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal telah menuai kontroversi sejak dahulu. Peringatan hari Natal pada tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus itupun ternyata hanya dirayakan oleh Gereja Barat, sedangkan Gereja Timur tidak mengakui Natal pada 25 Desember tersebut.

Diantara alasan penolakan tersebut adalah sebagaimana banyak diungkap oleh para sejarawan yang menyatakan bahwa 25 Desember tersebut sebenarnya merupakan tanggal kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Dionisius, dan lain-lain.. Artinya, perayaan hari Natal sejatinya adalah perayaan kelahiran berhala-berhala dan dewa-dewa.

Tokoh-tokoh Kristen anti akulturasi dan bid'ah pun angkat bicara. Diantara tokoh Nasrani yang menolak kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember adalah Pastor Herbert W. Amstrong. Ia merupakan seorang sejarawan Kristen yang menentang banyak hal tentang Natal pada tanggal 25 Desember. Yang banyak orang tidak mengetahui, keseluruhan dasar bangunan kekristenan sekarang ini sesungguhnya dibangun atas kerangka dasar ritus pembaharuan Osirian di Mesir kuno8, kecuali jika anda menyebutnya sebagai sebuah KEBETULAN. Beberapa di antara “KEBETULAN” itu antara lain:

  1. Yesus dianggap anak Allah, ini sama dengan keyakinan kultus Dionisius yang sudah ada berabad sebelum Yesus lahir.
  2. Yesus dilahirkan di kandang, ini sama seperti kisah Horus yang lahir di kuil-kandang Dewi Isis.
  3. Yesus mengubah air menjadi anggur dalam perkawinan di Qana, ini sama seperti apa yang dilakukan Dionisius.
  4. Yesus membangkitkan orang dari kematian dan menyembuhkan si buta, ini sama seperti Dewa Aesculapius;
  5. Yesus diyakini bangkit dari kematian di makam batu, sama seperti Mithra.
  6. Yesus mengadakan perjamuan terakhir dengan roti dan anggur di mana sampai sekarang ritual ini masih tetap berjalan di gereja-gereja, padahal ritual roti dan anggur merupakan simbolisasi penting dalam tradisi Osirian, dan juga hampir semua ritual pagan yang memuja Dewa Yang Mati seperti halnya pemuja Dionisius dan Tammuz;
  7. Yesus menyebut dirinya penggembala yang baik, ini meniru peran Tammuz, yang berabad sebelumnya telah dikenal sebagai Dewa Penggembala;
  8. Istilah ‘The Christ’ pada awal kekristenan tertulis ‘Christos’, sering tertukar dengan kata lain dalam bahasa Yunani, Chrestos, yang berarti baik hati atau lembut. Sejumlah manuskrip Injil berbahasa Yunani dari masa awal malah menggunakan kata Chrestos di tempat yang seharusnya ditulis dengan Christos. Orang-orang di masa itu sudah lazim mengenal Chrestos sebagai salah satu julukan Isis. Sebuah inskripsi di Delos bertuliskan Chreste Isis.
  9. Dalam Injil Yohanes 12: 24, Yesus mengatakan, “Seandainya biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika dia mati ia akan menghasilkan banyak buah”. Perumpamaan dan konsep ini jelas berasal dari konsep ritual Osirian;
  10. Dalam Injil Yohanes 14:2 Yesus mengatakan, “Di rumah bapakku banyak tempat tinggal.” Ini benar-benar berasal dari Osiris dan dicopy-paste dari Book of the Dead, Kitab Orang Mati Mesir Kuno yang dipercaya disimpan di kota kematian, Hamunaptra. Ini baru sebagian contoh.
Pastor Armstrong, dalam bukunya “The Plain Truth About Christmas”, menegaskan jika Natal yang berasal dari Katolik Roma bukanlah ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat paganisme.

“Karena perayaan Natal berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul ‘Christmas’, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi: “Christmas was not among the earliest festivals of church, the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan custom centering around the January calends gravitated to christmas. “

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul “Natal Day”, Bapak Katolik pertama, mengakui jika, “In the Scnptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herold) who make great rejoicings over the day in which they were born into the world.“

Encyclopedia Britannica (1946), menjelaskan, “Natal bukanlah upacara-upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”

Encyclopedia Americana (1944) menyatakan, “Christmas…it was according to many authorities, not celebrated in ihe first centuries of the Christian church, as the Christian usage in gene.ral was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth… ” (The “Communion”, which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) “A feast was established in memory of this even (Christ’s birth) in the fourth century. In the fifth century the Westem Church ordered it fo be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ’s birth existed.” Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.”

Adalah fakta sejarah jika pada abad pertama masehi hingga abad ke tiga, perayaan Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma, dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.

Analisa lain mengenai mustahilnya Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember adalah adanya fakta bahwa pada bulan Desember - Januari, di daerah Timur Tengah, justru mengalami musim dingin, sehingga sangat tidak masuk akal untuk menggembalakan hewan pada waktu-waktu tersebut. Sedangkan dalam Injil disebutkan bahwa lahirnya Yesus ditandai dengan cerita adanya para gembala yang sedang menggembalakan hewan peliharaan mereka.

Pastor Herbert W. Amstrong juga menyangkal pandangan resmi gereja Roma tentang kelahiran Yesus. “Amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin). Saya berpegangan pada Injil Lukas 2:11 yang menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:

"Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud."

Amstrong melanjutkan, “Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.”

New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul "Christmas" menguraikan dengan jelas sebagai berikut: "Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil Kriste. Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu Kristen Mesopatamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan kepada dewa Matahari."

Perlu diingat, menjelang abad pertama sampai pada abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4 M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.

Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu.

Oleh karena itu, meski sudah beragama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari "Sunday" sebagai hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari). Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-God (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan - Yesus).

Demikianlah, ujar Amstrong, asal usul "Christmas" yang dilestarikan oleh dunia Barat hingga kini. Walau namanya diubah jadi selain Sun-day, Son of God, Christmas, atau Natal, pada hakikatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari.

Encyclopaedia Britannica mengatakan: "Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mithra atau kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus…"

Uraian di atas menjawab pertanyaanku tentang apakah Natal benar-benar hari kelahiran Yesus. Jawabannya ternyata tidak. Natal sangat tidak tepat dikatakan sebagai hari kelahiran Yesus. Sementara, pertanyaan sekunderku tentang munculnya beragam asesoris dan pernak-pernik di hari Natal seperti pohon cemara Natal dan Sinterklas masih belum terjawab. Namun, setelah membaca kutipan Encyclopaedia Britannica halaman 648-649 (kalau tidak salah) pada edisi kesebelas, pertanyaan mengenai siapa dan bagaimana asal mula sinterklas muncul menjadi terjawab.

Disebutkan dalam Encyclopedia Britannica halaman 648-649 edisi kesebelas: “St Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December…a Legend of his surreptitious bestowal bf dowries on the three daughters of an impoverished citizen…is said to have originated the old custom of giving present in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec 6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus.”. Ternyata, Sinterklas adalah ciptaan seorang Pastur yang bernama “Santo Nicolas” yang hidup pada abad ke empat Masehi. Waktu awal-awal sosialisasi perayaan hari Natal pada tanggal 25 Desember, menyeleweng dari tradisi sebelumnya.

Mengenai Pohon Natal atau Pohon Cemara atau juga disebut dengan pohon Terang, aku memperoleh jawaban dari kutipan buku Answer to Questions, tulisan Frederick J. Haskins. Menurut Frederick J. Haskins dalam bukunya Answers to Questions disebutkan: “The use of Christmas wreaths is believed by outhorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same times as Christmas. The Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era.” Pohon Terang atau Pohon Natal, sama sekali tidak pernah dianjurkan oleh Tuhan maupun Yesus untuk mengadakan atau merayakannya. Itu semua diadopsi dari ajaran agama pagan (kafir kuno). Pohon itu sendiri disebut dengan istilah “Mistleto” yang biasanya dipakai pada perayaan musim panas, sebagai persembahan suci kepada matahari. Cabang Mistletoe adalah cabang pohon yang digunakan oleh manusia dalam perayaan Natal dengan cara ketika dua orang manusia berada di bawah cabang daun ini mereka harus berciuman. Sesungguhnya, Nimrodlah yang disimbolkan dalam cabang daun ini yang sesungguhnya mengadaptasi konteks Yesus yang adalah "cabang anggur Allah". Nimrod disebut kayu Yule yang mati yang harus dibakar pada malam Natal dan akhirnya muncul sebagai pohon Natal sebagai "cabang Allah" yang juga dirayakan di Mesir "dengan pohon palem" dan Roma.

Berawal dari rasa kegusaran dan penasaranku yang menuntunku untuk mencari tahu dan menggali informasi mendalam tentang Natal, kelahiran Yesus, dan segala pernak-perniknya, membuatku tahu bahwa peringatan 25 Desember sebagai Hari Natal atau hari kelahiran Yesus Kristus adalah tidak pas dan tidak berdasar. Dari penggalian informasi di atas, ada beberapa kesimpulan versi mengenai waktu kelahiran Yesus, yaitu antara yang berpendapat Januari, Juni, dan bulan sebelum Oktober. Sementara Hari Natal yang diperingati setiap tanggal 25 Desember lebih tepat disebut sebagai hari Peringatan Kelahiran Dewa atau Berhala.

“Beginilah firman Tuhan: “Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa­bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adaIah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang. Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat me­langkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun tidak dapat. ” Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya Tuhan! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan. ” (Yeremia 10:2-6)

Kesimpulan jawaban atas pertanyanku bahwa Hari Natal yang diperingati setiap tanggal 25 Desember adalah bukan merupakan Hari Peringatan Kelahiran Yesus ternyata mendapat penguatan dari pernyataan mendiang Paus Yohanes Paulus II yang kuperoleh dari sebuah situs. Dalam pernyataannya sekitar tahun 1994, Paus Yohanes Paulus II pernah mengumumkan kepada umat jika Yesus sebenarnya tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Tanggal 25 Desember sudah menjadi tradisi Kristen berabad-abad yang hingga kini masih dirayakan. Akankah ada perubahan besar dalam perayaan Hari Natal tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya?




READ MORE - Kisah Natal Salah Tanggal