Gara-Gara Minta Maaf Kepada Muslim

Gara-Gara Minta Maaf Kepada Muslim, Polisi Dicerca Atasan - Kepala polisi Windsor telah membuat permintaan maaf terbuka kepada komunitas Muslim lokal atas "rasa malu" yang disebabkan oleh perwira taktis ketika mereka ketika melakukan operasi penangkapan. Namun atasannya, pimpinan persatuan polisi di kota itu tidak setuju dengan keputusan kepala polisi itu dan mencerca keputusan tersebut.


Mohammad Al-Sahli ketika ditahan  di rumahnya atas tudingan ekstrimisme. Dalam penahanan tersebut, kepolisian Windsor juga memeriksa seorang wanita meski tidak terdapat dalam surat perintah. Hal tersebut membuat kepolisian meminta maaf kepada umat Muslim. (SuaraMedia News)
HTML clipboard

"Dalam keyakinan saya, ini bukan masalah budaya," kata Const. Ed Parent, presiden dari Asosiasi Kepolisian Windsor. "Petugas-petugas ini memiliki surat perintah untuk menangkap seseorang. Mereka masuk, dan mereka menangkap orang ini."

HTML clipboard mohammad_al_sahli_ketika

Kontroversi itu berasal dari penangkapan yang dilakukan oleh tim taktis polisi Windsor (Emergency Services Unit) bulan lalu.

Pada 31 Oktober, ESU bertindak pada permintaan oleh RCMP dan FBI untuk menangkap warga Windsor Mohammad Al-Sahli, 33, dan Yassir Ali Khan, 30, dalam hubungannya dengan kelompok Islam radikal yang berbasis di Detroit.

Menurut Patrick Ducharme, pengacara kedua terdakwa, para petugas "memeriksa" seorang wanita Muslim, istri Khan, yang bukan bagian dari surat perintah penangkapan.

"Tidak pernah ada niat untuk polisi Windsor untuk menyinggung atau mempermalukan keluarga dari komunitas Islam kita," tulis Kepala polisi Windsor Gary Smith dalam berita yang dikeluarkan pada hari Kamis. "Tindakan yang diambil itu menyebabkan rasa malu dan menyinggung keyakinan agama mereka. Saya tulus minta maaf kepada keluarga dan masyarakat Islam."

Suatu tinjauan mengenai insiden menyoroti perlunya tambahan "pelatihan kepekaan budaya," kata rilisan tersebut.

HTML clipboardfbi_islamHTML clipboard

Pada saat itu, polisi mengatakan orang-orang itu ditangkap tanpa insiden setelah dua rumah itu dikelilingi oleh RCMP bersenjata lengkap dan polisi Windsor.

Namun pengacara kedua pria itu kemudian menyatakan bahwa polisi bertindak berlebihan dalam menarik senjata dan menakuti perempuan dan anak-anak di rumah.

Kepala Windsor Smith mengatakan Asosiasi Islam akan menawarkan pelatihan kepada petugas baru.

"Dalam rangka penangkapan, petugas di TKP telah interaksi dengan keluarga dari kedua laki-laki ... interaksi inilah yang menyuarakan keprihatinan di kalangan anggota keluarga dan masyarakat Islam tentang kepekaan budaya Windsor polisi," katanya kepada konferensi pers.

"Salah satu hal yang akan kita lihat adalah: Bagaimana kita membawa petugas perempuan yang tidak dilatih secara taktis di dalam pusat sebuah perimeter, dan seharusnya kita lakukan kali ini. Bisakah kita melakukannya lebih baik?”

Tapi Const. Parent, yang merupakan anggota ESU selama 10 tahun, mengatakan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan petugas jika bukan itu.

"Biasanya, ketika Anda membuat permintaan maaf, itu berarti ada sesuatu yang salah. Menurut pendapat saya, tidak ada yang tidak beres di sini.”

"Saya yakin para petugas itu melakukan segala sesuatu di mana mereka berhak untuk melakukannya di bawah hukum. Saya percaya mereka melakukannya secara profesional. Saya tidak melihat suatu masalah di sini."

Sementara dari pihak Asosiasi Muslim Ontario menyatakan bahwa tidak ada tekanan politik yang diberikan pada kepala Windsor polisi untuk membuat permintaan maaf kepada komunitas Muslim di kota itu menyusul penangkapan kontroversial dua laki-laki bulan lalu.

"Tidak ada tekanan sama sekali," kata Dr Ismail Peer, presiden asosiasi.

"Kami tidak dalam posisi untuk membuat tekanan pada siapa pun," tambah Abdelkader Tayebi, sekretaris dari asosiasi itu.

Penahanan datang hanya beberapa hari setelah Mujahid Carswell, anak imam yang tewas dalam tembak-menembak di Detroit, ditangkap di Windsor. FBI menuduh ketiga orang itu berkonspirasi untuk melakukan kejahatan federal. Keluhan FBI menyusun daftar beberapa tuduhan, termasuk konspirasi untuk menjual barang-barang curian. [ suaramedia.com ]


READ MORE - Gara-Gara Minta Maaf Kepada Muslim

Read more...

Nasib Masjid di Belanda

Nasib Masjid di Belanda. Masjid Disalahartikan di Belanda. Peneliti antropologi dan ahli sejarah arsitektur Eric Roose mengungkapkan, pendirian masjid di Belanda justru tidak memikirkan soal integrasi

Masjid-masjid tradisional dengan kubah dan menara adalah tanda menolak integrasi. Begitulah orang Belanda kadang berpikir. Tapi dari penelitian ahli sejarah arsitektur Eric Roose terungkap bahwa kubah dan menara menandakan dari aliran Islam mana mereka berasal.

HTML clipboard


Jumlah masjid di Belanda bertambah. Sejumlah orang Belanda asli tidak menyukai hal itu, terutama jika masjid-masjid tersebut menonjolkan kaligrafi, kubah, dan menara. Yang lain berpendapat, muslim adalah bagian dari masyarakat Belanda dan karena itu punya hak untuk menunjukkan identitas mereka.

Dalam karya tulisnya, antropolog dan ahli sejarah arsitektur Eric Roose menerangkan dengan jeli mengenai proses pengambilan keputusan berkaitan dengan desain dua belas masjid di Belanda. Apa hasilnya? Banyak motif lain yang lebih penting, ketimbang keinginan untuk tidak atau - sebaliknya - untuk berintegrasi dengan masyarakat Belanda.

Masalah integrasi terus-menerus diproyeksikan ke bentuk-bentuk masjid. Beberapa melihat desain masjid tradisional sebagai bentuk kurangnya integrasi, sedangkan yang lain justru melihat rancangan bangunan tersebut sebagai emansipasi Muslim dalam masyarakat multikultural.

Dari penelitian Eric Roose terungkap bahwa pemberi dana yang mendirikan masjid justru tidak memikirkan soal integrasi. Dengan desain masjid tertentu, mereka justru ingin memperlihatkan posisi mereka dalam aliran-aliran dan visi yang saling bertentangan.

“Masjid Al-Islam memang memiliki desain dan bentuk khas Maroko. Dengan desain itu, mereka ingin mengasosiasikan masjid tersebut dengan Islam 'resmi' dari Kerajaan Maroko. Tapi, seperti yang Anda tahu, banyak orang Maroko di Belanda yang justru menentang Kerajaan. Jadi, desain masjid sama sekali tidak ada hubungannya dengan keinginan untuk menonjolkan Maroko dan memisahkan diri dari budaya Belanda,” ujarnya.

Ada juga masjid-masjid lain dengan ciri dan identitas berbeda. Namun tak ada bukti bahwa dianggap sebagai bagian yang memisahkan diri dari integrasi Belanda. Masjid Essalam di Rotterdam, misalnya, masjid ini dianggap kebalikan dari El-Islam.

Menurut Eric Roose, pemberi dana masjid Essalam bersimpati pada gerakan Ikhwanul Muslimin. Ia justru ingin mengidentifikasikan diri dengan visi Pan-Islamisme dan menentang Islam Maroko. Desainnya didasarkan pada masjid modern Nabi Muhammad di Madinah, Arab Saudi. Dan masjid di Madinah tersebut adalah titik kulminasi dari semua desain Islam di dunia.

Ada pula masjid yang dianggap mirip aliran Salafi. Masjid itu bernama masjid Furqan di Eindhoven.

Hanya saja, ujar Roose, karena seringnya umat Islam dibenturkan dengan masalah integrasi, mereka yang mendirikan masjid akhirnya merasioalisasi pendirian masjid sesuai dengan keinginan masyarakat Belanda.

“Anda melihat itu seperti awal dari proses rancangan yang tidak untuk dibahas, tetapi segera setelah para pembangun masjid ditanyai para wartawan dan petugas kotapraja, mereka harus merekayasa cerita bahwa rencana mereka adalah bentuk pernyataan intergrasi di dalam masyarakat Belanda. Pemberi dana masjid Es-salam misalnya, pernah mengatakan bahwa masjidnya sangat cocok dengan pemandangan di Rotterdam, karena kalau Anda tidak melihat kubah dan menara-menaranya, maka akan sangat mirip dengan gedung Kotapraja Rotterdam. Itu adalah rasionalisasi kemudian,” ujarnya.

Namun tentu saja membangun masjid di Belanda tak semudah membangun masjid di negara-negara berpenduduk Muslim lain. Menurut Roose, Masjid Essalam yang di Rotterdam itu, mungkin lebih sulit dibangun di Marokko, di mana bentuk masjid sangat keras ditetapkan. Masalahnya, di sejumlah kotapraja di Belanda yang kian kritis terhadap rencana untuk kubah dan menara, akan menghambatnya.

Bagi Roose, kesempatan seseorang di Belanda membentuk jati diri keagamaannya, justru makin berkurang. [ hidayatullah.com ]


READ MORE - Nasib Masjid di Belanda

Read more...

Salib Nasibmu Kini...?!

Salib Nasibmu Kini...?!. Nasib Keberadaan Salib di Sekolah Italia. Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) Eropa mengeluarkan putusan yang melarang adanya salib di sekolah-sekolah Italia. Keputusan itu memicu kemarahan para politisi negara itu.

Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini mengatakan, "Ini merupakan embusan angin kematian bagi nilai-nilai dan hak-hak Eropa. Akar Eropa terletak pada identitas Kristen. Ketika kita mencoba untuk membawa agama semakin dekat, agama Kristen mendapat tentangan. Pemerintah akan mengajukan banding."
HTML clipboard


Putusan Pengadilan HAM Eropa itu berawal dari pengaduan seorang perempuan Finlandia, Soile Lautsi, yang menikah dengan pria Italia. Keduanya ateis.

Dia mengajukan protes bahwa anak-anaknya harus memasuki sebuah sekolah di Italia utara yang memajang salib di setiap ruang kelas. Keberadaan salib dalam ruangan kelas itu berdasarkan udang-undang Italia yang merefleksikan akar Katolik Roma dari negeri itu.

Putusan Pengadilan Eropa, yang akan diterapkan tiga bulan (setelah penetapan) itu, menyatakan, salib dapat mengganggu anak-anak yang bukan Kristen. Putusan tersebut akan memaksa peninjauan luas atas simbol-simbol agama di sekolah-sekolah pemerintah di seluruh Eropa.

Pengadilan menolak argumen pemerintah Italia yang menyatakan bahwa salib merupakan simbol budaya nasional, sejarah dan identitas, serta toleransi dan sekularisme. Pengadilan itu juga memerintahkan Italia untuk membayar ganti rugi kerusakan moral bagi Lautsi sebesar 5.000 euro.

Keputusan tersebut menyatakan, keberadaan sebuah salib di dalam ruangan kelas merupakan sebuah pelanggaran terhadap hak orangtua untuk mendidik anak-anak mereka sesuai dengan khendak mereka dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama bagi murid-murid.

Pemerintah Italia sebelumnya sedang bingung memikirkan bagaimana menghadapi populasi imigran yang terus bertumbuh, terutama kaum Muslim. Putusan pengadilan itu tampaknya menjadi masalah lain lagi bagi pemerintah sayap kanan tengah dalam membatasi para pendatang baru.

Menteri Pendidikan Italia, Mariastella Gelmini, mengatakan, "Adanya salib dalam kelas merupakan simbol dalam tradisi kami." Diktator fasis Benito Mussolini mendeklarasikan sebuah undang-undang tahun 1924 yang memerintahkan semua ruang kelas harus memajang salib. Meski ada sejumlah upaya untuk menghapus undang-udang itu dalam beberapa tahun terakhir, tetapi aturan itu tetap berlaku hingga kini.

Lautsi, yang berkewarganegaraan Finlndia, mengatakan, dia merasa adanya salib dalam kelas di mana anak-anaknya Dataico (11 tahun) dan Sami Albertin (13 tahun) belajar merupakan pelanggaran terhadap kebebasan mereka dan pelanggaran terhadap hak kebebasan beragama.

Kasus yang telah berlangsung delapan tahun itu terjadi di sebuah sekolah dasar pemerintah di Abano Terme dekat Padua di Italia utara. Lautsi membawa kasus itu ke Strasbourg setelah pengadilan lokal menolak gugatannya.

Kemarin, dalam sebuah keputusan sepanjang 16 halaman, tujuh hakim Pengadilan HAM di Strasbourg menanggapi pengaduannya dengan mengatakan, "Kehadiran salib dapat dengan mudah diinterpretasi oleh murid-murid pada semua umur sebagai lambang agama dan mereka merasa bahwa mereka dididik di sebuah lingkungan sekolah dengan agama tertentu. Hal ini dapat mendorong murid-murid yang bergama, tetapi juga mengganggu murid-murid yang menjalankan agama lain atau ateis, terutama jika mereka menjadi agama minoritas."

Dengan itu, pengadilan menolak argumen legal Italia yang menyatakan bahwa salib merupakan sebuah simbol yang mempromosikan pluralisme. Seorang juru bicara Vatikan mengatakan, "Kami akan mencermati secara saksama putusan pengadilan itu sebelum menyampaikan komentar."

Seorang anggota Partai Orang-Orang Bebas, partai Perdana Menteri Silvio Berlusconi, Antonio Mazzocchi, menanggapi putusan itu dengan mengatakan, "Eropa telah melupakan akar kekristenannya." Sementara Alessandra Mussolini, cucu Benito Mussolini, mengatakan, "Ini merupakan upaya untuk mengikis akar kekristenan kami. Mereka sedang mencoba menciptakan Eropa yang tanpa identitas dan tradisi."

Salib merupakan sesuatu yang umum di gedung-gedung publik Italia meskipun undang-undang telah memisahkan gereja dan negara. Dalam praktiknya, karena katolisisme menjadi bagaian dari identitas kultur Italia, lembaga-lembaga lokal bisa memutuskan apakah mereka ingin menempatkan salib di sekolah-sekolah dan gedung pengadilan di mana kebanyakan dari lembaga itu melakukannya. ( kompas.com )

READ MORE - Salib Nasibmu Kini...?!

Read more...

Gereja Presbytery San Francisco Menyetujui Pentahbisan Lesbian

Gereja Presbytery San Francisco Menyetujui Pentahbisan Lesbian. Pihak yang menentang perubahan tersebut mengatakan bahwa mereka telah mengumpulkan cukup tanda tangan untuk menunda pentahbisan tersebut

Gereja Presbytery San Francisco secara terbuka telah menyetujui pentahbisan seorang minister homoseksual. Namun pihak yang menentang perubahan tersebut mengatakan bahwa mereka telah mengumpulkan cukup tanda tangan untuk menunda pentahbisan tersebut.

HTML clipboard


"Kami meyakini bahwa apa yang telah dilakukan oleh Presbytery San Francisco itu inkonstitusional, dan kami berharap hal tersebut dikoreksi,” ujar Sarah Hill, koordinator Koalisi Presbyterian, sebagai disiarkan Religion News Service.

"Presbytery tidak dapat mentahbiskan calonnya sampai proses hukum selesai," tambahnya.

Suara sebanyak (156 sampai 138) menyetujui pentahbisan Lisa Larges menjelang Selasa malam pada pertemuan akhir tahunan Presbytery. Hal tersebut terkait dengan kasus abuzz di Twitter, yang menunjukkan dukungan untuk Larges, yang menurut laporan telah meminta pentahbisan selama 20 tahun.

Seorang diakon di Noe Valley Ministry Gereja Presbyterian di San Francisco yang buta sejak lahir, Larges telah mencoba untuk ketiga kalinya pada awal tahun ini untuk dapat ditahbiskan.

HTML clipboard


Pada 2007, Larges menyampaikan sebuah tulisan “pernyataan keberatan,” yang menyatakan secara resmi keberatan terhadap persyaratan denominasi bahwa seorang imam adalah mereka yang “hidup setia dalam perjanjian perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang wanita atau hidup melajang dalam kekudusan.”

Dia menyebut, persyaratan tersebut “mengotori gereja dan menjadi sebuah batu sandungan bagi misi” serta tidak mengungkapkan hal-hal penting dalam iman kepercayaan Presbyterian.

Pada bulan Maret tahun ini, Police Constable (AS) Sinode Pacifik menghalangi pentahbisan Larges. Namun pada awal bulan ini, pengadilan tinggi, General Assembly Permanent Judicial Commission mengeluarkan sebuah peraturan teknik yang membolehkan Presbytery mulai memeriksa kemungkinan bagi Larges untuk ditahbiskan.

Berbicara di hadapan Presbytery pada Selasa lalu, Larges mengindikasikan bahwa dirinya tidak akan mengikuti standar konstitusional gereja yang berlaku di negara tersebut, “Mereka yang dipanggil melayani di gereja untuk membawa jiwa hidup dalam kepatuhan terhadap Ayat Alkitab dan menyesuaikan diri pada pengakuan standar gereja,” katanya, sebagaimana disebutkan oleh The Layman Online.

Dalam bantahannya, ia mengatakan bahwa kesetiaan tertingginya adalah kepada Kristus, dan bukan kepada Ayat Alkitab. Katanya, “Membawa jiwa untuk hidup patuh pada Ayat Alkitab,” sama artinya menganggap kekuasaan ayat Alkitab lebih tinggi dari kekuasaan Kristus dan membawa kita kembali hidup di bawah hukum.”

"Saya tidak akan dan tidak bisa mengklaim kesucian dalam hidup melajang, kecuali apabila sampai nantinya kesetiaan dalam ikatan hubungan antara dua orang berjenis kelamin yang sama diakui."

Pemungutan suara yang mengizinkan pentahbisan Larges pada Selasa lalu dianggap telah membuka cakrawala baru. Minister homoseksual lainnya di dalam denominasi secara terbuka tampil di hadapan jemaatnya setelah ditahbiskan. Diharapkan, ada putusan banding terhadap keputusan Presbytery tersebut. [ hidayatullah.com ]

READ MORE - Gereja Presbytery San Francisco Menyetujui Pentahbisan Lesbian

Read more...

'Kiamat 2012' Propaganda Sang Predator

'Kiamat 2012' Propaganda Sang Predator. Film kiamat 2012 garapan Hollywood sudah menuai protes dari tokoh Islam. Adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Malang, KH Mahmud Zubaidi yang pertama kali mengecam film yang sudah tayang di Indonesia itu.

Menurutnya, sebagai umat Islam, harus mempercayai bahwa kiamat merupakan rahasia Allah. Jadi, jangan percaya dengan ramalan kiamat versi bangsa Maya. ”Film itu tidak pantas untuk ditayangkan, karena bisa mempengaruhi pemikiran umat. Soal kapan kiamat, itu kuasa Sang Pencipta. Jadi kita tidak boleh menentukan hari itu. Itu menyesatkan,” tegas Ulama Malang ini.

Berbeda dengan KH Mahmud, Ketua MUI pusat, KH Amidhan tidak begitu mempermasalahkan film itu. ”Secara pribadi, saya tidak menganggap itu masalah besar. Asalkan, film 2012 tidak diasosiasikan dengan hari kiamat. Kiamat hanya Allah yang tahu. Dan film hanya fiksi, bukan kisah nyata,” jelas Amidhan di Jakarta kemarin.

Mungkin, apa yang dijelaskan Amidhan ada benarnya. Bahwa film yang menelan biaya produksi sebesar dua ratusan juta dolar atau sekitar 2 trilyun rupiah itu tidak lebih dari sekadar khayalan orang-orang film. Dan itu tidak lepas dari trik bisnis Hollywood untuk meraup uang sebanyak-banyaknya. Dalam tayang selama tiga hari di 105 negara, film ini sudah meraup untung 25 juta dolar.

Kalau dikritisi lebih dalam, film garapan Roland Emmerich ini tidak lebih dari ungkapan ketakutan yang berlebihan terhadap ramalan bencana dari kacamata orang atheis. Film berdurasi 158 menit ini sama sekali tidak menggambarkan kebesaran bahkan keberadaan Tuhan dan kekerdilan manusia. Pesan yang bisa ditangkap dari film ini justru menuhankan ilmu pengetahuan dan kebodohan agama.

Seperti umumnya film-film Hollywood yang lain, film 2012 lebih cocok menggambarkan suasana peperangan ala koboi Amerika dengan keganasan alam. Selain itu, nalar logika ilmiah film ini begitu dangkal dan sentuhan religusitasnya yang sangat sangat kering.

Satu hal yang sudah biasa dalam film Hollywood, penggambaran betapa bijaksananya Amerika. Terlebih lagi presidennya. Dalam film ini, presiden Amerika adalah di antara mereka yang tidak mau meninggalkan ketakutan rakyatnya ketika pemimpin dunia yang lain sudah kabur menyelamatkan diri. Sang presiden pun digambarkan menemui ajal bersama rakyatnya yang sedang menderita.

Apa yang disampaikan Ketua MUI Malang memang benar, ”Film ini sangat menyesatkan.” mnh [ eramuslim.com ]


READ MORE - 'Kiamat 2012' Propaganda Sang Predator

Read more...

Bangsa Predator AS Rampok Empat Masjid

Bangsa Predator AS Rampok Empat Masjid. Atas nama perang melawan terorisme, pemerintah Amerika Serikat (AS) hari ini menyita empat masjid dan satu gedung pencakar langit di kota New York milik lembaga Islam. Pengelolaan keempat masjid dan bangunan bertingkat itu dianggap memiliki hubungan dengan pemerintah Iran. Organisasi pengelolanya bernama Alavi Foundation dan menurut laporan AP, memiliki aset lebih dari 500 juta dolar AS.


Pemerintah AS Sita Empat Masjid
AP

Aset itu meliputi akun di bank, pusat-pusat kegiatan islam berupa sekolah dan masjid di New York, Maryland, California, dan Houston, juga gedung 36 lantai di Manhattan. Penasihat hukum Alavi Foundation, John D Winter pun mengaku tidak puas dengan tindakan pemerintah. "Kami kecewa pemerintah memutuskan untuk mengambil langkah (penyitaan) ini," ujar dia, .

Winter juga mengungkapkan bahwa kasus seperti ini, sangat jarang terjadi di AS. Menurut dia, penyitaan tempat ibadah ini bisa bertentangan dengan aturan yang mengizinkan adanya kebebasan beragama. Kejadian ini pun memanaskan hubungan antara pemerintah dan komunitas Muslim di AS. Apalagi, beberapa hari lalu, isu penembakan di markas militer Fort Hood, menjadikan umat Islam menjadi ikut terkena dampak negatif.

Perasaan tidak puas juga dikemukakan juru bicara Council on American-Islamic Relations (CAIR), Ibrahim Hooper. "Penyitaan ini memberi pesan yang sangat negatif bagi Muslim di seluruh dunia," ujar dia. Ibrahim juga mengungkapkan bahwa langkah tersebut sangat mengganggu hak warga negara untuk bebas menjalankan ajaran agama.

Juru bicara kantor kejaksaan AS, Yusill Scribner, mengungkapkan bahwa Alavi Foundation ini mewakili pemerintah Iran dalam mengelola aset properti di AS. Lembaga ini menyalurkan dananya ke bank yang juga milik pemerintah Iran bernama Bank Melli. Yusill menuduh bahwa bank tersebut ikut mendukung program pembiayaan proyek nuklir Iran.

Kata dia, pemerintah AS sudah lama menduga bahwa Alavi Foundation merupakan perpanjangan tangan pemerintah Iran. "Selama dua dekade, urusan Alavi Foundation mengarah pada para petinggi Iran termasuk duta besar Iran di PBB," imbuh seorang jaksa bernama Preet Bharrara.

Penyegelan pusat kegiatan Islam, termasuk lembaga pendidikan ini pun menjadikan para orang tua murid berkumpul di sekolah anak-anaknya. Para penyewa gedung yang disegel juga terkejut. Gedung bernama Piaget itu didirikan tahun 1970-an. Bangunan tersebut disewa sebagai area perkantoran oleh banyak perusahaan investasi. [ republika.co.id ]


READ MORE - Bangsa Predator AS Rampok Empat Masjid

Read more...

Kembali Nabi Muhammad SAW di Lecehkan Di Italia

Kembali Nabi Muhammad SAW di Lecehkan Di Italia. Feminis Italia Sebut Nabi Pedofil. Aktivis gender dan mantan anggota parlemen dari kelompok sayap kanan Italia, Daniela Santanche, telah menimbulkan kontroversi karena menyebut Nabi Muhammad sebagai seorang “poligamis dan pedofil” dalam sebuah acara debat di siaran TV. Santanche muncul dalam program TV yang ditayangkan siaran komersial Canale 5 dan berdebat dengan presiden Islamic Centre Milan, Ali Abu Schwaima, akhir pekan kemarin.

“Muhammad itu poligamis dan pedofil karena dia punya sembilan istri, dan salah satu istrinya berusia 9 tahun, dan itu merupakan fakta sejarah,” kata Santanche. Santanche merupakan mantan ketua partai post fasis Nationale Alliance, dan sekarang memimpin partai ekstrem kanan La Destra.

Feminis Italia Sebut Nabi Pedofil
REPUBBLICA.IT

Daniela Santanche

Perkataan Santanche tersebut telah memicu kemarahan Schwaima dan penonton Muslim, yang diundang untuk berpartispasi dalam debat tentang boleh tidaknya memasang salib di kelas-kelas Italia setelah hal itu dilarang oleh Pengadilan Eropa perihal hak-hak kemanusiaan. “Mengapa kita tidak bicara tentang hal-hal serius, bukan seperti komentar-komentar Anda yang memuakkan itu,” seru Schwaima pada Santanche.

Santanche balas membentak, “Bagi kami, Muhammad adalah seorang pedofil.”

“Anda hanya menunjukkan kebodohan orang-orang seperti Anda yang tak memiliki argumen lain untuk membantahnya,” seru Schwaima mengarahkan telunjuknya pada Santanche.

Dalam acara tersebut, Schwaima menyatakan bahwa salib-salib semestinya tidak perlu disingkirkan dari kelas-kelas di Italia, karena, “Bagi kami, Kristus merupakan salah satu dari lima nabi utama dan kami menghormati dia, dan juga tanda salib.”

Tapi Santanche tidak peduli dengan pernyataan Schwaima. “Kami tak akan pernah mendengarkan Muhammad, yang merupakan seorang poligamis dan pedofil, “ jerit Santanche.

Pihak TV menyatakan tidak bertanggung jawab atas insiden yang terjadi dalam acara tersebut. “Saya dan staff tak punya kaitan apa pun atas komentar-komentar yang menyinggung Islam tersebut,” kata pembawa acara Domenica Cinque, Barbara D’Urso, setelah acara itu berakhir.

Santanche ikut pemilu parlemen kelas bawah mewakili partainya La Destra tahun lalu, namun partainya gagal mencapai threshold 4% suara yang dibutuhkan untuk memasuki tahap pemilu parlemen umum berikutnya.

Tahun kemarin, Santanche ikut dalam aksi protes dari kelompok sayap kanan yang menolak bekas velodrom Milan (arena balap sepeda) digunakan sebagai masjid.

Ia juga menentang para wanita Muslim pakai burqa di Italia. Santanche bahkan menyerukan pembukaan kembali tempat-tempat pelacuran di Italia. [ republika.co.id ]


READ MORE - Kembali Nabi Muhammad SAW di Lecehkan Di Italia

Read more...

MyPincono

My Life In My Love

Strategies For Blogger

Rantau Pincono © Layout By Hugo Meira.

TOPO