Natal Bukanlah Upacara Gereja Yang Pertama

Natal Bukanlah Upacara Gereja Yang Pertama. Upacara Natal adalah berasal dari ajaran Semiramis istri Nimrod, yang kemudian di lestarikan oleh para penyembah berhala secara turun temurun hingga sekarang ini dengan wajah baru yang disebut Kristen.

Sejarah Natal

Chritmas diartikan sebagai hari kelahiran Yesus, yang dirayakan oleh hampir semua orang Kristen didunia, berasal dari ajaran Gereja Katolik Roma. Padahal ajaran tersebut tidak terdapat dalam Alkitab dan Yesus-pun tidak pernah memerintahkan kepada murid-muridnya untuk menyelenggarakannya.

Perayaan yang masuk kedalam ajaran Gereja Katolik Roma pada abad ke empat ini, berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Perayaan Natal yang diselenggarakan diseluruh dunia ini samasekali tidak mempunyai dasar dari Alkitab.

Menurut penjelasan di dalam Catholic Encyclopedia edisi 1911, yang berjudul "Christmas", ditemukan kata-kata yang berbunyi sebagai berikut :

"Christmas was not among the earliest festivals of church, the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan custom centering around the January calends gravitated to christmas. "

"Natal bukanlah upacara gereja yang pertama, melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala & jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."

Masih dalam Encyclopedi itu juga dengan judul "Natal Day" bapak Katolik pertama mengakui bahwa :

"In the Scnptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herold) who make great rejoicings over the day in which they were born into the world. "

"Didalam Kitab Suci, tidak seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanya orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."

Natal Menurut Encyclopedia Americana Tahun 1944

"Christmas...it was according to many authorities, not celebrated in ihe first centuries of the Christian church, as the Christian usage in gene.ral was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth... " (The "Communion", which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) "A feast was established in memory of this even (Christ's birth) in the fourth century. In the fifth century the Westem Church ordered it fo be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ's birth existed.

"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut." ("Perjamuan ci" yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) "Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke empat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari". Sebab tidak seorangpun yang mengetahui hari kelahiran Yesus."

Asal usul Natal

Natal berasal dari kepercayaan pen-yem¬bah berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia kuno dibawah raja Nimrod (cucunya Ham, anak nabi Nuh). Nimrod inilah orang pertama yang mendirikan menara Babel, membangun kota Babilonia, Niniweah dll, serta kerajaan di dunia dengan sistem kehidupan, ekonomi dan dasar-dasar pemerintahan. Nimrod ini adalah seorang pembangkang Tuhan. Jumlah kejahatannya amat banyak, diantaranya dia mengawini ibu kandung¬nya sendiri Semiramis.

Setelah Nimrod meninggal, ibunya yang merangkap istrinya menyebarkan ajaran Nimrod bahwa roh Nimrod tetap hidup selamanya walaupun jasadnya telah mati. Adanya pohon Evergreen yang tumbuh diatas sebatang pohon kavu yang telah mati, ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod. Untuk mengenang hari kelahiran Nimrod setiap tanggal 25 Desember, Semiramis menggantungkan bingkisan pada ranting-ranting pohon itu sebagai peringatan hari kelahiran Nimrod. Inilah asal usul Pohon Natal. Melalui pemujaan kepada Nimrod, akhirnya Nimrod dianggap sebagai "Anak Suci dari Surga'. Dari perjalanan sejarah dan pergantian generasi ke generasi dari masa¬kemasa dan dari satu bangsa ke bangsa lainnya, akhirnya penyembahan terhadap berhala Babilonia ini berubah menjadi Mesias Palsu, yaitu berupa Dewa Baal, anak Dewa Matahari.

Kepercayaan orang-orang Babilonia yang menyembah kepada "Ibu dan anak" (Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali), menyebar luas dari Babilonia ke berbagai bangsa di dunia dengan cara dan bentuk berbeda-beda, sesuai dengan bahasa di negara-negara tersebut. Di Mesir dewa-dewi tersebut bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius.

Di Roma bernama Fortuna dan Yupiter, juga di negara-negara lain seperti di China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemu¬jaan terhadap dewi Madona, jauh sebelum Yesus dilahirkan.

Pada abad ke 4 dan ke 5 Masehi, ketika dunia pagan Romawi menerima agama baru yang disebut "Kristen", mereka telah mempunyai kepercayaan dan kebiasaan pemujaan terhadap dewi Madonna jauh sebelum Kristen lahir.

Natal adalah acara ritual yang berasal dari Babilonia kuno yang saat itu puluhan abad yang lalu, belum mengenal agama yang benar, dan akhirnya terwariskan sampai sekarang ini. Di Mesir, jauh sebe¬lum Yesus dilahirkan, setiap tahun mereka merayakan kelahiran anak Dewi Isis (Dewi langit) yang mereka percaya lahir pada tanggal 25 Desember.

Para murid Yesus dan orang-orang Kristen yang hidup pada abad pertama, tidak pernah sekalipun mereka merayakan Natal sebagai hari kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember. Dalam Alkitab/Bible, tidak ditemukan walau satu ayat pun Tuhan/ Allah maupun Yesus yang memerintahkan untuk merayakan Natal, sebab perayaan setiap tanggal 25 Desember, adalah perayaan agama Paganis (penyembah berhala) yang dilestarikan oleh umat Kristiani.

Upacara Natal adalah berasal dari ajaran Semiramis istri Nimrod, yang kemudian di lestarikan oleh para penyembah berhala secara turun temurun hingga sekarang ini dengan wajah baru yang disebut Kristen.

READ MORE - Natal Bukanlah Upacara Gereja Yang Pertama

Read more...

Kiswah Pakaian Kebesaran Baitullah









Terdapat lima bgian kiswah yang menutupi Ka'bah. Empat bagian untuk menutupi empat sisi Ka`bah, termasuk bagian atasnya. Sedangkan satu bagian lagi untuk menutup bagian pintu. Ka'bah telah dipilih oleh Allah SWT sebagai Baitullah atau rumah Allah yang menjadi pusat kiblat bagi seluruh umat Islam di dunia untuk melakukan shalat lima waktu.

Itulah yang membuat Ka'bah begitu istimewa dan mulia di mata umat Islam. Sejak dulu, para kalifah memberikan Ka'bah pakaian untuk menghargai nilai-nilai keistimewaannya dan melindunginya dari berbagai macam kotoran serta debu.

Memelihara Ka'bah adalah tugas yang diperintahkan Allah SWT. Dalam Surat Al Baqarah ayat 125, Sang Khalik berfirman, Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: 'Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud'.

Menurut sejarah, Ka’bah sudah diberi kiswah sejak zaman Nabi Ismail AS, putra Nabi Ibrahim AS. Namun tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada zaman Nabi Ismail terbuat dari apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar As’ad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka'bah terbuat dari kain tenun.

















Kebijakan Raja Himyar untuk memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak zaman Ismail as diikuti oleh para penerusnya. Pada masa Qusay ibnu Kilab, salah seorang leluhur Nabi Muhammad yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Ka’bah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy.

Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah memerintahkan pembuatan kiswah dari kain yang berasal dari Yaman. Sedangkan empat khalifah penerus Nabi Muhammad yang termasuk dalam Khulafa al-Rasyidin memerintahkan pembuatan kiswah dari kain benang kapas.

Sementara itu, pada era Kekhalifahan Abbassiyah, Khalifah ke-4 al-Mahdi memerintahkan supaya kiswah dibuat dari kain sutra Khuz. Pada masa pemerintahannya, kiswah didatangkan dari Mesir dan Yaman.

Menurut catatan sejarah, kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur. Sedangkan pada masa Khalifah Ma’mun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.

Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun dari Dinasti Abbasiyah, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.


















Pada era keemasan Islam, , tanggung jawab pembuatan maupun pengadaan kiswah selalu dipikul oleh setiap khalifah yang sedang berkuasa di Hijaz, Arab Saudi pada setiap masanya. Meskipun kiswah selalu menjadi tanggung jawab para khalifah, beberapa raja di luar tanah Hijaz pernah menghadiahkan kiswah kepada pemerintah Hijaz.

Dulu, kiswah yang terbuat dari sutera hitam pernah didatangkan dari Mesir yang biayanya diambil dari kas Kerajaan Mesir. Tradisi pengiriman kiswah dari Mesir ini dimulai pada zaman Sultan Sulaiman yang memerintah mesir pada sekitar tahun 950-an H sampai masa pemerintahan Muhammad Ali Pasya sekitar akhir tahun 1920-an.

Setiap tahun, kiswah-kiswah indah yang dibuat di Mesir itu diantar ke Makkah melewati jalan darat menggunakan tandu indah yang disebut mahmal. Kiswah beserta hadiah-hadiah lain di dalam mahmal datang bersamaan dengan rombongan haji dari Mesir yang dikepalai oleh seorang amirul hajj.

Amirul hajj itu ditunjuk secara resmi oleh pemerintah Kerajaan Mesir. Dari Mesir, setelah upacara serah terima, mahmal yang dikawal tentara Mesir berangkat ke terusan Suez dengan kapal khusus hingga ke pelabuhan Jeddah. Setibanya di Hijaz, mahmal tersebut diarak dengan upacara sangat meriah menuju ke Mekkah.

Pengiriman kiswah dari Mesir pernah terlambat hingga awal bulan Dzulhijjah. Hal itu terjadi beberapa waktu setelah meletusnya Perang Dunia I. Keterlambatan pengiriman kiswah terjadi akibat suasana yang tidak aman dan kondusif akibat Perang Dunia I.

Melihat situasi yang kurang baik pada saat itu, Raja Ibnu Saud (pendiri Kerajaan Arab Saudi) mengambil keputusan untuk segera membuat kiswah sendiri mengingat pada tanggal 10 Dzulhijjah, kiswah lama harus diganti dengan kiswah yang baru. Usaha tersebut berhasil dengan pendirian perusahaan tenun yang terdapat di Kampung Jiyad, Mekkah.

Setelah Perang Dunia I berakhir, Raja Farouq I dari Mesir kembali mengirimkan kiswah ke tanah Hijaz. Namun melihat berbagai kondisi pada saat itu, pemerintah Kerajaan Arab Saudi dibawah Raja Abdul Aziz Bin Saud memutuskan untuk membuat pabrik kiswah sendiri pada 1931 di Makkah. Hingga akhirnya kiswah dibuat di Arab Saudi hingga saat ini.

Kain kiswah memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri. Pintalan-pintalan benang berwarna emas maupun perak bersatu padu merangkai goresan kalam Ilahi. kiswah menjadi sangat berharga, bukan hanya karena firman-firman Allah SWT yang suci yang dipintal pada kiswah, tetapi juga karena keindahan dan eksotisme pintalan benang berwarna emas dan perak pada permukaannya.

Perpaduan warna emas dan perak pada kaligrafi yang menghiasi kiswah tersebut memiliki nilai seni yang luar biasa. Sebab pembuatannya membutuhkan skill dan bakat yang luar biasa karena tidak semua orang mampu membuat seni seindah itu. Kiswah merupakan simbol kekuatan, kesederhanaan, juga keagungan.

Proses Pembuatan Kiswah

Kiswah pertama kali dibuat dibuat oleh seorang pengrajin bernama Adnan bin Ad dengan bahan baku kulit unta. Namun dalam perkembangannya, kiswah dibuat dari kain sutera. Untuk membuat sebuah kiswah memerlukan 670 kg bahan sutera atau sekitar 600 meter persegi kain sutera yang terdiri dari 47 potong kain. Masing-masing potongan tersebut berukuran panjang 14 meter dan lebar 95 cm.

















Ukuran itu sudah disesuaikan untuk menutupi bidang kubus Ka’bah pada keempat sisinya. Sedangkan untuk hiasan berupa pintalan emas diperlukan 120 kg emas dan beberapa puluh kg perak. Sejak 1931, kiswah untuk menutupi Ka’bah diproduksi di sebuah pabrik yang terletak di pinggir kota Mekkah, Arab Saudi. Dalam pabrik tersebut, pembuatan kiswah dilakukan secara modern dengan menggunakan mesin tenun modern. Di pabrik kiswah yang areanya seluas 10 hektare itu dipekerjakan sekitar 240 perajin kiswah.

Dalam pabrik tersebut, kiswah dibuat secara massal. Di sanalah semuanya disiapkan dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni dan perak hingga pada pemintalan kaligrafi dari benang emas maupun perak, lalu penjahitan akhir.

Meskipun kiswah tampak hitam jika dilihat dari luar, namun ternyata bagian dalam kiswah itu berwarna putih. Salah satu kalimat yang tertera dalam pintalan emas kiswah adalah kalimah syahadat, Allah Jalla Jalallah, La Ilaha Illallah, dan Muhammad Rasulullah . Surat Ali Imran: 96, Al-Baqarah :144, surat Al-fatihah, surat Al-Ikhlash terpintal indah dalam benang emas untuk menghiasi kiswah.

Kaligrafi yang digunakan untuk menghias kiswah terdiri dari ayat-ayat yang berhubungan dengan haji dan Ka’bah juga asma-asma Allah yang dimuliakan. Hiasan kaligrafi yang terbuat dari emas dan perak tampak berkilau indah saat terkena cahaya matahari. Karena menggunakan bahan baku dari benda-benda yang sangat berharga seperti sutera, emas, maupun perak, harga kiswah ini menjadi sangat mahal sekitar Rp 50 miliar.

Sehingga setiap tahun Jawatan Wakaf Kerajaan Arab Saudi harus menyediakan dana sekitar Rp 50 miliar untuk pembuatan kiswah. Menurut sejarah, tradisi penggantian kiswah yang dilakukan setiap tahunnya sudah ada sejak masa Khalifah Al-Mahdi yang merupakan penguasa Dinasti Abbasiyah ke-IV.

Tradisi tersebut bermula ketika, Khalifah al-Mahdi naik haji kemudian penjaga Ka’bah melapor kepadanya tentang kiswah yang pada saat itu sudah mulai rapuh dan dikhawatirkan akan jatuh. Mendengar laporan yang memprihatinkan itu, Al-Mahdi memerintahkan agar setiap tahun kiswah diganti.

Sejak saat itu, kiswah untuk Ka'bah selalu diganti setiap tahun pada musim haji dan menjadi sebuah tradisi yang harus selalu dijalankan. Dengan demikian tidak ada lagi kiswah yang kondisinya memprihatinkan. Pasalnya, setiap kiswah hanya memiliki masa pakai Ka'bah selama satu tahun. Bahkan, kiswah bekas dipakai Ka'bah ada yang dipotong-potong kemudian potongan tersebut dijual sebagai penghias rumah maupun kantor. [ www.suaramedia.com ]

READ MORE - Kiswah Pakaian Kebesaran Baitullah

Read more...

Kisah Pengacara Michael Jackson Masuk Islam

Kisah Pengacara Michael Jackson Masuk Islam.

Seorang miliyuner Amerika, Mark Shaffer mendeklarasikan keislamannya di Saudi Arabia pada hari Sabtu 17 Oktober 2009 yang lalu. Saat itu Mark sedang berwisata ke Saudi Arabia untuk mengunjungi beberapa kota terkenal seperti Riyadh, Abha dan Jeddah selama 10 hari.

Mark adalah seorang miliyuner terkenal dan pengacara kawakan di Los Angeles Amerika Serikat khususnya terkait hukum perdata. Kasus besar terakhir yang ditanganinya ialah terkait dengan penyanyi pop terkenal Amerika Michel Jackson sepekan sebelum ia meninggal.

Seorang guide wisata yang menemani Mark selama 10 hari di Saudi, Dhawi Ben Nashir menceritakan : Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di Saudi Mark mulai bertanya tentang Islam dan shalat. Sesampai di Saudi, Mark menginap di kota Riyadh selama dua hari. Selama di Riyadh Mark sangat concern pada Islam. Setelah itu kami pindah ke kota Najran, terus ke Abha dan Al-Ula. Di sana terlihat sekali ketertarikannya pada Islam, Khususnya saat kami keluar berwisata ke padang pasir. Mark kaget saat meilahat tiga pemuda Saudi yang mendampingi kami di Al-Ula, karena mereka shalat di atas bentangan padang pasir yang amat luas. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.


Setelah dua hari di Al-Ula, kami pergi ke Al-Juf. Sesampai di Al-Juf, Mark minta dicarikan buku-buku tentang Islam. Lalu saya berikan beberapa buku tentang Islam. Semua buku tersebut dibaca habis oleh Mark. Esok paginya, dia minta saya mengajarkannya shalat. Sayapun mengajarkannya shalat dan bagaimana cara berwudhuk. Lalu dia ikut shalat di samping saya.

Setelah shalat, Mark bercerita bahwa dia sekarang sangat tentram jiwanya. Sore Kamisnya, kami meninggalkan Al-Ula menuju kota Jeddah. Selama di perjalanan dia terlihat serius sekali membaca buku-buku tentag Islam. Pagi hari Jumatnya, kami mengunjungi kota tua Jeddah. Sebelum waktu sahalat Jumat masuk, kami kembali ke hotel dan saya minta izin padanya untuk shalat Jumat. Saat itu Mark berkata pada saya : Saya ingin ikut Anda shalat Jumat agar saya menyaksikannya seperti apa shalat Jumat itu. Lalu saya jawab : welcome…

Kamipun pergi ke sebuah masjid yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap di Jeddah. Karena agak terlambat, saya dan sebagian jamaah shalat di luar masjid karena jamaahnya yang mebludak. Terlihat Mark mengamati jamaah apalagi setelah selesai shalat Jumat, mereka salaing bersalam-salaman dengan wajah yang cerah dan gembira. Mark semakin kagung dengan pemandangan tersebut.

Setelah kami pulang ke hotel, tiba-tiba Marka menyampaikan kepada saya keinginannya untuk masuk Islam. Lalu sya katakan padanya : Silahakan Anda mandi terlebih dulu. Seteah dia mandi saya bimbing Mark mengucapkan dua kalimat syahadat kemudain dia shalata sunnah dua rakaat. Setelah itu, Mark mengungkapakan keinginannya untuk mengunjungi Masjid Haram di Makkah dan shalat di sana sebelum dia meninggalkan Saudi Arabia.

Untuk dapat mewujudkan keinginan beliau, kami pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al-Hamro’ Jeddah untuk mengambil bukti formal keislamannya agar dapat memasuki kota Mekkah dan Masjid Haram. Lalu Mark diberi sertifikat sementara masuk Islam. Karena beberapa anggota grup yang mengikuti kunjungan Mark ke Saudi Arabia sudah harus kembali ke Amerika sore Sabtunya, Al-Hamdullah, Ustadz Muhammad Turkistani bersedia mengantarkan Mark Ke tanah haram Mekkah pagi itu juga.

Terkait kunjungan Mark ke Masjid Haram, Ustazd Muhammad Turkistani menceritakan : setelah Mark medapatkan sertifikat Islam sementara kamipun langsung berangkat menuju Masjid Haram yang mulia. Ketiak dia menyaksikan Masjid Haram, tampak sekali wajahnya sangat cerah dan memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Ketika kami masuk ke dalam Masjid Haram dan menyaksikan langsung Ka’bah, kegembiraannya semakin bertambah. Demi Allah saya tidak bisa mengungkapkannya dengan lisan akan pemandangan tersebut. Setelah beliu tawaf mengelilingi Ka’bah yang mulia, kami shalat sunnah dan kemudian keluar dari Masjid Haram. Saya lihat Mark sngat berat untuk berpisah dengan Masjid Haram.

Setelah Mark Mengumumkan keislamannya, dia sempat mengungkapkan kebahagiaanya pada Koran Al-Riyadh sambil berkata : Saya tidak sanggup mengungkapkan perasaan saya saat ini. Akan tetapi, sekarang saya baru dilahirkan kembali dan kehidupan saya baru dimulai…Lalu dia menambahkan : Saya sangat bahagia. Kebahagiaan yang saya rasakan tidak sanggup saya ungkapkan pada Anda saat saya berkunjung ke Masjid Haram dan Ka’bah yang mulia.

Terkait pertanyaan langkah ke depan setelah ia masuk Islam, Mark menjelaskan : saya akan belajar lebih banyak tentag Islam, akan mendalami agama Allah ini (Islam) dan akan kembali lagi ke Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah Haji.

Terkait faktor pendoring masuk Islam, Mark menjelaskan : Sebelumnya saya sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat sedikit. Ketika saya berkunjung ke Saudi dan menyaksikan langsung kaum Muslimin di Saudi dan saya saksikan mereka menunaikan shalat, saya merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk mengenal lebih banyak lagi tentang Islam. Ketika saya membca informasi yang benar tentang Islam, sayapun yakin bahwa Islam adalah agama yang haq (benar).


Pagi Ahad 18 Okteber 2009, Mark meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Amerika. Sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi fomulir imigrasi, Mark mencantumkan agamanya adalah ISLAM.

Selamat jalan Mark… Semoga Allah memberkahi Anda dan menjadikan Anda seorang Muslim yang taat dan Da’i yang akan mengajak masyarakat Amerika untuk menikmati kebahagiaan Islam sebagaimana yang Anda rasakan, agar mereka, khusunya pemerintah Amerika tidak takut kepada Islam. Karena hanya Islamlah yang mampu menyelamatakan umat manusia di dunia dan di akhirat kelak...Amin [ eramuslim.com ]


READ MORE - Kisah Pengacara Michael Jackson Masuk Islam

Read more...

Gereja Kenya Larang Jilbab di Sekolah

Gereja Kenya Larang Jilbab di Sekolah -- Gereja Katolik Kenya berencana untuk melarang pengunaan jilbab bagi siswi sekolah di bawah naungannya. Gereja juga mengancam akan memulangkan ratusan siswi Muslim yang melanggar larangan tersebut.

Rencana kontroversi ini dimulai ketika Gereja Katolik menyatakan akan berkonsultasi dengan konstituen gereja-gereja untuk membuat aturan pelarangan siswi Muslim mengenakan jilbab dalam sekolah umum dan swasta yang disponsorinya.

Gereja Katolik di Kenya mensponsori berbagai lembaga-lembaga publik dan swasta, terutama di pedesaan yang tidak banyak kalangan yang dapat dengan mudah mengakses layanan tersebut.


Gereja Kenya Larang Jilbab di Sekolah


Perlawanan Kaum Muslim

Para pemimpin Muslim berupaya melakukan aksi untuk memaksa Gereja mencabut rencana pelarangan jilbab tersebut. "Ini merupakan masalah yang sangat serius yang tentu akan memicu bentrokan antara Muslim dan Kristen Kenya," kata Syekh Sharif Katamy, seorang pejabat di Supreme Council of Kenya Muslim (SUPKEM), kepada IOL, Selasa (3/11).

Kaum Muslim mengancam akan memboikot segala macam bentuk bisnis yang sepenuhnya dioperasikan oleh Gereja. "Kami berpikir tentang bagaimana melumpuhkan kegiatan Gereja termasuk memboikot institusi yang sepenuhnya dioperasikan oleh Gereja," kata Syekh Katamy.

"Kami berpikir untuk menghentikan segala urusan kami dengan Gereja. Kami juga mengajak seluruh umat Islam Kenya untuk menghentikan segala macam bentuk transaksi bisnis dengan Gereja," tegasnya.

Katamy juga mendesak para wali siswa Muslim agar mengeluarkan anak-anaknya dari lembaga-lembaga Gereja. "Kami mendesak agar siswa maupun mahasiswa Muslim untuk tidak belajar di sekolah-sekolah yang dimiliki oleh Gereja."

Menurut mereka, boikot merupakan alat yang dapat mereka andalkan untuk menentang sikap Gereja yang mereka anggap sebagai penistaan terhadap agama, etika modern, dan juga terhadap kebebasan beribadah di Kenya.

Jumlah penduduk Muslim di Kenya telah mencapai sekitar 30 persen dari total populasi Kenya, 36 juta. Sementara di Provinsi Timur Laut, jumlah Muslim mencapai 98 persen.

Syekh Mohamed Dor, seorang anggota parlemen yang juga cendekiawan Muslim, mengatakan, para pemimpin Islam akan segera bertemu untuk mengeluarkan fatwa mengenai rencana Gereja tersebut.

"Gereja telah mendorong kami ke dinding, kami akan mengeluarkan fatwa tentang ini," katanya. "Muslim semestinya tidak dihadapkan lagi dengan persoalan seperti ini."

Sementara itu, para wali siswa Muslim mengancam akan mengambil tindakan keras terhadap Gereja Katolik atas rencananya melarang penggunaan jilbab di lembaga-lembaga yang mereka sponsori.

"Agama bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng," kata Mustafa Salim, seorang wali siswa Muslim di kota pelabuhan Mombasa.

"Gereja Katolik telah mengambil langkah yang dapat mengganggu jalanya pendidikan anak-anak Muslim kami dan bahkan dapat memicu timbulnya masalah yang lebih besar," imbuhnya.

Salim lebih mempertimbangkan pentingnya agama dan pendidikan bagi anak perempuannya yang berusia 10 tahun, Sahra. Ia sudah sangat siap jika putrinya harus keluar dari sekolah yang disponsori Gereja.

"Saya yakin ini adalah masalah yang sensitif, tapi kalau gereja meneruskan rencana yang telah mempersulit posisi orangtua Muslim, kami mengatakan bahwa kami memiliki aturan sendiri, yaitu Islam dan kami dapat memindahkan anak-anak kami ke tempat lain yang lebih untuk pendidikan dana gama," tegas Salim.

"Kami akan berdiri membela agama kita jika jilbab dilarang. Kami tidak akan berpikir dua kali tentang itu," imbuhnya.

Pemerintah berusaha menengahi pertikaian yang makin memanas tersebut dan meminta pihak pimpinan Gereja agar membatalkan recana mereka dan mebiarkan siswi Muslim untuk terus memakai jilbab di sekolah. Namun pihak gereja justru menuntut pemerintah untuk menarik permintaan tersebut dan menunggu hasil konsultasi dan dialog lebih lanjut antara gereja dan Negara. [ republika.co.id ]


READ MORE - Gereja Kenya Larang Jilbab di Sekolah

Read more...

Belakangan, Banyak Pastor Ingkar

Belakangan, Banyak Pastor Ingkar. Masalah selibat imam Kristen merupakan isu yang menyebabkan publikasi sebuah dokumen Vatikan tertunda. Dokumen itu memungkinkan kelompok-kelompok Anglikan masuk dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik Roma.

Congregation of the Doctrine of Faith (Kongregasi Ajaran Iman) bermaksud mempublikasi konstitusi apostolik itu – sebuah dokumen untuk menetapkan atau mengesahkan undang-undang – demikian siaran pers Vatikan 20 Oktober lalu.

Namun, William Kardinal Levada, prefek kongregasi itu, mengatakan waktu itu bahwa sejumlah isu masih perlu dijelaskan sebelum dipublikasi. Menurut pertimbangannya, dokumen itu akan dipublikasi beberapa pekan mendatang.

Uskup Agung Augustine Di Noia, mantan Wakil Sekretaris CDF dan kini menjadi Sekretaris Kongregasi Ibadat Ilahi, mengatakan kepada UCA News setelah siaran pers itu bahwa “sejumlah persoalan kanonik masih perlu diselesaikan” sebelum dokumen itu dipublikasi.

Kini menjadi jelas bahwa salah satu masalah itu adalah selibat. Dalam situasi yang baru dengan dibentuknya “personal ordinates” yang sama seperti keuskupan, imam-imam Anglikan yang menikah dapat menjadi imam Katolik yang menikah.

Ada lebih dari 100 mantan “imam” Anglikan yang menikah di Gereja Katolik di Wales dan Inggris yang berfungsi sebagai imam Katolik.

Tetapi pertanyaan muncul, apa yang akan terjadi setelah “fase transisi,” setelah umat Anglikan disatukan ke dalam Gereja Katolik. Dapatkah para seminaris atau para pemuda dalam struktur kanonik yang baru menjadi imam-imam Katolik tanpa harus selibat? Dengan kata lain, dapatkah mereka menjadi imam yang menikah dalam Gereja Katolik?

Dalam siaran pers 20 Oktober, Kardinal Levada tampaknya tetap membiarkan kemungkinan ini terbuka. Dia bahkan mengusulkan agar masalah itu diselesaikan berdasarkan “kasus demi kasus.”

Sejak itu, beberapa uskup – mencakup beberapa yang berbicara dengan UCA News – mengungkapkan keprihatinan menyangkut hal ini. Mereka percaya, ini juga akan secepatnya membuka pintu bagi Gereja ritus Latin untuk memiliki imam yang menikah.

Kini tampak bahwa Paus Benediktus XVI juga tidak senang dengan kemungkinan ini, demikian berita 29 Oktober dalam harian berbahasa Italia, “Il Giornale.”

Sebuah berita berujudul (Imam Menikah: Paus Tidak Menyukai Kesepakatan dengan Anglikan itu -- Married priests: The Pope does not like the agreement with the Anglicans) yang menjadi headline di harian itu menyatakan, teks konstitusi apostolik itu akan diperiksa oleh Dewan Kepausan untuk Interpretasi Teks Legislatif. Hasilnya, tampaknya para seminaris dari “personal ordinariates” akan diharuskan menerima selibat, seperti seminaris ritus Latin jika mereka ingin menjadi imam Katolik Roma.

Pembahasan-pembahasan untuk ketetapan baru dari Paus bagi umat Anglikan untuk bersatu dengan Gereja Katolik telah berlangsung sedikitnya 18 bulan sebelum siaran pers itu diadakan.

Namun, CDF tidak berkonsultasi dengan satu konferensi waligereja yang terkait, walaupun anggota tiga konferensi yang berbeda -- Inggris dan Wales , serta Australia dan Amerika Serikat- dimintai pendapat, “namun hanya dalam kapasitas personal.”

Menjelang siaran pers 20 Oktober, Kardinal Levada terbang ke Inggris untuk berbicara dengan para uskup Katolik Inggris dan Wales tentang isi konstitusi apostolik itu. Dia juga berbicara dengan pemimpin utama Anglikan, Uskup Agung Williams dari Canterbury .

Kini menjadi nyata bahwa banyak orang di Vatikan dan -- menurut “Il Giornale” -- juga Paus Benediktus, lebih senang bahwa berita itu tidak dipublikasi sampai konstitusi apostolik itu diselesaikan.

Dokumen itu akan diterbitkan bersama dengan sebuah dokumen lain yang membeberkan aturan praktis implementasi konstitusi itu.

Sementara itu, teolog pembangkang asal Swiss, Pastor Hans Kung, menyerang Paus atas keputusannya berkenaan dengan umat Anglikan.

Dalam suatu artikel yang diterbitkan di harian Inggris “The Guardian” dan di harian Italia “La Repubblica,” Kung menuduh bahwa “tindakan Roma jelas merupakan suatu perubahan dramatis.”

Dia mengatakan, Roma menyimpang dari “strategi ekumene yang terbukti baik berupa dialog langsung dan pemahaman yang jujur” dan mengarahkan gereja ke “suatu bujukan yang tidak ekumenis terhadap para imam Anglikan, bahkan melonggarkan aturan selibat abad pertengahan untuk menarik mereka kembali ke Gereja Katolik Roma.”

Vatikan menjawab dengan halaman depan bagian editorial dalam hariannya “L’Osservatore Romano,” yang menyesali “kebohongan-kebohongan” dalam artikel tulisan Hans Kung dan menuduhnya memutarbalikkan dan salah menafsirkan tindakan Paus yang ingin “mengatur kembali persatuan yang diinginkan Kristus” sambil “mengakui perjalanan ekumene yang lama dan membosankan.”

Editorial Vatikan itu mengutuk artikel itu sebagai “suatu serangan membabi-buta terhadap Gereja Roma dan komitmen ekumene Gereja Roma yang tak teragu.”

Klarifikasi

Beberapa saat lalu, Vatikan meminta para seminaris dari komunitas-komunitas Anglikan yang bergabung dengan Gereja Katolik berdasarkan ketentuan baru dari Paus, akan dituntut mengikuti aturan selibat, kata pemimpin kantor doktrinal Vatikan.

Namun, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Kantor Pers Takhta Suci pada 31 Oktober, William Kardinal Levada, prefek Kongregasi Ajaran Iman, tetap membuka kemungkinan bahwa bisa saja ada kekecualian menyangkut ketentuan ini.

"Menyangkut para seminaris masa depan, masih murni spekulatif apakah ada kasus-kasus di mana dispensasi dari selibat bisa diajukan,” kata Kardinal itu.

Sebagaimana diketahui, larangan para pastor untuk berhubungan seks tidak terlepas dari ajaran agama Katolik, di mana pernikahan dianggap menghalangi hubungan pastor dengan Tuhan. Selain itu kekhawatiran akan nepotisme dan warisan jabatan di gereja, berabad-abad lamanya merupakan alasan penting memberlakukan selibat.

Selibat bukanlah doktrin kuno, baru pada abad pertengahan diberlakukan, kata wartawan sekaligus ahli gereja Adam Szostkiewics. Ia meramalkan, turunnya minat untuk menjadi pastor akan memancing perdebatan.

Belakangan, banyak pastor mengingkari hal itu. Kasus ini terjadi di Polandia di mana banyak pastor justru menikah. Seorang pastur bernama Jozef Strezynski (58 tahun) memutuskan keluar dari gereja karena berjumpa dengan seorang perempuan yang menarik hatinya. Ia memutuskan keluar setelah mengabdi di gereja selama 16 tahun.

"Sebagai pastor muda saya tadinya bahagia, namun lama-lama saya dilanda kesepian," ujar Strezynski. Sekarang, Strezynski sudah punya dua anak. [ hidayatullah.com ]

READ MORE - Belakangan, Banyak Pastor Ingkar

Read more...

Kisah Sandrina Malakiano Masuk Islam

Kisah Sandrina Malakiano Masuk Islam. Penikmat televisi di Tanah Air tentunya mengenal sosok perempuan satu ini. Alessandra Shinta Malakiano nama lengkap perempuan tersebut. Namun, publik lebih mengenalnya dengan nama Sandrina Malakiano. Nama yang kerap dipakainya pada saat tampil di layar kaca salah satu stasiun televisi di Indonesia untuk menyampaikan berita dan peristiwa seputar isu politik dan ekonomi nasional maupun mancanegara.

Lahir di Bangkok, Thailand, pada 24 November 1971, Sandrina dibesarkan di tengah keluarga dengan dua kultur yang berbeda. Ayahnya yang berasal dari Armenia, Italia, merupakan pemeluk Katolik Gregorian. Sementara ibunya yang berdarah Solo-Madura beragama Islam, yang kuat memegang budaya kejawen.

''Saya ini sangat beruntung karena dibesarkan dalam keluarga yang sangat berwarna. Karenanya, saya sering menyebut kehidupan dalam keluarga saya itu sebagai united colours of religion,'' ujarnya

Sandrina Malakiano, Dengan Islam Jadi Lebih Sabar dan Ikhlas

Kombinasi dua budaya yang berbeda dari kedua orang tuanya itu, melahirkan kebebasan memeluk agama apa pun bagi anak-anaknya, termasuk Sandrina. Ayah dan ibunya, kata dia, adalah orang tua yang moderat. Mereka menanamkan kepercayaan kepada Tuhan, tetapi membebaskan anak-anaknya untuk menemukan jalan kebenarannya masing-masing.''Menurut orang tua, yang namanya urusan agama itu sangat pribadi. Jadi, setiap orang pasti akan menemukan jalannya sendiri.''

Kendati sang ayah pemeluk Katolik Gregorian dan sang ibu seorang Muslimah, namun Sandrina serta kakak laki-lakinya justru mendapatkan pendidikan agama Kristen Protestan.

Pendidikan agama Kristen Protestan ini ia peroleh di sekolah. Kondisi tersebut, terangnya, dikarenakan pemeluk Katolik Gregorian di Indonesia sangat langka, sehingga gereja Gregorian hanya ada satu yaitu di Jakarta. Sementara, sejak dari bayi, ia tumbuh dan besar di Bali.

Kebebasan yang diberikan orang tuanya, diakui Sandrina, membuat dirinya bingung dan bimbang. Terlebih lagi ketika duduk di bangku SMP yang mulai ada proses pendewasaan diri dalam keseharian istri dari Eep Saefulloh Fatah ini.''Saya mulai bertanya-tanya, sebetulnya saya ini mengakar ke mana, kenapa Kristen Protestan. Sementara saya merasa bahwa tempat saya bukan di sana,'' paparnya.

Sandrina merasa bahwa alam, kultur, dan kehidupan keagamaan yang ada di sekitarnya, sangat sesuai dengan hati nuraninya. Karenanya, sejak saat itu, ia memutuskan untuk mencari tahu dan mempelajari agama yang banyak dianut oleh masyarakat Bali, Hindu.

Ketika duduk di bangku SMA, Sandrina mulai menemukan kecocokan dengan agama Hindu, baik secara emosional maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sekitar tahun 1990, saat baru duduk di perguruan tinggi, ia memutuskan untuk meninggalkan ajaran Kristen Protestan dan memeluk Hindu sebagai keyakinan barunya.

Ia menjalani agama barunya ini dengan sepenuh hati. Sandrina mempelajari Hindu dan kemudian mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara ritual, aturan, maupun kepercayaan. Bahkan, termasuk membuat album religi Hindu bersama beberapa orang temannya. Album religi Hindu bersifat sosial ini dibuat sekitar 1997.

''Saya menjalaninya dengan penuh totalitas. Karena, saya tidak percaya pada apa pun yang sifatnya setengah-setengah,'' tegas ibu dari Keysha Alea Malakiano Safinka (7 tahun) dan Kaskaya Alessa Malakiano Fatah (14 bulan). Namun, lagi-lagi kegelisahan yang sama muncul dalam dirinya. Ia kembali merasa bingung dan bimbang pada keyakinan Hindu yang dipeluknya. Kebingungan serta rasa bimbang tersebut kerap muncul manakala melihat sanak saudara dari keluarga ibunya melakukan shalat di rumahnya, saat mereka berkunjung ke Bali.

Bahkan, terkadang ia turut serta shalat bersama mereka. Shalatnya hanya dilakukan sebatas ikut-ikutan. Namun, justru hal itu yang memberikan perasaan tenang dalam dirinya seusai mendirikan shalat.

Dari situ, paparnya, timbul keinginan untuk mengetahui Islam lebih lanjut. ''Mungkin kesalahan saya pada waktu itu adalah bertanya kepada orang yang tidak tepat. Misalnya, saya ingin tahu mengenai Islam, tapi informasi yang saya dapatkan mengenai Islam itu kurang baik. Kecendrungan mereka mengatakan Islam itu menyulitkan, tidak fleksibel, tidak universal, dan merendahkan kaum perempuan,'' ujarnya.

Hijrah ke Jakarta

Pada 1998, ketika ia memutuskan hijrah ke Jakarta, Sandrina dihadapkan pada sebuah lingkungan yang berbeda dengan kehidupannya semasa di Pulau Dewata.Sewaktu di Bali, ia tinggal di sebuah lingkungan yang didominasi oleh pemeluk Hindu. Dan ketika di Jakarta, ia justru tinggal di lingkungan yang mayoritas pemeluk Islam.

Di Ibu Kota Indonesia inilah, Sandrina mendapat kesempatan yang lebih luas dalam melihat Islam secara lebih dekat. Ia pun banyak bertanya tentang agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini kepada orang-orang Islam, termasuk pada ulama. Karena itu, kegiatan kesehariannya lebih banyak mempelajari Islam.

Ia juga sempat bertanya pada Ibu Nur, seorang guru mengaji anak pemilik tempat kosnya, tentang Islam. ''Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Semakin hari ketertarikan saya pada Islam pun tumbuh. Keinginan untuk lebih banyak tahu mengenai Islam semakin menjadi, dan kerinduan untuk memeluk Islam pun semakin menggebu,'' paparnya.

Dan ketika ia mengungkapkan hal itu pada keluarga terdekatnya serta saudara dan teman-temannya, jelas Sandrina, mereka semua sangat mendukung. Dukungan inipun makin melecut semangat wanita berdarah Italia-Jawa-Madura ini untuk memperdalam Islam dan shalat. Setelah merasa mantap dengan ajaran Islam yang dipelajari selama lebih kurang dua tahun pengembaraannya, maka pada 2000, ia pun membulatkan tekad untuk memeluk agama Islam. Ia bersyahadat di Masjid Al-Azhar, Jakarta.

Rahmat dan hidayah Allah pun senantiasa mengalir padanya. Tak lama setelah memeluk Islam, ia merasa Allah SWT memberikan berbagai kemudahan dalam hidupnya. Salah satunya, ia diterima bekerja di Metro TV. Dari penghasilan yang didapatnya, akhirnya ia mampu tinggal dan kos di tempat yang lebih luas, dibandingkan dengan tempat kosnya terdahulu. Ia juga akhirnya bisa mencicil mobil untuk menunjang aktivitasnya.''Jadi, ke mana-mana tidak lagi naik bajaj, termasuk untuk pergi siaran di televisi. Dari hasil kerja di Metro TV, saya juga masih bisa membantu keuangan ibu di Bali,'' terangnya.

Ujian Bertubi-tubi

Allah SWT tidak akan membiarkan hamba-hambanya yang telah diberi hidayah atau kemuliaan itu dengan begitu saja. Dia akan menguji hambanya itu dengan berbagai macam cobaan. Dan cobaan atau ujian itu adalah ukuran bagi kesempurnaan iman seseorang.

''Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman', sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.'' (QS Al-Ankabut [29] : 2-3).

Kondisi ini sangat tepat disematkan pada Sandrina Malakiano. Setelah berbagai kemudahan ia dapatkan, Allah SWT mengujinya dengan berbagai persoalan yang datang silih berganti dalam kehidupannya. Salah satunya, ia gagal mempertahankan rumah tangga yang telah dibinanya selama kurang lebih empat tahun.

Namun di balik peristiwa ini, Allah justru memberinya sebuah hadiah terindah. Salah seorang kenalannya yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri, memberangkatkan dia untuk umrah--sebuah keinginan yang sudah lama ia idam-idamkan. ''Saya berangkat umrah tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Saya betul-betul berangkat dalam kondisi yang zero mind, itu terjadi tahun 2005,'' ujar Sandrina. Umrah kali pertama ini juga merupakan pertama kalinya ia pergi ke luar negeri.

Sepulang umrah pada 2005, ia mendapat kejutan-kejutan lain dari Allah. Allah memberinya seorang pendamping yang lebih saleh dan bisa menjadi imam serta pembimbing yang baik bagi dirinya dan keluarga. Selain itu, setahun berselang, berkat kemurahan seorang pemilik travel haji, ia kembali pergi ke luar negeri dengan tujuan menunaikan ibadah haji.

Namun, ujian belum berhenti. Sepulang dari menunaikan ibadah haji, ia berkomitmen untuk sepenuhnya menjalankan ajaran Islam. Ia memutuskan mengenakan busana Muslimah dan berjilbab. Namun, keputusannya ini dianggap banyak orang hanya untuk memenuhi keinginan suami. Ia tak ambil pusing dengan anggapan orang. Tekadnya sudah bulat untuk berbusana Muslimah. Dan sang suami pun terkejut ketika diberi tahu mengenai keputusannya ini.

''Suami khawatir bagaimana dengan pekerjaan saya sebagai penyiar berita di Metro TV nantinya setelah saya berjilbab. Dia memang sudah membayangkan pasti akan ada kesulitan di sana,'' tuturnya. Apa yang dikhawatirkan suaminya menjadi kenyataan. Manajemen tempatnya bekerja, tidak memperbolehkan dia melaksanakan siaran dengan menggunakan jilbab. Setelah menjalani proses diskusi dan berpikir selama tiga bulan lamanya, ia pun mantap memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia yang telah membesarkannya selama 15 tahun lebih. Pada Mei 2006, keputusan yang sulit pun akhirnya ia ambil. Sandrina resmi mundur dari Metro TV.

Keputusan ini berdampak pada kehidupan sehari-harinya. Ia benar-benar belum siap melepaskan diri dari televisi. Perasaan sedih, sering menderanya. Ia berusaha menghindari televisi. Selama lebih kurang setahun, baru ia bisa kembali menemukan kepercayaan diri sehingga bisa menonton TV. ''Setiap kali nonton televisi rasanya ngenes . Tetapi, alhamdulillah ada suami dan keluarga yang menguatkan saya waktu itu.''

Semua cobaan tersebut, ia maknai sebagai bentuk permintaan dan kasih sayang dari Sang Pencipta agar ia memperluas lahan kesabaran dan keikhlasannya. Termasuk ketika ibunya jatuh sakit pada 2007 dan harus menjalani perawatan di rumah sakit selama 47 hari hingga ajal menjemput. Dan selama 47 hari tersebut, ia terus berada di sisi sang ibu dan mendampinginya melawan penyakit yang menyerang pankreasnya. ''Seandainya saya masih bekerja, mungkin saya tak akan bisa mendampingi ibu yang telah melahirkan saya itu selama lebih dari 47 hari di rumah sakit,'' terangnya.

Cobaan berikutnya datang lagi manakala sang ibu wafat dan ia dihadapkan pada masalah tagihan rumah sakit sebesar Rp 680 juta yang harus segera dilunasi. Saat meninggalkan rumah sakit, ia baru membayar sepertiganya.ia sempat meragukan keputusan yang telah diberikan Allah dalam hidupnya.

Beruntung ia segera disadarkan. Saat itu yang bisa ia lakukan hanya pasrah dan berserah diri kepada Allah. Hingga akhirnya, Allah memberikan pertolongan kepadanya melalui tangan-tangan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Dalam waktu dua hari setelah pemakaman sang ibu, beberapa orang kenalannya dan ibunya mentransfer sejumlah uang dalam nominal yang cukup besar. Jika ditotal keseluruhan uang tersebut cukup untuk melunasi semua tagihan rumah sakit. ''Ini semua karena kasih sayang Allah. Saya menjadi makin lebih sabar dan ikhlas dalam menerima berbagai macam ujian,'' paparnya. [ republika.co.id ]

READ MORE - Kisah Sandrina Malakiano Masuk Islam

Read more...

Bukti Terjadinya Pemurtadan Korban Gempa Sumbar

Bukti Terjadinya Pemurtadan Korban Gempa Sumbar. Ditemukannya Injil di daerah Patamuan dan Gunung Tigo, Padang Alai, Kabupaten Padangpariaman, Selasa (27/10) lalu membuat warga sekitar resah. Seperti diberitakan sebelumnya, warga mengakui adanya unsur penyebaran agama kepada warga yang seratus persen beragama Islam oleh dua warga asing.

Belakangan, keduanya diidentifikasi bernama Rudi Gonzales dan Steve, warga California, Amerika Serikat. Seorang lagi bernama Doni, warga Jakarta yang bertindak sebagai guide kedua warga asing tersebut.

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar, Gusrizal Gazahar, mengatakan saat ini MUI Sumbar telah mendapatkan data dan fakta yang ada di lapangan.

"Jika beberapa waktu lalu hanya isu penyebaran agama, tetapi sekarang kita telah mendapatkan bukti. Selebaran dan Injil telah ada di tangan MUI sebagai barang bukti,"katanya kepada www.padang-today.com, Jumat (30/10).

">klik untuk melihat foto
Gusrizal Gazahar

Ia menyebutkan MUI Sumbar telah melakukan koordinasi dengan MUI Kabupaten/kota, khususnya di Kabupaten Padangpariaman untuk terus mencermati perkembangan pasca terdapatnya upaya memanfaatkan situasi kepada korban gempa bermotif agama tertentu.(*)


Pada kesempatan lain MUI Sumbar menyayangkan dilepasnya dua warga asing penyebar agama lain di Padangpariaman bernama Rudi Gonzales dan Steve, warga California, Amerika Serikat bersama Doni, warga Jakarta yang bertindak sebagai guide oleh tim Reskrim Polresta Padangpariaman, Rabu (28/10) sore disesalkan Gusrizal Gazahar, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar.

Menurutnya, warga asing tersebut telah melanggar SKB dan meresahkan masyarakat.

">klik untuk melihat foto
Ilustrasi, polisi
"Saya sangat menyayangkan pihak kepolisian melepasnya. Padahal, warga asing tersebut telah meresahkan masyarakat dengan penyebaran agama kepada warga yang sudah menganut agama,"katanya.

Ia menegaskan bahwa secara hukum, pihaknya bisa saja memprosesnya karena saat ini MUI Sumbar telah memiliki barang bukti penyebaran agama tersebut.

"Jangan sampai umat Islam berbuat lebih jauh lagi. Umat Islam sudah cukup sabar. Jangan coba-coba mengusik akidah umat Islam,"tegasnya.


">klik untuk melihat foto
MUI memperlihatkan selebaran
ajakan pindah agama di
Padangpariaman
Selanjutnya, Pasca terungkapnya penyebaran agama tertentu berkedok bantuan kemanusiaan di Nagari Patamuan dan Gunuang Tigo, Padang Alai, Kabupaten Padangpariaman, Selasa (27/10) lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar telah mengambil beberapa langkah. Ini dilakukan agar peristiwa serupa tidak terjadi, terutama di daerah yang menjadi korban gempa, satu bulan lalu.

Berdasarkan rapat koordinasi MUI Sumbar di Kabupaten Padangpariaman, beberapa langkah di ambil setelah mencermati beberapa fakta di lapangan yang meresahkan masyarakat, sebagaimana yang dijelaskan Ketua Komisi Fatwa MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar

Menurutnya, langkah-langkah yang telah di ambil oleh MUI Sumbar diantaranya adalah para ulama sepakat untuk menolak bantuan Israel melalui HMI Pusat beberapa waktu lalu.

Kemudian, puluhan ulama dan dai juga telah diterjunkan ke lapangan, terutama di daerah-daerah yang dinilai rawan terhadap pemurtadan pasca gempa.

"Kita memperkuat penyebaran ulama di daerah-daerah bencana, seperti di Kampung Dalam dan Padang Alai. Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) juga turut membantu kita,"ujarnya.

Sementara itu, pertemuan dengan pemerintah Propinsi Sumbar juga akan segera dilakukan MUI Sumbar. Gusrizal menyatakan kemungkinan pertemuan tersebut akan dilangsungkan Sabtu (31/10).

"Kemungkinan Sabtu ini kita akan mengadakan pertemuan dengan pemprov untuk mengambil langkah-langkah dan tindakan tegas agar kejadian ini jangan sampai terjadi lagi di Sumbar,"katanya.
[padang-today.com]

READ MORE - Bukti Terjadinya Pemurtadan Korban Gempa Sumbar

Read more...

MyPincono

My Life In My Love

Strategies For Blogger

Rantau Pincono © Layout By Hugo Meira.

TOPO