Awas Vatikan Mulai Kehilangan Arah Dan Hilang Kendali ... !!?

Awas Vatikan Mulai Kehilangan Arah Dan Hilang Kendali ... !!? – Paus Benediktus XVI pada hari Senin mengakui bahwa Gereja Katolik Roma tengah berada dalam “masa-masa sulit,” namun ia menolak memberikan komentar langsung mengenai skandal pelecehan seksual, karena kritikan tajam terus mengalir kepada Vatikan terkait skandal tersebut.


http://www.suaramedia.com/images/resized/images/stories/2berita/1_4_eropa/ap_-pendukung_paus_200_200.jpg
Awas Vatikan Mulai Kehilangan Arah Dan Hilang Kendali ... !!?

Menyusul terungkapnya skandal pedofilia seorang pastor, yang menutupi pekan paling suci dalam kalender umat Kristiani, sang paus membahas mengenai tanggung jawab khusus seorang pendeta terhadap masyarakat dalam doa Paskah yang diucapkan pada hari Senin.

Di hadapan tarusan orang jemaat di Castel Gandolfo, dekat Roma, Benediktus mengatakan: “Kehadiran dan kasih (Kristus) menyertai gereja dan memberikan dukungan pada masa-masa sulit.”

“Para pendeta, pelayan Kristus, memiliki tanggung jawab yang spesial,” kata Paus berusia 82 tahun tersebut, terlihat tenang dan menyuggingkan senyum. Ia menambahkan bahwa mereka (para pendeta) seharusnya menjadi “penyampai pesan kemenangan atas kejahatan dan kematian.”

Banyak jemaat yang berkerumun melambaikan spanduk berisi dukungan.

Namun, Benediktus tetap tidak membahas skandal pelecehan yang bahkan sudah menyangkut dirinya. Benediktus dituding melindungi sang pastor “predator” ketika ia masih menjadi Uskup Agung Munich.

Skandal pedofilia besar-besaran juga mengguncang gereja-gereja Irlandia, Austria, Swiss, Jerman, dan AS dalam beberapa hari terakhir.

Vatikan memilih menyalahkan media karena semakin membakar isu pasca terungkapnya skandal pedofilia tersebut.

Para uskup agung turut mendampungi paus dalam khotbah Paskah hari Minggu. Dekan Akademi Kardinal, Angelo Sodano, tidak seperti biasanya mengatakan: “Para pelayan Tuhan mendukung Anda” dan akan mengabaikan “ocehan tidak jelas.”

Pada hari Jumat, para korban perlakuan menyimpang para pendeta Katolik, bersama dengan sejumlah kelompok Yahudi, mengecam ucapan pengkhotbah pribadi Paus yang membandingkan kritikan terhadap dirinya dengan anti-Semitisme.

Kelompok korban yang berbasis di AS, Snap, mengatakan bahwa komentar Bapa Raniero Cantalamessa, pengkhotbah pribadi Paus Benediktus, merupakan ucapan yang “salah secara moral.”

Namun, para pakar mengatakan bahwa pendekatan Vatikan tersebut merupakan pertanda kelemahan. Mereka menambahkan bahwa Gereja harus bertanggung jawab atas skandal tersebut dan segera berbenah.

“Paus dan Gereja harus meninggalkan tempat persembunyian dan mempersiapkaan mental untuk menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan dalam krisis ini,” kata Giancarlo Zizola, seorang pengamat Vatikan di surat kabar La Republica, kepada kantor berita AFP.

Bukannya menyalahkan media dan pihak-pihak lain yang mengecam Gereja, seperti yang dilakukan Kardinal Sodano pada hari Minggu, “Gereja mestinya menyadari peranannya,” tambah Zizzola.

Seorang pakar Vatikan lainnya, Bruno Bartoloni, mengatakan bahwa komentar Cantalamessa mengenai anti-Semitisme pada hari Jumat Agung “memberikan kesan bahwa Vatikan telah sedikit kehilangan arah.”

Kritikan terhadap cara Vatikan menangani skandal tersebut terus berlanjut, presiden parlemen sosialis Spanyol, Jose Bono, menuding Vatikan memberikan respon yang “ceroboh.”

“Para petinggi Gereja telah bertindak sembrono dengan tidak mengatakan secara jelas bahwa nila setitik tidak merusak susu sebelanga,” kata Bono, yang merupakan penganut Katolik, kepada sebuah televisi Spanyol.

Dia juga mempertanyakan penegakan aturan selibat (tidak menikah dan tidak berhubungan intim) terhadap pastor.

Sementara itu, seorang mantan uskup Perancis mengatakan bahwa mengembalikan seorang pendeta pedofil Kanada yang sudah divonis bersalah ke keuskupan pada tahun 1980-an merupakan sebuah kesalahan, namun, ia menambahkan, “Ketika itu, memang begitulah cara gereja beroperasi.”

“Kami memberikan bantuan. Kami diminta untuk menampung seorang pastor yang tidak diinginkan dan kami setuju,” kata Jacques Gaillot, mantan uskup Evreux, sebelah barat Paris, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Le Parisien.

Pada tahun 1987, Galliot setuju menampung pastor Kanada, Denis Vadeboncoeur, dua tahun setelah dijatuhi hukuman 20 bulan penjara oleh sebuah pengadilan Kanada karena melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak. ( suaramedia.com )




My be this artikel's that you need...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar