Suasana Hypermar Sehari Sebelum Pembantaian Di Kapal Mavi Marmara

Rata Tengah

Suasana Hypermar Sehari Sebelum Pembantaian Di Kapal Mavi Marmara. Ini kisah nyata yang terjadi hanya dua hari sebelum peristiwa Senin berdarah dua pekan lalu ketika Israel membantai para relawan Armada Kebebasan ke Gaza.

Terjadi pada hari Sabtu. Seorang ayah berjalan-jalan dengan dua orang anaknya yang masih kecil, yang pertama akan masuk SD tahun ini, sedangkan yang kedua usianya 3,5 tahun. Karena haus akibat beberapa aktivitas yang cukup banyak, mereka masuk ke sebuah hypermart untuk mencari minuman.

Di hypermart seperti itu, tentulah segala minuman berjejer mulai dari jenis dan merek apapun. Ketika anak yang paling besar melihat suatu minuman yoghurt yang iklannya baru muncul di teve, ia menginginkan minuman itu. Terjadi percakapan di antara mereka bertiga, ayah dan dua anaknya itu.

Anak pertama : "Ayah, boleh nggak aku yogurt yang itu?"

Ayah : "Boleh."

Si ayah mengambilkan dua botol minuman yoghurt itu, dan memasukkannya ke dalam tas keranjang. Si anak pertama melihatnya.

Anak pertama : "Ayah, tapi ini ada tanda produk Yahudi?"

Ayah memeriksa : "Oh iya. Kamu ganti aja ya sama yang lainnya..."

Anak pertama mengerutkan keningnya. "Tapi ayah, sekali ini aja lah, cuma sekali ini. Aku liat temenku ada yang minum ini juga...."

Ayah : "Nggak deh. Pilih yang lain aja."

Anak kedua : "Ayah, Dede juga mau yang itu. Boleh ya Ayah?"

Ayah menggeleng : "Nggak... Yang lain aja...."

Anak pertama : "Ayah, boleh ya Ayah... sekaliiii ini aja, aku mau yang ini, setelah itu ga lagi...."

Ayah : "Nggak deh kayaknya...."

Anak pertama mulai makin merengek-rengek. Diikuti oleh anak kedua. Ayah dan kedua anak itu masih terus berdebat, hingga tanpa disadari oleh sang ayah, beberapa pengunjung hypermart menyaksikan mereka dalam diam, mungkin berpikir bahwa si ayah tega terhadap anaknya yang hanya menginginkan yoghurt yang harganya "hanya" Rp 5000 kurang itu.

Si anak pertama mulai menangis kecil, sedangkan si anak kedua sudah mulai ikut-ikutan.

Karena jengkel, si ayahnya berkata dengan suara cukup tegas. "Kalian tau nggak, ayah udah bilang berkali-kali, silakan ambil yoghurt yang lain, jangan yang ini. Kalau kalian tidak minum yoghurt yang ini, kalian tidak kenapa dan tidak bakalan mati. Tapi kalau kalian membeli yoghurt yang ini, ada anak-anak di Palestina sana yang seusia sama kalian yang bisa jadi dibunuh sama orang-orang Yahudi!"

Mungkin karena agak jengkel itu, perkataan si ayah cukup keras hingga bisa terdengar dengan jelas oleh para pengunjung lainnya yang menyaksikan mereka, yang masih juga tampaknya belum terperhatikan oleh sang ayah.

Kedua anaknya mulai melunak, setelah bengong sejenak. Tampaknya keluarga, bukan hanya si ayahnya saja, tapi juga kedua anak kecilnya itu, sudah terbiasa membiasakan tidak mengonsumsi produk-produk Yahudi yang memang bisa dihindari oleh mereka.

Anak pertama : "Ya udah deh, Ayah ... yang itu aja ya...."

Ayah, tersenyum : "Ya boleh...."

Anak kedua : "Iya ya Ayah, itu mah produk Yahudi, si teteh (kakak) mah maunya yang itu aja ya...."

Anak pertama :"Ya nggak lagi Dek,... inikan udah diganti,...."

Ayah, baru ngeh kalau jadi perhatian sekitarnya, dengan gelagapan, "Ya, ayo cepat-cepat ya.... Yuk kita pulang...."

Ayah dan kedua anaknya itu berlalu, sementara para pengunjung hypermart yang menyaksikan hal itu kembali melanjutkan acara belanjanya. Dua hari kemudian, para aktivis kemanusiaan Gaza dibunuh oleh Israel di lautan lepas. ( eramuslim.com )




My be this artikel's that you need...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar