Berita Heboh .... Gereja Di Skotlandia Merubah Kelamin Tuhan

http://static.republika.co.id/images/pastor_gereja_episkopal_skotlandia_100907090601.jpg


Berita Heboh .... Gereja Di Skotlandia Merubah Kelamin Tuhan -- Tuhan kembali menjadi buah bibir. Kali ini cerita tentang Tuhan berlangsung di tanah Skotlandia.



Para pendeta gereja Episkopal Skotlandia menghilangkan sifat maskulinitasNya dalam memberikan layanan kepada jamaahnya. Layanan baru itu tidak mencantumkan kata-kata berkonotasi pria seperti him (dia),dan lord (raja).


Perubahan ini telah mendapat restu uskup setempat dengan alasan Tuhan berposisi diatas gender manusia. Meski mendapat restu, sejumlah kalangan tradisional mengkritik perubahan tersebut dan menganggap kalangan gereja Episkopal tidak konsisten terhadap ajaran Injil.


Perubahan tersebut menggantikan perjanjian tahun 1982 yang mengesahkan referensi Allah sebagai pria. Sebagai penggantinya, gereja tersebut mempersiapkan komite liturgia yang melibatkan Ordo Dewan Sinode dan Dewan Uskup.


Dalam rapat sebelumnya, komite ini mempertanyakan mengapa Allah selalu disebut sebagai laki-laki. Sementara itu pada perjanjian sebelumnya referensi Allah mengganti semua kata yang menyimbolkan maskulinitas dan menetapkan dunia sebagai pengganti kata manusia.


Secara terpisah, tokoh agama senior menolak pergantian kata. Menurut Pendeta Stuart Hal , Guru Besar Teologi, Universitas St Andrewa, perubahan itu hanyalah kebenaran politik. Stuart menyatakan perubahan itu sejatinya tidak perlu. Dia meyakini penggunaan kata yang selama ini digunakan tidak merujuk pada satu gender.


"Mereka mencoba untuk meminimalkan referensi kepada Allah sebagai Bapa dan Kristus sebagai anak. Padahal, referensi itu diakui dalam perjanjian baru," ungkapnya seperti dikutip dailymail, Senin (6/9). Alasan lain, kata dia, pengubahan itu telah menggugat firman Allah sebagaimana yang telah dikutip secara langsung.


Pengubahan yang dilakukan memang memberikan pengertian baru yang jauh dari keyakinan selama ini. Sebagai contoh, Bapa, Anak dan Roh Kudus berubah menjadi Pencipta, Penebus dan Menguduskan.


"Perubahan bahasa memang membuat rumit," komentar anggota komite Liturgia gereja, Pendeta Darren McFarland. Dia menilai, tujuan dari perubahan itu sekiranya tidak membuat keraguan. Pihaknya hanya menginginkan penggunaan bahasa yang lebih sederhana tentang status gender Allah yang seharusnya berada diatas posisi manusia.


"Kami tidak mengtakan Allah tidak maskulin. Allah juga feminin. Masalahnya kami ingin coba menggunakan bahasa manusia untuk menggambarkan hal yang tidak mungkin terlukiskan," paparnya. Dia menambahkan, pihaknya juga ingin menghormati secara meluas deskripsi Allah dengan cara membantu Gereja dan jamaahnya. ( republika.co.id )



My be this artikel's that you need...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar