Amerika dan Narkoba Adalah Sumber Dana Utama Bagi Gerakan Densus 88 Antiteror

Amerika dan Narkoba Adalah Sumber Dana Utama Bagi Gerakan Densus 88 Antiteror – Orang yang paling berbahaya bagi para mujahidin Indonesia adalah Gories Mere. Kalau polisi punya daftar DPO di kalangan mujahidin yang dituduh teroris, maka sebaliknya orang nomor satu yang masuk daftar DPO mujahidin adalah Gories Mere.

Pernyataan itu disampaikan Munarman SH dalam kuliah umum ilmiah bertema “Memerangi Syariat Islam dengan Deradikalisasi” di Masjid Muhammad Ramadhan Bekasi, Ahad (9/10/2011).

Dalam forum kajian yang diselenggarakan oleh Majelis Ilmu Ar-Royyan itu, Munarman memetakan kekuatan polisi Kristen di tubuh Detaseman Khusus (Densus) 88 Antiteror yang sangat berperan dalam memerangi para aktivis Islam.

“Di dalam Densus itu sebenarnya ada unit yang diistimewakan betul daripada unit lainnya, yaitu unit Tim Anti Bom. Tim Anti Bom ini dikomandani langsung oleh Gories Mere. Kuncinya itu merekrut polisi-polisi Kristen dan polisi-polisi kafir lainnya,” papar Ketua An-Nashr Institute itu di hadapan seribuan jamaah.


http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/Azka_Tokoh/Gories-Mere-Wanted.jpg&h=235&w=355&zc=1
Gories Mere adalah DPO Paling Diburu Mujahidin!!


Uniknya, jelas Munarman, meski Tim Anti Bom ini memiliki tugas buru sergap yang boleh melakukan tembak di tempat, tapi unit Densus ini hanya bisa diakses oleh Gories Mere. “Tugasnya buru dan sergap. Jadi tugas yang nembak-nembak di lapangan itu langsung keluar komando polisinya dulu. Itu yang tidak bisa diakses oleh siapapun kecuali oleh Gories Mere yang memberikan laporannya kepada kedutaan Amerika,” jelas Munarman yang juga Ketua Front Pembela Islam (FPI) Pusat itu.

Fungsi dan kewenangan Tim Anti Bom ini, lanjut Munarman, jauh melebihi Densus sendiri. Fungsi Densus hanya menangani pembinaan dan proses hukum para aktivis Islam yang dicap teroris, setelah ditangkap, dijinakkan dan dianggap tidak membahayakan.

“Jadi Densus itu proses penyidikannya saja, tapi tim yang nembak, yang nyergap, yang ngintelin, membunuhi dan memonitor itu Tim Anti Bom,” ujarnya.

Biaya operasi Tim Anti Bom, ungkap Munarman, seratus persen ditanggung oleh Amerika Serikat dan biaya dari narkoba, karena pemerintah RI tidak mampu membiayai. “Biayanya ditanggung sepenuhnya oleh Amerika Serikat dan biaya-biaya dari narkoba. Dalam laporan deradikalisasi itu bahkan Gories Mere sendiri menyebutkan, ‘Karena pemerintah tidak menyediakan dana yang cukup untuk program deradikalisasi maka saya dan teman-teman polisi lain mencari sumber dana dari non-APBN,’” ungkapnya.

Menurut Munarman, dana non-APBN dalam operasi Tim Anti Bom itu salah satunya adalah penjualan narkoba hasil penangkapan di Badan Narkotika Nasional (BNN). “Kita tahu lah sumber dana non-APBN seperti apa. Di situlah sebenarnya permainan-permainan kenapa narkoba tidak hilang-hilang, ditangkap dijual kembali. Bahkan menurut teman-teman yang pernah menangani kasus narkoba, mereka itu dipelihara oleh Gories Mere dan kalau sudah tidak diperlukan lagi maka si Bandar Narkoba itu akan ditembak,” jelasnya.

Sedemikian bahayanya peran Gories Mere dalam memusuhi para mujahidin, sehingga Munarman mengibaratkan mantan Kadensus ini sebagai DPO nomor satu bagi mujahidin.

“Jadi permainan-permainan ini sudah biasa, dan otak utamanya proyek-proyek ini sekarang adalah Gories Mere seorang polisi Nashara. Saya kira kalau polisi punya daftar DPO maka seharusnya mujahidin juga punya daftar DPO. The Most Wanted of Mujahidin adalah Gories Mere,” pungkasnya. ( voa-islam.com )


My be this artikel's that you need...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar