Cara Cerdas Menghadapi Penginjil

Cara Cerdas Menghadapi Penginjil. Dari Suara Pembaca eramuslim.com saya menemukan suatu postingan pembaca yang bernama Hadi Rusli yangmenyampaikan bahwa Ada situs yang isinya menyerang Umat Islam dengan menjelek-jelekan agama kita, situs itu adalah :

http://indonesia.faithfreedom.org
http://www.salib.net

Saya menghimbau kepada setiap Umat Islam, agar mempelajari Islam secara sempurna,dan hati-hati kepada setiap berita-berita yg menyesatkan.dan kepada Era Muslim saya meminta tolong agar situs yang telah saya tulis itu agar di sikapi secara profesional. syukron jazakallah.

Sementara yang saya temukan situs-situs penghujat Islam sampai saat ini adalah (tentunya masih banyak lagi yang belum sempat ditelusuri )

http://trulyislam.blogspot.com
http://mengenal-islam.t35.com

Berdasarkan hal tersebut, berikut saya kutipkan salah satu dari banyak cara yang bisa dilakukan menyambut kedatangan para penginjil bodoh dirumah anda dan terbukti sangat ampuh karena hasil pengalaman salah sorang umat Budha di Malaysia

Sekitar enam bulan yang lalu terdapat ketukan di pintu dan sewaktu di buka saya menemukan dua orang penyebar injil disana. Saya mengetahui bahwa mereka adalah penyebar Injil dari senyuman bersahabat yang dibuat-buat diwajah mereka, yang dimiliki oleh setiap penginjil sewaktu mereka mencoba untuk mengkristenkan seseorang.

Ini adalah yang ketiga kalinya dalam sebulan para penyebar injil ini mengetuk pintu saya dan menganggu saya jadi saya memutuskan untuk memberikan mereka pelajaran. "Selamat Pagi" kata mereka. "Selamat Pagi" saya menjawabnya.

"Apakah kamu pernah mendengar tentang Tuhan Yesus Kristus?" mereka bertanya."Saya mengetahui sedikit tentang dia tetapi saya adalah seorang Buddhis. Saya tidak tertarik untuk mengetahui lebih banyak" saya berkata. Tetapi seperti para penginjil lainnya mereka tidak mengacuhkan harapan saya dan terus meneruskan membicarakan tentang kepercayaan mereka.

Jadi saya berkata "Saya merasa anda tidak berhak berbicara kepada saya tentang Yesus" Mereka sangat keheranan dan bertanya, "Mengapa Tidak?" "Karena" saya berkata "kamu tidak mempunyai keyakinan". "Keyakinan kami terhadap Yesus sekuat batu karang" mereka menambahkan. "Saya tidak merasa demikian" saya berkata sambil tersenyum.

"Mohon buka Alkitab Anda dan bacakan Injil Markus Pasal 16 ayat 16, 17 dan 18" saya berkata dan ketika mereka sedang membalik-balikkan halaman Alkitab ,saya dengan cepat kebelakang dan kembali lagi. Salah satu dari mereka menemukan bagian itu dan saya memintanya untuk membacakannya dengan lantang. "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-etan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Langsung dikutip langsung dari Alkitab Perjanjian Baru Injil Markus Pasal 16 ayat 16-18, penerbit Lembaga Alkitab Indonesia untuk The Gideons International)

ketika beliau menyelesaikannya, saya berkata "pada bagian itu Yesus berkata bahwa apabila kamu mempunyai keyakinan yang sebenarnya maka kamu dapat minum racun dan tidak mati." Saya mengeluarkan sebotol "Lankem" dari belakang punggung saya dan menyodorkannya, "Ini terdapat sedikit racun. Tunjukkanlah kepada saya keyakinan kamu dan saya akan mendengarkan apapun yang akan kamu katakan tentang Yesus"

Kamu seharusnya melihat mimik wajah mereka! Mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan. "Apa masalahnya?" saya bertanya. "Apakah keyakinan kamu tidak cukup kuat?" Mereka terdiam sejenak dan kemudian salah satu dari mereka berkata "Alkitab juga mengatakan bahwa kita tidak boleh mencoba Tuhan". "Saya tidak mencoba Tuhan" saya berkata. "Saya mencoba anda. Kamu suka untuk bersaksi untuk Yesus dan ini merupakan kesempaatanmu yang besar". Akhirnya satu dari mereka berkata,"Kami akan pergi dan menjumpai Pastor kami untuk menanyakan hal ini dan kembali untuk menjumpaimu. "Saya akan menunggumu saya berkata sewaktu mereka pergi dengan terburu-buru. Tentu mereka tidak pernah kembali lagi.

Disini sedikit saran. Simpan salinan refrensi dari Alkitab dan sediakan sebotol Lankem dan setiap kali para penginjil datang ke pintumu untuk menganggumu berikan mereka ujian ini. [Bodhi Buddhist Centre Indonesia]



My be this artikel's that you need...!!!



4 komentar:

  1. Mas En'Tong23 Agustus 2009 19.07

    Kepada Pemilik Situs,


    Saya mempunyai pertanyaan untuk anda :

    Betulkah apa kata orang bahwa,tuhan orang Islam adalah tuhan yang mempunyai "kekesalan" terhadap umatnya ??

    Bagaimana tidak kesal ?

    Tuhan yg Maha Tahu, dan Maha Mendengar malah dihadiahi dengan "Corong Spiker " oleh orang-orang Islam, seakan-akan tuhan mereka adalah tuli....

    Apakah betul ...tuhan orang Islam adalah tuli, sehingga dikala ber'doa mereka harus menggunakan " Corong " untuk memperbesar suara mereka ?

    Truss....

    Nih satu lagi.....

    Kenapa orang Islam berdoa dengan gerakan sujud, berbaris rapih, dimana sepertinya sosok di belakang anda harus " membaui " pantat anda ?

    Bagaimana jika " Pantat " tersebut bermasalah ?

    Ini bukan bercanda yah....

    Jangan menganggap saya sedang meledek umat Islam...

    Saya hanya penasaran saja....

    Apakah tidak ada posisi lain, bagi orang Islam dikala berdoa, selain bungkuk...dan....sujud....menyembah..." Pantat " di hadapan anda...???

    Kenapa tidak dibuat berbaris ke samping, tampa ada yang berada di depan atau di belakang pribadi terkait ?

    Mohon penjelasannya..

    Terima Kasih...

    BalasHapus
  2. saya sedikit jawab ya..

    yang mas Entong sebut sebagai "corong speaker" maksudnya panggilan adzan kah?

    begini mas, salah satu tugas sesama muslim adalah saling mengingatkan satu sama lain, ketika satu muslim berbuat salah, maka muslim yang lainnya harus mengingatkan dia atas kesalahannya itu. hal lain juga berlaku untuk beribadah, Adzan merupakan panggilan untuk melakukan shalat serta mengingatkan bahwa waktu shalat telah tiba. sebagai manusia, kadang kita perlu diingatkan kan? apa ada yang salah dengan ini?

    tuduhan Anda salah ketika mengatakan Tuhan islam itu tuli, karena adzan adalah panggilan untuk manusia, untuk segera bergegas melakukan sholat. bukan untuk Tuhan.

    masalah gerakan dalam sholat, (dan semua jenis ritual lainnya) semuanya sudah diatur mas sama Alloh, kami disini hanya patuh pada aturan yang sudah Alloh tetapkan.

    tidak ada yang "membaui" pantat disini, (bagi orang yang baru liat mungkin ya, tapi sebenarnya jika dilihat secara langsung maka saya yakin itu tidak benar), mas Entong bisa lihat sendiri secara langsung.

    kalo ada yang bermasalah dengan pantat (mungkin maksudnya kentut?). maka yang bersangkutan harus segera keluar barisan untuk segera mengambil wudhu kembali, dan barisan yang kosong tadi untuk segera diisi oleh makmum yang ada di belakangnya, dan seterusnya sehingga tidak ada satu celah-pun dari barisan sholat yang kosong.

    pertanyaan anda "kenapa tidak berbaris ke samping saja..?" jawabnya bisa, kalo jumlahnya sedikit, nah kalo jumlahnya membludak?

    dan kalo mas jeli melihat kitab injil mas, saya yakin anda pun akan sepakat dengan kami bagaimana Isa as pun melakukan ritual yang sama seperti yang kami lakukan. jawaban ini menanggapi pertanyaan anda kenapa harus sujud, kenapa harus bungkuk, dll.

    keselamatan serta kesejahteraan bagi mereka yang mengikuti petunjuk.

    terima-kasih.

    BalasHapus
  3. Heey...
    Yg diseru adzan bkan Tuhan..tp manusia!
    Jd Ya hrz pakai corong!
    Pakai c0r0ng saja anda kadang2 gk dEngar!apalage gak pake!
    S0al sujud niH..
    Otak anda saja brSujud!leat tUwh gambArnya..tidakkah anda malu?
    Anda waktU dikandungan ibu jg bersujud!
    Tp liHat skg!stlah lahir,ia menjadi penentang yg nyata!

    BalasHapus
  4. hahahahahhaa

    umat Budha di Malaysia yang baca alkitab versi indonesia?? hahahaha.. ada-ada saja sang penulis ini, penyebar berita bohong

    BalasHapus