Bulan Madu Jokowi Dan Pers Mulai Berakhir

Bulan Madu Jokowi Dan Pers Mulai Berakhir - Masa bulan madu Joko Widodo (Jokowi), Walikota Solo yang menjadi calon Gubernur Jakarta itu dengan pers agaknya telah berakhir. Televisi, koran, dan media internet mulai ramai memberitakan bahwa 30 Agustus lalu, Walikota Solo itu dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tuduhan melakukan tindak pidana korupsi.

Yang melaporkan Jokowi adalah TS3 (Tim Selamatkan Solo, Selamatkan Jakarta, Selamatkan Indonesia). ‘’Kami membawa dokumen berbundel-bundel dan sejumlah bukti tentang tindak pidana korupsi yang terjadi,’’ kata Ali Usman, Ketua TS3 kepada pers.

Menurut Ali, dugaan tindak pidana korupsi itu terjadi ketika APBD Surakarta tahun 2010 menganggarkan belanja hibah sebesar Rp 35 milyar untuk membantu 110.000 siswa di kota itu. Ternyata belakangan diketahui banyak di antara siswa yang dibantu itu terdaftar dengan nama ganda. Akibatnya negara dirugikan sekitar Rp 9 milyar. Jokowi selaku walikota adalah orang yang harus bertanggung jawab atas kasus ini. ‘’Jokowi melakukan pembiaran sehingga negara dirugikan Rp 9 milyar,’’ kata Ali Usman.


http://suara-islam.com/images/berita/jokowi-.jpg


Semua orang tahu, korupsi adalah perkara yang sangat dibenci masyarakat dan media. Karena itu mulai sekarang tampaknya masyarakat dan para wartawan mulai kritis kepada Jokowi yang selama ini menjadi media darling (kekasih pers).

Sebagai media darling, apa saja yang dilakukan Jokowi menjadi berita dan ditulis dari angle yang bagus-bagus. Tatkala Jokowi memilih Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, seorang keturunan Cina yang beragama Protestan, sebagai wakilnya, pers tak meributkannya.

Tak ada yang mempersoalkan bagaimana mungkin Jakarta yang berpenduduk 90 persen Muslim akan dipimpin Ahok. Padahal sebagai Wakil Gubernur, Ahok yang Kristen akan membawahkan langsung urusan zakat dan haji.

Malah pers turut mengembangkan wacana seoalah-olah profil dan masa lalu Ahok tak usah diusik-usik karena itu berbau SARA (sukuisme, agama, dan antar-golongan). SARA merupakan istilah dari zaman Orde Baru yang digunakan penguasa sebagai alasan untuk membungkem pers.

Kini berita pers seakan membentengi Ahok. Profilnya sebagai seorang keturunan Cina dan agamanya yang Kristen seakan tak boleh diinformasikan kepada para calon pemilih Jakarta.

Penyanyi dangdut nomor satu yang pernah digelari John Lenon Asia itu, Haji Rhoma Irama, sempat diperiksa Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) hanya karena berceramah di sebuah masjid. Dalam ceramah itu, Bang Haji mengutip ayat kitab suci Al-Quran yang menyuruh orang Islam untuk memilih pemimpin yang Islam.

Tak ada yang salah dengan ceramah itu. Tapi pemberitaan pers waktu itu seolah-olah Rhoma Irama telah melakukan SARA. Coba, orang menyebarkan ajaran agamanya bisa dituduh macam-macam. Untunglah Panwaslu kemudian melakukan klarifikasi: bahwa Rhoma Irama tak melakukan SARA.

BELI KUCING DALAM KARUNG

Kasus Haji Rhoma Irama memperlihatkan bagaimana banyak pers berpihak pada Jokowi-Ahok. Padahal adalah hak Bang Haji untuk menyampaikan ajaran agamanya di dalam masjid.

Juga adalah hak rakyat Jakarta sebagai pemilih untuk memperoleh informasi siapa saja para calon Gubernur Jakarta yang akan mereka pilih pada 20 September mendatang. Apa agama dan sukunya, berapa kekayaannya, berapa istri dan anaknya, serta berbagai informasi lain tentang para calon.

Jadi informasi tentang agama Ahok yang Kristen, sukunya yang China, misalnya, adalah informasi yang harus disebarkan kepada para calon pemilih, bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi sebagaimana terjadi selama ini.

Lihatlah kampanye Pilpres yang sedang berlangsung di negeri paling demokratis Amerika Serikat. Sebagai calon presiden dari Partai Republik, Mitt Romney, telah ditelanjangi. Kekayaannya, bisnisnya, keluarganya, termasuk agamanya, telah menjadi wacara publik. Itu adalah risiko seseorang yang ingin menjadi pejabat publik.

Karena itulah semua pemilih Amerika kini tahu bahwa Romney seorang penganut Mormon, yang oleh kalangan Kristen yang mayoritas tak diakui sebagai Kristen. Mormon dianggap sempalan.

Bila dilihat Romney seorang berkulit putih, kaya raya, ganteng, dan terdidik (dia lulusan Universitas Harvard), hampir pasti calon dari Partai Republik ini dengan mudah akan mengalahkan calon incumbent dari Partai Demokrat, Barack Obama, yang berkulit hitam. Tapi dari berbagai survei diketahui bahwa Obama lebih mengguli Romney. Apa lagi alasannya, kalau tidak karena agama Mormon yang dipeluk Romney.

Yang hendak dikatakan di sini, bila dalam Pilkada Gubernur Jakarta, terdengar keras tuduhan SARA untuk orang-orang yang mengungkap suku dan membeberkan agama Kristen yang dipeluk Ahok, itu adalah tindakan yang bertentangan dengan tradisi keterbukaan dalam demokrasi.

Syukurlah tampaknya kini pers mulai melihat Jokowi sebagai manusia biasa, yang bisa melakukan kesalahan, bisa merasa besar kepala, dan bisa melakukan korupsi ketika menjalankan jabatannya.

Apalagi lokomotif reformasi 1998 dan tokoh Muhammadiyah, Amin Rais, yang sama-sama berasal dari Solo seperti Jokowi, dengan galak mengungkap kepemimpinan Jokowi yang ternyata tidaklah istimewa. Terbukti setelah menjabat Walikota dalam dua priode, Solo yang dipimpinnya menjadi kota dengan kemiskinan yang melonjak.

Berbagai penghargaan yang diberikan kepada kota itu dari berbagai lembaga internasional – yang sebetulnya kredibilitasnya dipertanyakan – tampaknya hanya bagian dari permainan promosi. Apa artinya berbagai penghargaan yang diterima Jokowi kalau nyatanya penduduk miskin Solo kian bertambah?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa selama kepemimpinan Joko Widodo di Solo, angka kemiskinan justru kian meningkat. Misalnya, pada tahun 2007, angka kemiskinan di Solo 13,64 persen. Ternyata pada tahun berikutnya, 2008, angka itu meningkat menjadi 16,13 persen, 2009 (14,99 persen), 2010 (13,98 prsen), dan pada 2011 meningkat lagi menjadi 16 persen.

Ekonom Didik J Rachbini yang sempat maju dalam Pemilukada DKI Jakarta putaran pertama beberapa waktu lalu, mengungkapkan Kota Solo termasuk daerah berkategori miskin. "Kemiskinan di daerah tinggi sekali, Solo termasuk tinggi sekali. Jakarta kemiskinannya tinggal dua persen. Jakarta lebih baik dari Solo," ungkap Didik.

Dengan terbongkarnya data kemiskinan itu, citra Jokowi memang jadi babak-belur. Meningkatnya kemiskinan di Solo selama Jokowi menjadi walikota ternyata tak berbanding lurus dengan citra sukses yang dihembus-hembuskan selama ini.

Ada dugaan pencitraan di media massa yang begitu hebat, ada kaitannya dengan proyeksi kepemimpinan politik 2014. Jokowi dicitrakan sebagai tokoh plural (karena wakilnya di Solo mau pun sekarang di Pilkada Jakarta adalah Kristen dan Katolik) dan dipersiapkan menjadi calon Presiden dalam Pemilu 2014, dengan seorang Kristen sebagai Wapresnya.

Seperti diketahui, Jokowi sudah dua kali memilih wakil dari kalangan non-Islam. Saat maju menjadi Cagub DKI Jakarta Jokowi menggandeng Ahok yang beragama Kristen. Sebelumnya, sebagai Walikota Solo Jokowi menjadikan FX Rudyatmo yang beragama Katolik sebagai Wakil Walikota.

Dalam syariat Islam, tentu saja langkah Jokowi ini sangat bertentangan. Sebab Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam agar tak menjadikan orang kafir sebagai teman kepercayaan atau pemimpin.

Atas dasar itulah banyak dikalangan ulama maupun da’i yang tergerak untuk menolak pemimpin dari kalangan non-muslim. Namun ketika hal itu disampaikan dalam dakwah mereka justru itu dituduh melakukan SARA, sebagaimana pernah dituduhkan kepada Haji Rhoma Irama tadi.

Padahal seperti diungkapkan Sekjen Front Pembela Islam (FPI), K.H. Ahmad Shabri Lubis, Lc, apa yang disampaikan para da’i agar menolak pemimpin di luar Islam, adalah sikap yang benar.

“Masalah kepemimpinan ini kalau dari tinjauan syariat Islam tentu kiai-kiai itu benar. Jangankan tingkat gubernur atau presiden, tingkat RT saja tak boleh kok orang Islam mengangkat orang kafir jadi pemimpin,” katanya via telepon saat diwawancara voa-islam.com, Selasa (7/8/2012).

“Ini ayat Al Alqur’an yang berbicara. Kita sebagai umat yang taat kepada Allah harus mendahulukannya. Cuma ini masalahnya, sistem demokrasi yang dianut di Republik Indonesia memang mengarahkan semua orang punya hak sama. Ini yang bikin rancu masalahnya,” sambungnya.

Namun Kiai Shabri Lubis mengimbau agar para da’i bisa menggunakan strategi dakwah yang baik, untuk menghindari musuh-musuh Islam yang menyerang dengan tuduhan SARA.

Sang Kiai mengajak umat Islam melihat pengalaman pahit dalam realitas kepemimpinan gubernur yang non-Muslim di Kalimantan Tengah. Provinsi dengan penduduk mayoritas Muslim itu dipimpin Gubernur Teras Narang (PDI-P) yang Kristen. Dampaknya, menurut Kiai Shabri, para pejabat Muslim di daerah itu hampir seluruhnya diganti. Kemudian bantuan untuk masjid, madrasah, dan majelis ta’lim dipersulit.

“Mayoritas penduduk Kalimantan Tengah orang Islam. Namun dalam Pemilukada umat Islam berpecah-belah karena ada beberapa calon yang Islam, lalu hanya ada satu calon dari non-Islam, yaitu Teras Narang. Dia terpilih jadi Gubernur. Setelah Teras Narang jadi Gubernur, lihatlah apa yang terjadi di sana,’’ kata Shabri.

Lebih jauh jauh, Shabri mengungkapkan bahwa saat ini Provinsi Kalimantan Tengah menjadi pusat kristenisasi. “Pembangunan gereja setiap 1 km mentereng luar biasa. Akhirnya, Kalimantan Tengah itu jadi pusat kristenisasi se-Kalimantan. Dari situ guru-guru Muslim di kampung Muslim diganti dengan guru Kristen tapi untuk ngajarin orang Islam, itu yang terjadi. Saya tahu ini dari orang-orang Dayak Muslim yang memang terzalimi,” ungkapnya.

Puncaknya adalah saat terjadi insiden percobaan pembunuhan terhadap para tokoh FPI yang hendak berdakwah ke Kalimantan Tengah, Februari 2012. “Kemudian setelah program kristenisasi berjalan otomatis media massa membela mereka, sampai bisa menggalang kekuatan untuk mencekal, memboikot pengurus FPI dan umat Islam. Ini menjadi catatan, ketika di Kalimantan Tengah naik (Gubernur non-Muslim, red) dimanfaatkan kelompok agama tertentu untuk menyikat umat Islam,” kata Shabri.

Oleh sebab itu, menurut Ustadz Shabri, umat Islam di mana saja wajib waspada kalau orang Kristen mencoba menjadi penguasa di daerah berpenduduk Muslim (seperti di Jakarta ini), lantaran dampaknya yang begitu nyata merugikan umat Islam.

AMIEN RAIS TURUT BICARA

Siapa bilang Jokowi Waliko Solo terbaik? Justru selama Jokowi memimpin Solo, angka kemiskinan meningkat. Karena itulah Amien Rais, tokoh Reformasi 1998 itu menganggap sebutan walikota terbaik untuk Jokowi adalah pendapat yang menyesatkan.

Amien Rais mengingatkan warga Jakarta harus jeli melihat kelebihan dan kelemahan setiap calon, yaitu Joko Widodo dan Fauzi Bowo. Secara khusus, tokoh Partai Amanat Nasional tersebut mengomentari Joko Widodo. Menurutnya, selama Jokowi menjadi Wali Kota Solo, angka kemiskinan justru meningkat.

Oleh karenanya Amien Rais menilai gelar Walikota terbaik untuk Jokowi justru menyesatkan. "Jakarta itu kotanya kompleks, dan saya sudah pergi ke berbagai kota di Eropa. Di sana banyak kota yang lebih baik dan tertata daripada Kota Solo, dan tidak macet," katanya.

Namun, Amien juga mengatakan, sudah saatnya kesukuan dan primordialisme tidak dijadikan alasan untuk memilih pemimpin. Amien mengatakan juga bahwa meskipun dirinya tidak memiliki hak untuk mencoblos saat pilkada, dia berharap warga Jakarta cerdas dalam memilih.

"Sebagai wong Solo, saya juga merasa bangga ada orang Solo yang bisa menjadi pemimpin. Namun, sudah saatnya hal-hal kesukuan dan primordial tak menjadi alasan untuk memilih," kata Amien.

Kehebatan Jokowi memimpin Solo hanya ramai di media, kenyataannya tak seperti yang dirasakan rakyat Solo. Fabrikasi media yang begitu kuat menciptakan opini yang begitu gemerlap terhadap sosok Jokowi. Dia digambarkan seperti tukang sihir yang akan bisa menyulap Jakarta. Padahal semua itu hanya "pepesan kosong".

Ternyata sekarang Jokowi dilaporkan masyarakat Solo sendiri ke KPK. Menanggapi laporan itu, pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Amin Rais, menegaskan hendaknya temuan masyarakat mengenai dugaan korupsi oleh Walikota Solo Joko Widodo alias Jokowi yang dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera diproses secara hukum.

Diperlukan proses hukum yang serius penanganannya dari penegak hukum (KPK). Kata Amien, kalau memang ada bukti kuat bahwa Jokowi terlibat dalam korupsi di Solo, yang bersangkutan harus diproses secara hukum oleh KPK. "Andai kata betul ada temuan konkret maka segera diproses supaya kita jangan kecele," ujar Amien Rais di Jakarta (2/9/2012).

Menurut Amien, pasangan Jokowi-Ahok harus memahami bahwa laporan dugaan korupsi tentang mereka agar dijadikan semacam evaluasi dan pembuktian bahwa mereka bersih atau tidak. Dengan demikian publik bisa lebih tahu yang sebenarnya bagaimana sosok calon gubernur yang akan dipilihnya pada pilkada DKI putaran kedua nanti.

"Siapa pun punya kelemahan. Namun kelemahan itu ada yang bisa ditoleransi dan ada yang tak bisa ditoleransi (fatal). Nanti kalau saya terlalu kritis ada orang yang lantas menyimpulkan berlebihan, ya sudahlah," tandas Amien.

Sebagaimana diberitakan, Tim Selamatkan Solo, Selamatkan Jakarta, Selamatkan Indonesia (TS3), secara resmi telah melaporkan Walikota Solo Joko Widodo ke KPK.

Jokowi dinilai melakukan pembiaran terjadinya tindak pidana korupsi hingga menyebabkan kerugian negara Rp9.8238.185.000 yang dilakukan anak buahnya Kepala Disdikpora dan Kepala DPPKA Solo.

Semua dugaan korupsi yang dilakukan Jokowi harus dibuktikan oleh KPK, agar rakyat tak lagi terkecoh. Apakah Jokowi bersih atau kotor, semua harus dibuktikan. ( suara-islam.com )



My be this artikel's that you need...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar