Kebohongan Berita Tentang Islam Oleh Jurnalis Barat

Kebohongan Berita Tentang Islam Oleh Jurnalis Barat. Pemberitaan tentang Islam oleh media Australia mendapat kritikan. Sajian yang diberitakan oleh pers Australia tentang Islam sering tak sesuai kenyataan.

Menurut Presiden Perhimpunan Persahabatan Syria-Australia Queensland, Ghenwa A Kassrawi, pola pemberitaan jurnalis Barat, termasuk Australia, umumnya masih sangat bias dan cenderung manipulatif tentang Islam dan situasi Timur Tengah (Timteng). Hal ini karena realitas faktual sering berbeda dari data media yang disajikan ke publik.

Penilaian tentang pemberitaan media Barat yang cenderung manipulatif dan sensasional tentang Islam dan Arab Muslim di Timur Tengah itu mengemuka dalam dialog akademis

Dalam dialog akademis Sekolah Jurnalistik dan Komunikasi Universitas Queensland (SJC-UQ) bertajuk "Peliputan Islam: Representasi dan Realitas" yang berlangsung Kamis malam (10/9) di gedung Sir Liew Edwards UQ, St Lucia itu Kassrawi bahkan mengatakan, media Barat --termasuk Australia-- masih menyajikan berita yang menyesatkan tentang Islam dan Timur Tengah. "Kawasan Timur Tengah itu tidak semuanya tentang Islam dan Arab Muslim karena ada agama-agama selain Islam di sana. Terus, tidak semua orang Arab beragama Islam karena di sana ada juga penganut Kristen dan Yahudi. Banyak dari mereka itu hidup berdampingan secara harmonis," paparnya.

Namun pemberitaan media Barat tentang Islam dan situasi Timur Tengah selama ini, kilahnya, justru didominasi oleh pandangan egosentris yang sangat bias budaya. "Sepatutnya budaya bangsa tertentu diinterpretasi sesuai dengan sistem nilai mereka, bukan sistem nilai wartawan (Barat)," kata Kassrawi yang juga penyiar Radio 4EB FM Brisbane ini.

Dialog akademis yang dipandu Anthony Frangi itu juga menghadirkan wartawan Belanda yang pernah lama bertugas di Timur Tengah, Joris Luyendijk, wartawan lepas Australia, John Birmingham, dan dosen senior JC-UQ, Dr.John Harrison. Joris Luyendijk memaparkan pengalamannya meliput di sejumlah negara Timur Tengah, seperti Mesir, Siria, Irak, dan teritori Palestina.

Penulis buku laris di Belanda, "Fit to Print: Misrepresenting the Middle East" (Agustus 2009) ini mengeritik pola dan model pemberitaan banyak media cetak dan elektronika Barat yang sangat bias dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Dalam kasus terorisme misalnya, Luyendijk mengatakan, banyak media Barat menggambarkan bahwa publik Arab Muslim cenderung mendukung Usamah bin Ladin dan berniat menghancurkan Barat hanya karena tidak ada aksi demonstrasi rakyat menentang pendiri kelompok Alqaidah ini.

Menurut dia, realitas bahwa tidak adanya demonstrasi menentang Usamah bin Ladin di banyak negara Timur Tengah itu bukan disebabkan oleh "faktor budaya" melainkan "faktor struktur politik" yang tidak memudahkan rakyatnya untuk menggelar aksi unjuk rasa. Dosen senior JC-UQ, Dr John Harrison, pun mengakui bahwa media Barat cenderung memandang situasi Timur Tengah secara "monolitis". ant/rif



My be this artikel's that you need...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar